
Tring!
• Tuan saya sudah mengirimkan foto seseorang yang terduga sebagai dalang dalam kejadian tersebut. Sebuah mobil berwarna hitam terparkir di seberang sekolah sekitar pukul 15.30 WIB, dari cctv terlihat salah satu dari mereka tampak memberikan kode atau isyarat pada beberapa pria yang beraksi memasuki halaman sekolah dan membawa Tuan Muda.•
>>>>>>>>
Kemal segera membuka foto dari salah satu anak buahnya yang di perintahkan untuk mengecek cctv di sekitar sekolah Tuan Muda Kecil. Ia tak mengenali wajah seseorang yang ada di dalam rekaman cctv, sejenak dia hanya terdiam dan mencari cara supaya bisa tau siapa pemilik wajah tersebut.
"Apa yang terjadi?"
"Tuan, baru saja salah satu anak buah saya mengirim hasil rekaman cctv di sekitar sekolah Tuan Muda. Dan," ujarnya belum semoat meneruskan kata-katanya Tuan Arsen sudah merebut ponsel dari tangan Kemal.
"Tapi saya tidak tau siapa dia. Saya akan meminta mereka untuk mencari tau siapa orang itu," imbuhnya lagi.
"Tidak perlu, aku tau siapa dia. Suruh anak buahmu menangkapnya hidup-hidup," raut wajahnya berubah menjadi merah menahan amarah setelah mengetahui siapa pemilik wajah tersebut.
"Baik, Tuan!"
Tak berapa lama kemudian, Lula datang membawakan makan siang untuk Tuan Arse dan Kemal.
"Terimakasih, Lula! Setelah istirahat siapkan ruang meeting, dan informasikan kepada seluruh divisi jika pertemuan dia majukan. Karena Tuan Arsen ada urusan mendadak," ujarnya pada Lula yang hendak keluar dari ruangan.
"Baik, Tuan!" jawabnya dengan singkat.
Mereka makan siang di dalam ruangan dengan suasana yang sedikit kurang enak. Namun Kemal terus meyakinkan Tuan Arsen dan memintanya untuk menghabiskan makan siangnya, supaya kondisi tetap terjaga.
...KEMAL POV...
"Siapa orang itu? Kenapa Tuan Arsen begitu kesal setelah melihat wajahnya. Apakah ini ada hubungannya dengan orang di masa lalu?"
Jujur, aku sendiri semakin penasaran mengenai orang yang ada dalam rekaman cctv. Terlebih saat Tuan Arsen mengatakan beliau tau siapa dia, jika benar orang tersebut ada hubungan di masa lalunya dan hendak menghancurkan keluarga kecil Tuan Arsen. Akan aku pastikan dia tak bisa menghirup udara dengan tenang.
Aku harus lebih waspada sekarang, menjaga keluarga Tuan Arsen adalah kewajiban yang harus aku lakukan. Takkan aku biarkan orang lain mengusiknya, meski hanya sekedar menyentuh kulitnya sekalipun.
Setelah mengantar Tuan Arsen aku harus memastikan sendiri dan mencari tau siapa sebenarnya orang ini. Dan kenapa hendak mengambil Tuan Kecil.
____________
...BANDAR UDARA TJILIK RIWUT...
Akhirnya hari yang dinantikan selama beberapa tahun lamanya tiba juga. Sebentar lagi ia akan bisa bertemu dan memeluk sahabatnya yang memilih untuk hidup di luar pulau yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Seorang gadis berusia 24 tahun dengan pakaian satin berwarna biru donker tengah duduk di kursi panjang hampir 2 jam lamanya. Ia lupa tidak mengabari sahabatnya sebelum pesawat dari jakarta take off.
"Astaga, sampai berapa lama lagi aku harus menunggunya? Aku lapar, tapi kalau aku pergi nanti akanblebih lama lagi dia menemukanku. Aku tahan dulu deh, sampai yang jemput datang," ujarnya berbicara sendiri dengan kedua katanya menyapu sekeliling area Bandara berharap orang suruhan Tyas segera datang.
"Selamat siang, dengan Nona Dewi?" pria berkumis tipis dengan pakaian serba hitam berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Ya, Saya ... ." jawabnya dengan sedikit tegang.
"Maaf jika membuat Nona harus lama menunggu, saya Lukman yang di suruh Nyonya Tyas untuk menjemput Nona,"
"Oh, baiklah. Terimakasih ya. Tapi aku sedikit lapar, apakah kita bisa mampir ke tempat makan dulu?"
"Silakan Nona," ujarnya dengan sopan.
Dewi segera melenggang pergi mengikuti Lukman yang berjalan 5 langkah di depannya sambil menarik koper besar berwarna kuning. Mereka menuju ke parkiran, untuk segera meninggalkan area Bandara.
"Apakah Tyas baik-baik saja?" tanyanya pada Lukman.
"Nyonya Tyas baik-baik saja, Nona. Oh ya, Nona mau makan apa?"
"Apa saja, yang penting bisa aku makan. Dan tidak lama ya," ujarnya dengan menyunggingkan senyum termanisnya.
"Baik, Nona!"
"Panggil saja Dewi,"
"Maaf, anda adalah sahabat Nyonya Tyas. Jadi saya harus memanggil anda Nona,"
"Oh, baiklah. Terserah saja .... ."
Mobil menepi di bahu jalan, tepat di depan warung bakso. Dewi juga mengajak Lukman untuk menemaninya makan, karena tidak enak jika makan sendirian apalagi di tempat yang belum pernah ia kunjungi.
"Maaf Nona, tapi ... ."
"Tapi kau harus menemaniku, atau aku akan mengadukan pada Tyas kalau kau sudah membiarkan ku seperti orangbhilang di sini," ancamnya pada Lukman.
"Baik, Nona!"
"Nah, gitu dong. Ayo cepat aku sudah lapar," ujarnya dengan semangat.
Sementara itu ....
Pertemuan kedua sudah selesai sejak satu jam yang lalu, setelah urusan selesai dan berkas-berkas sudah di tanda tangani. Tuan Arsen segera bergegas pulang karena merasa tidak enak badan, mungkin karena mood nya yang berubah setelah melihat wajah seseorang dalam rekaman cctv itu.
Tanpa banyak bertanya, Kemal segera mengantar Tuan Arsen menuju Rumah Sakit dimana Nyonya Tyas dan Madav berada saat ini.
"Kemal, carikan jaket kulit untuk wanita ya! Belikan 7 supaya setiap hari bisa ganti," ujarnya.
"Baik, Tuan! Setelah mengantar Tuan, saya akan mencarinya di toko baju,"
"Besok lusa isteriku sudah mulai syuting untuk promosi cabang hotel ke 5 nya. Pastikan ada beberapa penjaga yang mengawalnya,"
"Baik, Tuan!"
__ADS_1
"Dan satu lagi, sepertinya putraku juga butuh seorang penjaga ... ."
"Baik, Tuan!"
"Dan ... jangan lupa. Bawa orang itu ke hadapanku secepatnya,"
"Tak perlu kau jawab lagi, aku sudah tau jawabanmu ... ." imbuhnya sebelum Kemal menjawab dengan jawaban yang sama untuk ketiga kalinya.
Dalam waktu 30 menit, mobil sudah tiba di area Rumah Sakit. Beberapa pengawal telah berdiri disana menunggu kedatangan Taluan Arsen dan Kemal.
"Apakah personil masih lengkap?" tanya Tuan Arsen pada mereka.
"Tidak, Tuan! Lukman keluar untuk menjemput sahabat Nyonya di Bandara,"
"Sahabat? Yang mana?" gumamnya.
"Baiklah, kalian boleh pergi sekarang ... ."
"Siap, Tuan!" jawabnya secara bersamaan.
Tuan Arsen dan Kemal segera bergegas masuk melewati koridor rumah sakit yang sepi. Mereka segera menuju lantai 3 dengan lift.
Cklekk!
"Ayah!" teriak si kecil yang langsung turun dari sofa dan menghampiri Ayahnya.
"Hai, sayang! Kamu jaga Ibu dengan baik hari ini?"
"Hmm," Menganggukan kepalanya dengan cepat.
"Mas, kamu sudah pulang?" tanya Nyonya Tyas.
"Aku tidak enak badan jadi pulang lebih cepat sayang,"
"Kamu sakit? Ayo kita ke dokter saja," ujarnya dengan cemas.
"Tidak sayang, aku baik-baik saja. Cupp!" mengecup pipi isterinya di depan Kemal.
"Bagaimana kondisinya?" imbuhnya melirik ke arah bed.
"Baru saja tranfusi keduanya selesai, dan sekarang sudah terpasang infus ke 4. Kondisinya perlahan sudah membaik. Ya sudah ayo kita pulang, biar Mas bisa istirahat ... ."
"Kemal kamu mau stay disini atau gimana?" tanya Nyonya Tyas.
"Saya ada urusan sebentar Nyonya,"
"Oh, baiklah. Kalau gitu kita pulang dulu ya,"
__ADS_1