Terpaksa Menikah Tanpa Restu

Terpaksa Menikah Tanpa Restu
Jaga Mata, Mas!


__ADS_3

Aku hanya takut, Daddy akan mengatakan yang tidak-tidak dan membuatmu terpukul sehingga kembali lagi seperti dulu Sayang. Aku tidak mau kejadian di beberapa tahun yang lalu terulang lagi. Sudah cukup kamu menderita dengan tekanan batinmu.


Aku juga sebenarnya ingin pulang menemui keluargaku. Tapi saat ini prioritasku adalah kalian. Tanggung jawabku adalah membahagiakan kalian, melindungi kalian dan menjadi benteng dari mereka yang hendak menyakiti kalian.


***


"Tuan! Apakah selama di Ibukota ada agenda lain?" tanya Kemal yang sudah siap dengan notebook di kedua tangannya.


"Belum ada ... mungkin mengunjungi makam Ayah mertua dan adik ipar. Pasti itu yang ditunggu-tunggu istriku, dia sudah lama tidak mengunjungi makam Ayah dan adiknya. Tolong jika ada waktu, sempatkan kami untuk ke sana ya ...!" pinta Tuan Arsen pada Kemal.


"Baik Tuan!"


"Ah ya! Jangan sampai Aura tau aku akan ke Ibukota, aku tidak ingin Aura mengganggu istri dan anakku!"


"Saya pastikan Aura tidak akan tau Tuan! Tapi saya juga tidak bisa berjanji untuk itu. Karena ... Aura juga bekerja di Hardana Group," ujar Kemal.


"Ya, kamu benar! Tapi semoga saja itu tidak terjadi ... ."


Tuan Arsen berlalu pergi menuju ruang pertemuan, dimana pegawai dan staff juga perwakilan dari masing-masing divisi sudah menunggunya di sana. Masih ada waktu 5 menit sebelum pertemuan di mulai, tapi mereka sudah datang 15 menit yang lalu karena tau Tuan Arsen adalah orang yang tepat waktu.


Semuanya pun menjadi lebih suka tepat waktu, termasuk apabila mengadakan pertemuan di luar dengan klien. Hampir semua klien memberinya julukan jika mereka yang berasal dari Madava's Furniture Company adalah yang paling tepat waktu.


"Sudah datang semua rupanya? Padahal waktu masih ada 5 menit lagi ...!" ujar Tuan Arsen.


Semua tersenyum dan saling menatap satu sama lain seolah menghitung jumlah peserta rapat yang sudah datang. Semua kursi tampak penuh tanpa tersisa.


"Kemal, berikan bonus setengah dari gaji mereka yang hari ini menjadi peserta rapat ya," ujar Tuan Arsen setengah berbisik.


"Baik Tuan!" jawab Kemal mengiyakan.


Rapat pun dimulai, diawali dengan kata sambutan dari notulen sekaligus pembawa acara rapat, dilanjutkan dengan pembahasan dari Tuan Arsen dan dari berbagai divisi lainnya yang sudah hadir, kemudian sesi tanya jawab dan masukan-masukan yang membangun dari beberapa pembahasan yang sudah mereka bawakan.


Acara berlangsung selama hampir 3 jam, perdebatan karena adu pendapat adalah hal yang sudah biasa untuk mereka. Namun bisa berakhir dengan senyuman dan tepuk tangan yang meriah untuk menyudahinya.

__ADS_1


"Akhirnya sampai juga di penghujung acara, terimakasih atas kehadirannya dalam rapat pagi hari ini. Harap segera lakukan evaluasi bagi siapa yang tadi mendapat kritik dan saran yang membangun ... sekali lagi saya selaku CEO di Madava'a Furniture Company mengucapkan terimakasih atas kerjasama dan kesetiaan kalian bersama kami selama hampir 5 tahun ini ...!"


Satu persatu mulai meninggalkan ruang rapat untuk kembali ke masing-masing divisi dan melanjutkan pekerjaannya. Melakukan evaluasi sesuai permintaan dari Tuan Arsen dan mengembangkan hasil yang sudah dianggap cukup dan lanjut ke tahap selanjutnya.


"Kemal, setelah ini apakah ada pertemuan lagi?" tanya Tuan Arsen.


"Tidak ada Tuan!"


"Kalau begitu kita ke sekolah Madav, hari ini dia pulang lebih cepat. Kita ajak dia ke sini, agar Ibunya bisa fokus menyelesaikan pekerjaannya dan bisa sedikit santai menikmati waktu bersama Dewi,"


"Baik Tuan, silahkan!" ujar Kemal.


***


Syuting masih berlangsung, entah sampai kapan akan selesai. Saat ini baru sampai di take 3, masih ada 2 take lagi. Tyas meminta Amanda untuk menghubungi Kemal, menanyakan apakah mereka bisa menjemput Madav atau tidak karena sepertinya mereka akan sampai siang di sana.


"Amanda, tolong hubungi Kemal. Tanyakan apakah mereka bisa menjemput Madav atau tidak ...!" ujar Tyas.


"Baik Nyonya!" jawab Amanda.


"Lumayan Wi, enakan di rumah jadi Ibu Rumah Tangga. Heheh!" jawabnya terkekeh.


"Kamu ini, tapi kau salute sama kamu Yas. Kamu ternyata multitalenta ya ... bisa mengurus semuanya, dari rumah, anak, suami, semuanya kamu kerjakan sendiri ...!"


"Kalau urusan anak dan suami harus aku lah Wi, tidak mungkin kan aku menyerahkan suami dan anakku pada orang lain ...!" jawabnya.


"Iya juga sih! Tapi kamu keren, serius deh!" pujinya lagi.


"Terimakasih Wi,"


"Nyonya, Tuan ingin berbicara ...!" ujar Amanda.


"Oh, baiklah! Mana?" ujar Tyas.

__ADS_1


• Obrolan di Telepon ... .


"Iya Mas? Kamu bisa jemput Madav kan? Aku masih ada dua take lagi nih!" ujar Tyas seraya memijit alisnya yang tidak sakit.


"Iya, kami sedang dalam perjalanan menuju sekolah Madav, setelah ini kami akan mengajaknya untuk makan siang di luar ...! Kamu cantik sekali hari ini, aku sampai pangling tadi ...!" ujar Tuan Arsen memuji istrinya.


"Terus biasanya kau kurang cantik ya Mas?" ujar Tyas.


"Tidak juga, kamu selalu cantik. Tapi hari ini lebih cantik, beda dari biasanya. Ternyata istriku pandai juga ya di depan layar kaca,"


"Itu kan sesuai dengan prosedur Mas, lagian masih enakan di rumah ah!"


"Aish! Mana ada istri seorang Arsen bisa berdiam diri di rumah! Apalagi saat ini sudah banyak orang yang melihatmu, siap-siap saja banyak yang memintamu untuk dijadikan role model mereka, atau bahkan jadi brand ambassador Sayang!" ujarnya.


"Emang aku boleh kalau sering muncul di layar kaca Mas?" tanya Tyas dengan lembut.


"Kenapa tidak Sayang! Selama kamu nyaman dan itu tidak merugikan kita ya tidak apa-apa ...!"


"Aish! Tidak mau, nanti siapa yang mau urusin kamu sama Madav, aku tidak ingin kehilangan momen menjadi istri dan Ibu untuk anakku ...!" ujar Tyas dengan bibir yang sedikit dimajukan, padahal Tuan Arsen tidak akan bisa melihat ekspresi wajahnya saat itu.


"Heheh! Sudah ku duga pasti kamu tidak akan mau Sayang, makanya bilang iya ... karena aku sudah tau akan seperti apa jawabanmu. Kamu memang istri dan Ibu yang baik untuk keluarga, tentu saja kami bangga memilikimu,"


"Ah kamu ini, membuatku GR saja. Eum ... sudah dulu ya Mas, acara mau segera di mulai, have fun kalian ... ingat Madav jangan terlalu banyak minum es!" ujar Tyas sebelum mengakhiri teleponnya.


"Iya Sayang, lalu aku tidak boleh apa? Masa iya Madav saja yang kamu perhatikan," ujarnya dengan manja.


"Kamu ... Eum ... Apa ya? Ah ya ... kamu jaga mata saja Mas, jangan lihat wanita lain, apalagi ada Madav ... jangan sampai putra kita mencontoh hal-hal yang tidak baik darimu. Ingat, orangtua adalah guru pertama buat anak ...!" ujar Tyas.


"Astaga! Tidak adakah yang lebih romantis Sayang?" ujarnya.


"Aish! Sudah dulu ya Mas, aku harus segera ke sana. Aku menyayangimu Mas," ucap Tyas dengan wajah yang bersemu kemerahan melawan rasa gengsinya.


"Aku juga menyayangimu, love you ...!"

__ADS_1


Tyas tidak membalasnya karena telepon sudah langsung dimatikan saat melihat isyarat dari kru yang memintanya untuk segera maju ke depan sana.


__ADS_2