Terpaksa Menikah Tanpa Restu

Terpaksa Menikah Tanpa Restu
Tak Bebas


__ADS_3

Selesai mandi dan berganti baju kebanggan sebagai ibu rumah tangga (daster) aku segera berlalu keluar dari kamar, karena aku tidak betah berlama-lama di kamar kecuali waktunya tidur. Tak ada yang bisa aku kerjakan lagi di rumah, mau berkebun tapi aku baru selesai mandi.


Untuk menghilangkan jenuh, aku memilih untuk pergi dengan Voni kuda besi yang sudah hampir 2 tahun belakangan mengantarku kemana saja kalau ada keperluan mendesak dan mengharuskan aku pergi.


Akhirnya pilihan jatuh ke pusat perbelanjaan, kebetulan buah-buahan di kulkas sudah menipis. Dan sekalian saja aku membeli sayur dan kebutuhan dapur lainnya. Setidaknya aku tidak berdiam diri di rumah, dan pergiku keluar ada faedahnya pulang-pulang membawa hasil belanjaan untuk mengisi lemari pendingin.


Sementara itu,


...KEMAL POV...


Tokk ... tokk!


"Masuk!" sahutnya dari dalam.


"Selamat siang, Tuan!" sapaku pada sosok yang selalu ku hormati.


"Ada kabar apa?" tanyanya padaku menyingkirkan laptop di hadapannya.


"Distibutor sudah saya singkirkan, Tuan! Semoga tidak ada pengkhianat-pengkhianat yang lain," ujarku menjatuhkan badan di sofa meski Tuan Arsen belum mempersilakanku.


"Kau membunuhnya?"


"Haha ... tadinya mau begitu, tapi sepertinya malaikat masih enggan untuk mencabut nyawanya karena neraka yang pantas untuknya belum disiapkan," jawabku sekenanya.


"Sudah berapa kali aku bilang, jangan gunakan kekerasan. Ini negara hukum Kemal!" ujarnya masih dengan sikapnya yang dingin tapi akulah pria yang paling dingin.


"Tidak sengaja, Tuan! Tangan ini selalu gatal saat melihat orang yang bermuka dua,"


"Haih! Terserah kau sajalah, bagaimana pertemuan untuk besok lusa?"


"Aman, Tuan!"


...*A***RSEN POV**...


Pertemuan hari ini sudah berjalan dengan lancar, aku segera kembali ke ruang kerjaku. Mengecek kembali beberapa laporan yang baru saja di kirimkan para pekerja di lapangan. Tak lama kemudian, Kemal datang dengan wajah masam.


Dia adalah tangan kananku, jika ada masalah di lapangan dialah yang selalu aku minta untuk membereskannya. Emosinya susah di kontrol, siapapun yang bermasalah dengannya jangan harap bisa pulang dengan kondisi yang utuh.


"Minumlah," ku sodorkan minuman kaleng padanya dan ikut duduk di sofa.

__ADS_1


"Terimakasih, Tuan!" ucapnya.


"Hmm," sahutnya sembari meneguk minuman kaleng yang sudah ku buka.


"Bagaimana rencana Tuan untuk kedepannya?"


"Rencana apa? Ah itu, masih aku pikirkan. Kau tau, pagi tadi isteriku menangis karena tiba-tiba Madav menanyakan keberadaan Kakek dan Neneknya,"


Ya, tidak ada yang ku sembunyikan darinya. Meski dia belum menikah dan masih jomblo, cara berpikirnya tidak perlu aku ragukan. Dialah tempatku untuk berbagi pikiran, lebih banyak masalah pekerjaan daripada masalah keluarga karena memang dalam keluargaku tidak pernah ada masalah.


Tak sengaja aku mengecek keberadaan isteriku, ternyata dia sedang di supermarket. Apa yang sedang dia lakukan disana? Aku segera meminta Kemal untuk menghubungi pihak supermatket dan memintanya untuk mengawasinya.


"Kemal, isteriku sedang di luar. Tolong hubungi pihak supermarket untuk mengawasinya, kalau perlu suruh bantu isteriku," ponsel aku sodorkan padanya.


"Baik, Tuan!"


________


"Hallo, selamat siang. Dengan Ayu disini," ucapnya dari seberang sana.


"Saya Kemal, asisten Tuan Arsen. Saat ini Nyonya Tyas sedang di supermarket tolong awasi dia, dan bantu bawakan barang belanjaan kalau perlu. Kirimkan ID cctv padaku,"


Tak berapa lama kemudian, ponsel kembali berdering. Dari pihak supermarket mengirimkan ID cctv, tanpa menunggu lama Kemal segera mencopy ID dan membuka situs yang bisa membantunya untuk melihat rekaman cctv di sana.


"Silakan Tuan!"


"Thank's Kem!"


"Meski dengan pakaian yang sederhana, dia tetap cantik. Bagaimana aku tidak mencintainya setiap saat, dia sederhana dan pandai dalam mengurus keluarga," batin Tuan Arsen saat melihat Nyonya Tyas sedang memilih beberapa buah di depannya.


Sementara itu,


Supermarket lumayan ramai, Tyas berjalan memasuki supermarket dengan mendorong trolli yang tak terlalu besar. Karena tidak ada niat untuk membeli banyak barang hanya yang sudah menipis saja di dapur.


Tujuan utamanya adalah mencari buah-buahan untuk anak dan suaminya. Mereka wajib memakan buah sebelum makan, Tyas membeli berbagai macam buah yang berbeda untuk selang seling setiap harinya supaya anak dan suaminya tidak bosan.


Saat sedang memilih buah, tiba-tiba datang seorang petugas menghampirinya dengan senyumnya yang ramah. Tyas menghentikan aktivitasnya dan membalas senyumnya yang tak kalah manisnya.


"Selamat siang, Nyonya!" sapanya dengan ramah.

__ADS_1


"Siang, ada apa ini? Apa terjadi pencurian? Silakan cek saja tasku," ucapnya menyodorkan tas kecilnya.


"Ti-tidak Nyonya. Tapi saya di tugaskan Tuan Kemal atas perintah Tuan Arsen untuk membantu Nyonya disini,"


"Ah, tidak perlu. Aku tidak belanja banyak kok," ujar Tyas mencoba mengelak.


"Nanti aku bilang saja sudah di bantu kamu, biar aku sendiri saja ya. Lanjutkan saja pekerjaanmu," imbuhnya.


"Tidak bisa, Nyonya. Karena Tuan Arsen sudah memantau kami melalui cctv," ucapnya lagi.


"Aish! Baiklah. Maaf ya, kalau menyusahkanmu ... ." ucap Tyas merasa tidak enak karena perbuatan suaminya membuat petugas supermarket melakukan pekerjaan di luar kewajibannya.


Tyas hanya berjalan di depan troli, dan jika ingin membeli sayur atau apa petugas yang di belakang dengan sigap mengambilkannya. Tak sedikit pengunjung di supermarket mengalihkan perhatiannya pada Tyas.


Mungkin mereka berpikir, Tyas orang manja atau sedang hamil hingga mengharuskan petugas supermarket mengikutinya membawakan troli belanjaan di belakangnya. Sedikit risih memang, tapi mau gimana lagi.


Bukan hanya di supermarket saja, tapi di tempat lain kalau Tyas sedang pergi sendirian atau bersama putranya. Pasti tiba-tiba akan datang orang asing dan mengatakan suruhan dari suami atau asistennya yang berwajah dingin itu.


...TYAS POV...


Semua orang perhatiannya tertuju padaku, membuatku merasa tidak nyaman berlama-lama disini. Tapi aku tidak mungkin membatalkan belanja karena akan lebih menyusahkan petugas yang sudah membantuku disini. Kasihan dia.


"Ini gara-gara mas Arsen! Aku kan bisa jalan sendiri, dorong troli sendiri. Aishh!" batinku kesal sendiri pada suamiku yang mungkin sedang tertawa melihat wajahku yang di tekuk.


Akhirnya aku mempercepat semuanya, supaya aku bisa keluar dari tempat ini dan pulang ke rumah. Setelah semua aku dapatkan, kami segera ke kasir yang baru saja di buka untukku. Aku hanya berdiri di samping meja kasir melihat kasir dan temannya mengambil barang belanjaan dari trolli.


Setelah di total, aku segera membayar semuanya dan tak lupa memberikan tip untuk petugas yang sudah membantuku dan juga kasir meski tak seberapa. Lagi-lagi dia membantuku membawa barang belanjaan sampai parkiran motor dan mengangkatnya ke atas motor.


"Terimakasih ya," ucapku sebelum naik ke atas motor.


"Sama-sama Nyonya. Hati-hati di jalan, terimakasih sudah berbelanja disini," ucapnya dengan ramah.


Aku segera menyalakan motor dan pergi meninggalkan area parkir. Akhirnya aku bebas dari tatapan banyak orang di dalam sana.


Di Tempat lain,


Entah sudah berapa banyak air mata yang tumpah, sudah berapa banyak rasa sakit yang ia rasakan selama ini. Setiap ada kesempatan untuknya sendiri, ia langsung membuka ponselnya menggulir layar ponsel membuka gallery foto untuk melihat yang tersayang.


Ingin rasanya menyusul mereka, tapi entah dimana alamat tinggalnya sekarang. Bahkan komunikasi sudah terputus sejak lama, hanya berharap dan berharap yang bisa ia lakukan unuk saat ini. Berharap Tuhan sudi mempertemukan dirinya dengan yang disana.

__ADS_1


__ADS_2