
Akhirnya hari yang dinantikan telah tiba, pagi-pagi sekali Madav sudah siap dengan pakaian rapih dan tas kecil yang ia gendong. Hari ini ia akan ikut dengan Ayah dan Ibunya ke Ibukota, bersama Kemal, Amanda dan juga Dewi yang sekalian hendak kembali untuk melanjutkan rutinitasnya yang sudah ditinggalkan selama satu pekan lebih di Kalimantan.
Tak henti-hentinya Madav terus saja bernyanyi dengan Amanda sebagai pendengar sejatinya yang tak segan-segan memberikan tepuk tangan setiap Madav menyelesaikan satu judul lagu anak-anak yang diajarkan gurunya di Sekolah.
Arsen dan Tyas sangat bersyukur, putranya tidak rewel selama dalam perjalanan. Ini adalah pertama kalinya untuk Madav melakukan perjalanan jauh sejak ia dilahirkan. Karena dulu, Arsen tidak ada waktu untuk mengajak keluarga berlibur hingga sekarang, Perusahaan yang ia dirikan dari nol benar-benar menyita waktunya.
Untung saja Tyas bisa memahami dengan kesibukan suaminya, tidak pernah mengeluh sekalipun Arsen yang harus pergi keluar kota secara mendadak, tiba-tiba harus pergi saat weekend tiba, dan rencana yang sudah mereka siapkan sejak beberapa hari harus tiba-tiba gagal karena lagi-lagi masalah pekerjaan.
Tyas selalu memberikan semangat pada suaminya, bahkan dengan lembutnya Tyas selalu mengatakan 'masih ada waktu untuknya bisa mengajak mereka libur, mungkin Tuhan sudah menyiapkan satu waktu yang tepat untuk ia mengajak keluarganya yang tidak mungkin terlupakan' ... Dan inilah jawaban dari ucapan Tyas selama ini.
Rasanya masih seperti mimpi Arsen bisa mengajak anak dan istrinya pergi ke Ibukota, yang mana menjadi pengalaman yang bisa dikatakan tidak mengenakan tetapi banyak sekali kenangan di sana. Apalagi keluarga besarnya yang juga berada di Ibukota, meski mereka tidak ada komunikasi hingga saat ini.
Setibanya di Jakarta, Kemal, Amanda dan Dewi memilih untuk tidak ikut dengan Arsen, Tyas juga Madav yang hendak bertemu klien dari Ibukota. Mereka sudah di tunggu oleh kliennya, yaitu Pak Melviano atau yang akrab di panggil Vin.
"Kalau begitu, kami permisi dulu Tuan!" ujar Kemal pamit undur diri.
"Hmm, hati-hati! Kalau kau bingung ajak Dewi saja sebagai guide kalian," ujarnya.
"Tidak Tuan! Saya masih ingat dengan seluk beluk di Ibukota," jawabnya dengan senyum tipis di wajahnya.
"Paman tidak ikut? Mau kencan ya?" celetuk Madav dengan lantangnya. Yang mana membuat Dewi tertawa karena tingkah polosnya.
"Husst! Sayang, tidak boleh bicara seperti itu Nak!"
"Maaf Bu ... Maaf Paman. Aku kan tidak sengaja," ujarnya tanpa diminta Tyas, Madav meminta maaf kepada Kemal yang hanya diam saja tanpa ekspresi.
"Tidak apa! Tuan Kecil baik-baik ya, jaga Tuan dan Nyonya Besar!" ujarnya mengusap rambut Madav.
"Paman aku bukan Tuan Kecil!"
__ADS_1
"Hehehe! Maaf saya tidak sengaja Tuan!" ujar Kemal mengikuti ucapan Madav padanya.
"Kakak cantik hati-hati kalau dekat Paman, jangan mau di modusin!"
"Astaga! Anak kecil yang sudah dewasa sejak dini," celetuk Dewi tak percaya.
"Bukan aku yang mengajarkan ... sungguh!" ucap Arsen yang juga terkejut dengan ucapan Madav barusan.
"Apalagi aku Mas," sahut Tyas.
"Sa-saya juga tidak mengajarkannya Nyonya, Tuan!" imbuh Amanda yang sejak tadi diam saja.
"Huhh! Ya Tuhan," gumam Tyas.
Setelah kepergian Kemal, Amanda juga Dewi ... Arsen mengajak istrinya untuk menemui sahabat sekaligus rekan kerjanya yang mungkin sudah menunggu di sana. Madav digandeng kanan dan kirinya oleh Arsen dan Tyas supaya tangannya tidak gatal ingin menyentuh apapun yang ia lihat.
***
Gedung-gedung di Ibukota semakin banyak yang menjulang tinggi, jalanan juga terlihat banyak seklai perubahan. Seperti lebih lebar dan rapih, meski kebersihannya tidak terlalu banyak yang berubah namun ada kemajuan yang lebih baik dari apa yang ia lihat 5 tahun lalu sebelum pergi meninggalkan Ibukota.
Sesampainya di Ardhana's Group, tanpa istirahat Arsen langsung ikut dalam pertemuan yang diadakan. Meninggalkan Tyas dan Madav di ruang VIP yang sepertinya khusus disipakan untuk mereka.
"Ibu, sampai kapan kita di sini? Aku mau jalan-jalan," rengek Madav yang mulai tidak betah berlama-lama di sana.
"Sebentar Sayang, kita tunggu Ayah ya! Kamu mau lihat video apa? Sini Ibu carikan," ujarnya dengan sabar.
"Maaf Nyonya! Jika boleh, saya ingin mengajak Tuan Madav ke kantin Perusahaan," ujar Dewi asisten sekaligus sekretaris Vin.
"Apa tidak merepotkan?" tanya Tyas tidak enak hati.
__ADS_1
"Tidak apa Nyonya! Ini saya yang mengajaknya sendiri, kebetulan saya juga hendak mengantarkan laporan kepada rekan kerja saya," ujarnya menjelaskan.
"Oh begitu, baiklah! Saya titip Madav ya! Maaf kalau Mada suka iseng nanti,"
"Apakah Nyonya tidak apa-apa kami tinggal di sini?" tanyanya.
"Tidak apa,"
"Kalau begitu, saya permisi Nyonya!"
Selepas kepergian Madav dengan Dewi, Tyas memilih untuk memainkan ponselnya saja. Tidak lupa ia juga memberikan kabar kepada Vera jika mereka sudah sampai di Ibukota sejak dua jam yang lalu.
Tidak lupa, Tyas juga mencari informasi tentang keluarga baru dari Ibunya. Katanya, saudara tirinya baru saja mengalami kecelakaan tapi tidak tau kecelakaan apa yang di hadapinya karena Tyas tidak mendapatkan kabar secara rinci.
***
TYAS POV
Semoga ada waktu untukku bisa ziarah ke makam Ayah dan Andy, sudah lama aku tidak mengunjunginya. Aku rindu dengan Ayah juga adikku! Meksi aku bisa mengirimkan doa dimanapun. Apakah makam mereka terawat? Aku harap begitu.
Kota ini banyak sekali hal yang tidak bisa aku lupakan, trauma, sedih, dan bahagia bercampur menjadi satu. Jika tidak ada kota ini, mungkin aku juga tidak akan bisa seperti saat ini. Dimana aku bisa bertemu dengan Mas Arsen.
Laki-laki yang sudah berhasil mencuri perhatianku, menyadarkanku dari penyakit yang mungkin bisa menjadi lebih parah kedepannya. Dan ak ujuga tidka mungkin bisa bertemu dengan Vera juga Dewi.
Huhhh! Bisakah aku mengunjungi setiap tempat yang memberikan banyak sekali kenangan manis untukku? Aku ingin anakku tau, dimana dulu Ibunya belajar menjadi wanita yang tangguh meski tidak setangguh sekarang.
Apalagi tempat pertemuanku dengan Mas Arsen pertama kali, aku ingin tau bagaimana respon putraku yang kadang suka tidak di saring dulu saat bicara.
Dan Mommy, kami sudah berada di Ibukota. Kami ingin sekali bertemu dengan kalian, mencium kaki kalian dan meminta maaf atas kesalahan yang sudah kami lakukan pada kalian. Apalagi aku, yang sudah menjadi pemecah keluarga. Mas Arsen meninggalkan Ibukota ini karena aku.
__ADS_1
Adakah kesempatan untukku bersujud pada kalian?