
Bugg! bugg! bugg! brakkk!
Kemal secara diam-diam dan menendang punggung pria tersebut, dan memberinya beberapa pukulan hingga bibirnya berdarah dan terlempar cukup jauh.
"Kau tak apa?" tanya Kemal.
__________
"Aku ... aku tidak apa, terimakasih!"
"Ayo bangun," menyodorkan tangannya untuk membantu berdiri.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri ... Aaahhh!" kakinya masih sakit, membuatnya tidak kuat berdiri sepenuhnya dan hampir jatuh untuk kedua kalinya.
Sett!
"Dasar gadis keras kepala, kau pikir manusia super?" celetuknya menatap matanya dengan dingin.
"Aish! bilang saja kau ingin menyentuhku kan? Aku emang bisa berdiri sendiri, tapi ... ."
"Tapi kakimu masih sakit, aku tau itu. Ayo aku bantu kesana," ujarnya mnggendong gadis tersebut dengan punggungnya.
Kemal menggendongnya dan membawanya ke tukang nasi goreng, ia tak jadi meminta di bungkus tapi makan di tempat bersama gadis itu. Karena sepertinya gadis itu kelaparan setelah berdebat dengan pacarnya.
Setelah menghabiskan sepiring nasi goreng, Kemal mengantarnya pulang karena merasa kasihan dengan gadis itu. Dan disisi lain, dia tidak tega kalau membiarkannya pulang sendirian.
...KEMAL POV...
Tring!!
Sebuah pesan masuk, ternyata dari Tuan Arsen. Dia memintaku mencarikan asisten untuk Nyonya Tyas, dan juga menyelidiki satu keluarga yang baru saja tiba di kota ini. Setelah membalas iya, aku kembali memasukkan ponselku ke dalam saku kemeja.
"Dimana rumahmu?"
"Aku tidak punya rumah,"
"Dimana tempat tinggalmu?"
__ADS_1
"Jalan saja, nanti aku kasih tau dimana kau harus berhenti," ujarnya ketus.
"Baiklah!"
Sepanjang jalan suasana cukup hening, dia lebih banyak diam mungkin masih sedikit syok dengan kejadian yang baru di alaminya.
"Berhenti," ujarnya dengan tiba-tiba.
ckitt!!!
Mobil terpaksa di rem secara mendadak karena gadis itu tiba-tiba teriak memintanya berhenti. Tanpa berterimakasih, dia langsung turun dan pergi begitu saja. Tapi ada sesuatu yang tertinggal di dalam mobil, kartu identitasnya.
"Hmm, jadi namanya Amanda. Dia bekerja jadi security di pusat perbelanjaan di dekat sini. Baiklah! Besok saja aku antarkan ke tempat kerjanya. Ini sudah malam,"
____________
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, Tyas sudah terlelap sejak tadi. Sedangkan Arsen baru saja keluar dari ruang kerjanya dan segera berlalu menuju kamarnya. Melihat isterinya yang sudah terlelap membuat hatinya merasa tenang. Tersungging senyuman tipis di sudut bibirnya yang membentuk bulan sabit kecil.
"Tidurlah dengan lelap, lupakan kejadian hari ini yang membuatmu merasa resah. Aku disini, selalu bersamamu dan anak kita," ujarnya perlahan.
Kemudian ia melangkahkan kakinya, menuju ruang kamar kamar Madav, lagi-lagi pemandangan indah terlihat di sana. Anak kecil yang sudah terlelap memeluk guling kesayangannya. Malaikat kecil yang sudah 4 tahun menebarkan kebahagiaan dalam keluarga kecilnya.
"Tumbuhlah menjadi anak yang selalu ceria, bahagia dan berani. Ayah selalu ada di belakangmu, mendorongmu untuk bisa meraih apa yang kau mau," imbuhnya lagi.
Arsen kembali menutup pintu kamar Madav, dan pergi ka kamar mandi untuk membersihkan badannya. Hampir 3 jam berada di dalam ruang kerja membuatnya merasa sedikit gerah meski AC ruangan tetap menyala. Ia memilih untuk mandi saja supaya bisa cepat tidur.
Selesai mandi dan berganti pakaian tidur, Arsen segera berlalu naik ke atas ranjang. Menyelimuti isterinya yang sudah terlelap dalam mimpi indahnya.
"Selamat tidur Sayang, mimpilah yang indah. Mas selalu disini menemanimu, cupp!" Arsen memeluk isterinya dan tertidur dalam balutan selimut yang hangat.
______________
drrtt ... drtt ... drtt!
Benda pipih berwarna putih bergetar beberapa kali, membuatnya terbangun dan segera meraih ponselnya. Tertulis nama Dewi disana, dengan sedikit membuka matanya Tyas menekan notufikasi pesan masuk untuk langsung membuka pesan dari sahabatnya.
• Hi Yas? Kau belum bangun ya? Oh iya, lusa aku akan ke kotamu. Semoga kita bisa ketemu ya,•
__ADS_1
Tyas berkali-kali mengucek matanya, memastikan yang dia baca tidak salah. Tersungging senyuman di sudut bibirnya, akhirnya setelah 5 tahun lamanya, dia akan bertemu dengan sahabatnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 4.30, mau tidur lagi pun sudah tidak bisa.
Tyas memilih untuk bangun saja dan turun ke dapur, entah apa yang akan ia kejakan sepagi ini. Saat hendak turun masih ada tangan yang melingkar di perutnya, ia baru tersadar jika sejak semalam suaminya terus memeluknya.
"Hmm, lelap sekali tidurmu Mas! Kamu pasti capek ya? Tidurlah, satu jam lagi aku akan membangunkanmu,cupp!"
Ia segera keluar dari kamar, menutup pintu kamarnya dan bergegas menuruni anak tangga. Tyas memilih untuk memasak air, sepertinya meminum secangkir kopi tidak ada salahnya. Dan di freezer masih ada pizza yang di bekukan, mungkin mengisi perut sebelum melakukan pekerjaan tidak akan membuat badannya gendut.
...TYAS POV...
Secangkir kopi panas sudah siap, begitupun dengan sepotong pizza ala dapur Tyas yang selalu menyetok beberapa jenis kue untuk putraku kalau sedang bosan atau untuk snack yang selalu aku bawakan bersamaan dengan bekal makanan.
Tak perlu mencari spot yang cocok, meja kecil di dapur sudah lebih dari cukup. Jarang-jarang kan me time sepagi ini, dan ternyata tidak terlalu mengecewakan. Tadinya aku hampir kesal karena pesan yang Dewi kirimkan membuat kantukku hilang dan membuatku bangun lebih cepat dari biasanya.
Tuutt .... tuuttt ... tuuut!
Lama sekali dia tidak mengangkat teleponku, apa dia tidur lagi? Ku ulangi beberapa kali, sampai dia mengangkatnya. Anggap saja aku sedang membalasnya, jarang-jarang kan aku mengganggunya sepagi ini.
"Hallo, Yas? Ada apa? Aku baru selesai mandi," ujarnya dari seberang sana.
"Kau sudah bangun?" Tanyaku dengan kecewa, karena aku berharap dia kesal juga denganku. Hehe.
"Haha! Sejak aku membantu Kak Denny, aku selalu bangun lebih pagi Yas,"
"Apa aku tidak mengganggumu? Kamu tidak kesal padaku?" tanyaku lagi.
"Tidak, aku tidak merasa terganggu. Sungguh! Mana bisa aku kesal, apa yang membuatku merasa kesal padamu ... ." ujarnya dengan lugu membuatku kesal sendiri.
"Haih! Ya sudah, bye!"
Aku segera mematikan teleponku, kopi dan sepotong pizza sudah habis. Aku segera melihat jam dalam ponselku, sudah pukul 05.15. Waktunya aku bekerja untuk dua jagoanku yang masih terlelap di atas sana.
Sementara itu,
Cahaya matahari mulai menyeruak masuk menembus dinding kaca di kamarnya. Bias cahayanya mengenai wajahnya yang sudah bercucuran keringat, sudah 30 menit setelah dia bangun bermain dengan Treadmill elektrik di kamarnya.
Setelah merasa cukup, Kemal segera menyudahinya dan meraih segelas air mineral yang ia siapkan di atas meja kecil di kamarnya. Sejenak ia terdiam dan duduk di dekat jendela, menatap ke arah langit yang luas.
__ADS_1
Entah apa yang menarik perhatiannya saat ini, setiap pagi dan malam jika ada waktu Kemal selalu duduk di dekat jendela menatap ke langit dengan tatapan yang kosong.