Terpaksa Menikah Tanpa Restu

Terpaksa Menikah Tanpa Restu
Perlukah ART?


__ADS_3

Dan aku juga tau, Daddy masih belum bisa memaafkanku yang keras kepala. Mengambil keputusan yang jelas-jelas membuatnya murka, namun aku tak pernah berhenti berharap semoga suatu saat nanti Tuhan memberikan kesempatan untukku membawa isteri dan anakku pulang ke rumah menemui mereka.


_______________


Untuk menebus kesalahanku pada keluarga kecilku, aku akan selalu melakukan yang terbaik untuk mereka berdua. Menyeberangi laut sekalipun akan aku lakukan demi membuat keduanya bahagia.


Dan sejauh ini, mereka tidak pernah meminta yang macam-macam. Hanya permintaan sederhana, seperti saat ini putraku hanya meminta aku untuk pulang dan menemaninya main. Begitupun dengan Tyas, dia tak pernah menuntut lebih hanya ingin bersama anak dan suaminya saja di rumah.


Sementara itu ....


Mobil dan driver dari kantor telah tiba, Kemal segera bergegas masuk ke dalam mobil dan meminta driver untuk segera kembali ke kantor. Masih ada pekerjaan yang harus ia lakukan di kantor, meski Tuan Arsen tak pernah menuntutnya untuk menyelesaikan dengan cepat.


Selain itu, Kemal orangnya tidak suka menunda pekerjaan. Cepat selesai dan tidak ada kesalahan adalah target utamanya dalam bekerja. Dia tidak suka basa-basi, apalagi jika bertemu dengan orang yang bermuka dua.


Setibanya di lobby perusahaan, Kemal segera berlalu menuju ruang kerjanya. Masih ada pekerjaan lapangan yang harus dia cek, dan benar saja saat layar monitor di hadapannya menyala beberapa notifikasi email masuk dari orang lapangan.


"Lula ... bawakan berkas laporan yang kamu print tadi siang!"


"Baik, Tuan!" sahutnya dari ujung telepon.


Tokk ... tokk ... tokk!


"Permisi Tuan," ujarnya setelah membuka pintu.


"Masuk,"


"Silakan Tuan,"


"Hmm, boleh aku tau schedule Tuan Arsen untuk besok?"


"Besok jam 10, ada pertemuan dengan Nona Aura dari Ardhana's Group di Pellangi Resto," jelasnya.

__ADS_1


"Hmm, setelah itu?"


"Meeting dengan para divisi jam 15.00 sampai dengan selesai, Tuan!"


"Ok, kau boleh pergi sekarang,"


"Terimakasih Tuan!" segera pergi kembali ke meja kerjanya.


"Astaga! Aku lupa kalau besok ada pertemuan dengan wanita itu, semoga saja mood Tuan Arsen tidak kacau karena aku lupa memberitahunya," batinnya menyandarkan badannta pada kursi kerja.


Aura adalah salah satu investor terbesar dari *A**rdhana's Group*, dan semua orang tau jika Aura adalah sosok wanita modis yang selalu cetar dalam berpenampilan. Selain itu dia juga menaruh rasa pada Tuan Arsen dan seringkali menggodanya tanpa mengenal waktu dan tempat.


Bahkan dia tau, jika Tuan Arsen sudah 5 tahun menikah dan memiliki seorang anak. Namun status tak menjadi masalah untuknya, semakin di jauhi maka ia akan semakin mendekatinya tanpa merasa malu.


...KEMAL POV...


"Semoga saja wanita ulat itu tidak membuat masalah," gumamku kembali melanjutkan membuka berkas yang baru saja di bawakan Lula.


Mungkin karena sudah cukup lama bekerja dengan Tuan Arsen membuat otakku sedikit pintar baik dalam materi maupun bekerja secara langsung. Untuk urusan wanita, aku angkat tangan.


Bagiku pekerjaanku lebih penting, mengabdi pada Tuan Arsen dan keluarga kecilnya adalah kewajiban yang harus aku lakukan. Aku belum ingin memikirkan soal wanita, karena konsentrasiku pasti akan terpecah. Apalagi kalau lagi apes ketemu sama wanita yang hobby shopping, bukan masalah uangnya tapi waktu yang akan terbuang banyak untuk menemaninya keliling mall.


Haiis! Membayangkan saja sudah membuatku tergidik duluan, bagaimana kalau itu terjadi padaku. Tidak ... tidak ... aku akan membentengi diriku pada makhluk yang di sebut wanita, gadis atau apalah itu.


Tak terasa, waktu terus berjalan. Tak sengaja aku menoleh pada jam kecil di atas meja, waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Astaga! Apa yang aku pikirkan selama itu? Setelah aku cek kembali pekerjaan selesai tak ada yang terlewat satupun.


Okey! waktunya aku pulang, biar bagian keamanan saja yang menginap di kantor. Dan badanku mulai terasa sedikit pegal setelah bergelut dengan cecunguk tak tau diri siang tadi. Setelah memastikan tidak ada barang tertinggal aku segera pergi meninggalkan ruang kerjaku.


Di sisi lain ....


Selesai makan malam, Tyas dan Tuan Arsen menemani putranya bermain di ruang mainnya. Mereka duduk di depan LCD berukuran lumayan besar, dengan Madav yang masih asyik bermain. Meski begitu, sesekali mereka terus melirik ke arah Madav memastikan anak kecil itu masih di ruangan yang sama dengannya.

__ADS_1


"Sayang, kamu yakin tidak mau mencari asisten rumah tangga? Atau setidaknya orang yang bisa menemanimu di rumah selagi anak kecil itu sekolah," tanyanya, kedua tangannya melingkar di pinggang isterinya yang bersandar di bahu kirinya yang kokoh.


"Hmm ... gak usah Mas, aku masih bisa kok kerjain semuanya sendiri. Lagian jaman sekarang tuh susah cari orang yang bisa di percaya, aku takut kayak yang di berita-berita di tv. Seorang art menghabisi nyawa majikan, hih! ngeri ... ." sahutnya tergidik membayangkan berita yang baru di lihatnya kemarin siang.


"Kamu gak percaya sama Kemal?"


"Maksud Mas, Kemal jadi art kita?" ujarnya penuh tanda tanya.


"Heh? No! aku masih butuh tenaganya. Maksudku dia yang akan mencarikannya untukmu," ujarnya lagi.


"Aku pikirin dulu ya Mas, aku timbang-timbang dulu. Makasih ya udah perhatian sama aku," memeluk suaminya dengan erat.


"Ya Sayang, Mas cuma mau yang terbaik buat kamu dan anak kita, cupp!" ujarnya mengecup pucuk kepala isterinya.


...TYAS POV...


Bukannya aku perhitungan soal uang, hanya saja aku ingin menjaga keluargaku dengan kedua tanganku sendiri. Apalagi saat ini sedang marak munculnya orang ketiga, yang mana orang ketiga tersebut merupakan orang terdekat kita sendiri.


Mana ada isteri atau seorang Ibu yang rela kehilangan suami dan anaknya begitu saja. Bukannya aku suka menonton sinetron , tapi tak sengaja menontonya kemarin dan itu membuatku merasa takut kalau itu terjadi pada keluargaku kecilku.


Hih! Amit-amit, Ya Tuhan! Maafkan aku selalu berpikri terlalu jauh. Bukannya aku tidak percaya pada-Mu, tapi aku cuma ingin mencegah sebelum kejadian yang tak aku inginkan terjadi dan mengacaukan semuanya.


Capek bagiku hal yang lumrah, karena hidup tidak ada yang praktis. Meski sekarang semua serba canggih, kalau ada yang ribet kenapa harus milih yang instan. Lagian ini kemauanku sendiri mengurus semuanya sendiri, jadi aku juga harus berani menanggung resikonya meski setelah selesai mengerjakan pekerjaan rumah aku selalu mencari minyak gosok untuk ku oleskan pada kakiku.


"Ibu!" teriak suami dan anak kecil yang saat ini sudah berdiri di hadanku.


"Heh? Iya Sayang? Ada apa?" jawabku dengan gugup.


"Ayo tidur," ajaknya padaku.


"Aish! Kirain ada apa, okey! let's go!"

__ADS_1


__ADS_2