
"Mom!" ucap Kalila dari belakang.
"Hi, Sayang! Kamu sudah lama disitu?" tanyanya seraya menyeka air matanya yang sudah membasahi wajahnya.
"Tidak, baru saja. Mommy merindukan Abang?" tanya Kalila dengan perlahan.
"Hmm, sangat. Tapi kita bisa apa? Keputusan yang sudah Daddy buat tidak bisa di ganti gugat. Dan kita tidak ada akses lagi untuk menghubunginya,"
"Mom yang sabar ya, Kali akan mencari cara supaya Mommy bisa komunikasi dengan Abang lagi," ujar Kalila yang merasa kasihan dengan Mommy nya.
"Ya, Sayang! Terimakasih ya, kamu mau kuliah kan?"
"Hmm, Kali berangkat dulu ya Mom!" Mencium punggung tangan Mommy dan bergegas pergi.
Semenjak Arsen pergi dengan Tyas, Daddy berubah drastis. Bahkan satu rumah tak ada yang berani. Termasuk Kalila, meski Daddy tak pernah membentaknya. Pernah suatu hari, saat Daddy masuk kamar Kalila dan melihat ada foto bertiga dirinya dengan Adelia juga Arsen.
Foto tersebut langsung di ambil dan di lempar keluar jendela, membuat wajah Kalila pucat pasi dan badannya seakan tak memiliki tulang. Setelah Daddy keluar, barulah Kalila meluapkan emosinya. Ia menangis sejadi-jadinya, rindu dengan Daddy nya yang dulu.
_________
Voni sudah memasuki halaman rumah yang cukup luas, terlihat Pak Diman sedang di taman merapikan rumput di sekitar pepohonan yang menjulang tinggi. Biasanya Pak Diman akan datang seminggu sekali untuk merapikan taman di rumah.
"Siang, Pak Diman!" sapa Tyas dengan ramah.
"Selamat siang, Bu! Maaf saya langsung masuk saja karena gerbang tidak di kunci," ujarnya dengan sopan.
"Iya, Pak! Tidak apa, maaf ya saya tinggal keluar tadi. Kalau begitu biar saya buatkan minuman dulu," ucapnya.
"Biar saya bawakan Bu," segera meraih tas belanjaan di atas motor.
Tyas segera masuk dan memasak air untuk membuatkan kopi Pak Diman. Sambil menunggu air mendidik, ia memasukkan buah, sayuran dan beberapa bumbu dapur ke dalam kulkas. Semua di masukkan ke dalam bagiannya masing-masing tanpa ada yang tertukar sedikitpun.
Tepat setelah ia selesai memasukkan semua ke dalam kulkas, melipat tas yang di gunakan untuk membawa barang belanjaan air mulai mendidih. Tyas segera mengambil gelas dan juga bubuk kopi beserta gula di dalam lemari.
"Pak Diman! Kopinya sudah siap ya," panggil Tyas meletakkan kopi beserta dua toples berisi makanan ringan di atas meja teras samping rumahnya.
"Teimakasih, Bu!" sahutnya yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya.
Tring!
Sebuah pesan masuk, saat di bukanya ternyata pesan dari group kelasnya Madav. Mereka memberitahukan jika hari ini murid pulang lebih awal, dan meminta wali murid untuk menjemputnya segera.
__ADS_1
"Pak, saya harus menjemput Madav. Titip rumah sebentar ya Pak!"
"Baik, Bu! Hati-hati di jalan,"
...TYAS POV...
Setelah mengambil cardigan berwarna mocca, aku segara turun dari kamar. Aku harus bergegas menjemput putraku sebelum semua murid sudah pulang dan dia akan sendirian disana, meski masih ada guru yang menjaganya.
Motor ku lajukan dengan kecepatan 45km/jam, melewati jalan raya. Terik matahari tak menghalangiku untuk terus melaju. Dalam waktu 30 menit, aku telah sampai di depan sekolahnya. Setelah memarkirkan motor di antara dua mobil aku langsung turun dan berjalan menuju pintu masuk.
Disana Madav sudah menungguku di temani Ms. Clara guru bahasa Mandarin.
"Siang, Ms Clara! Maaf kalau saya telat," ucapku.
"Tidak, Nyonya! Maaf kalau mendadak, karena kami juga baru mendapat informasi tersebut," ucapnya dengan senyum yang mengembang.
"Tidak apa, Ms. Terimakasih sudah menjaga Madav, kalau begitu kami pamit dulu. Madav, ucapkan terimakasih pada Ms. Clara,"
"Xie Xie, Ms!"
"Bu qe ki,"
Mereka berbicara dengan bahasa mandarin, aku yang tidak terlalu paham hanya senyum saja dan memperhatikan keduanya siapa tau suatu saat aku bisa berbahasa mandarin seperti putraku. Setelah itu, aku menggandeng putraku menuju parkiran.
"Siap Bu! Ayo pulang," ucapnya dengan semangat.
"Okey!"
Saat di tengah jalan, Madav meminta berhenti saat melihat penjual gelembung yang berwarna warni. Akupun menepikan Voni mendekati penjual gelembung sabun itu. Kami mengambil beberapa botol dengan warna yang berbeda supaya Madav bisa bermain sepuasnya.
"Tyas, kamu Tyas kan?" ujar seorang wanita paruhbaya yang entah darimana munculnya.
"Maaf, anda siapa?" tanyaku.
"Ah ... ya! Kamu belum pernah melihatku sebelumnya, tapi aku pernah melihatmu di foto," ujarnya dengan senyum ramahnya.
"Maaf, saya tidak mengerti,"
"Aku Dini, sahabat Ibu mertuamu ... kamu," ujarnya belum menyelasaikan pembicaraannya langsung ku potong.
"Ma-maaf, kami harus segera pulang. Permisi," Setelah membayar beberapa botol gelembung, aku segera mengajak Madav untuk segera pergi.
__ADS_1
"Tyas, tunggu!" panggilnya lagi padaku.
Aku tak menghiraukannya, aku segera menarik gas voni dan segera menjauh darinya. Aku takut, jika Nyonya Dini datang bersama suaminya dan akan melaporkan pada Ayahnya mas Arsen yang tak menyukaiku.
Aku takut, mereka akan memisahkanku dengan keluarga kecilku. Aku berusaha menepis pikiran negatif yang muncul dalam pikiranku, aku mencoba untuk tetap fokus pada jalan demi keselamatanku dan anakku.
Sebelumnya,
Mereka baru tiba di sebuah pulau dengan tujuan untuk berjalan-jalan sambil menemani suaminya berkunjung ke tempat kolega yang sudah bekerja sama sejak lama. Saat di tengah jalan, tiba-tiba salah satu anaknya minta berhenti karena ingin ke toilet.
Sambil menunggu anaknya, ia turun dari mobil dan ingin mengabadikan moment mereka dengan selfie. Setelah mendapat beberapa kali jepretan, tak sengaja matanya tertuju pada seorang perempuan yang sedang membeli gelembung sabun di bahu jalan.
Setelah di ingat-ingat, ia pernah melihatnya 4 tahun lalu saat sedang makan malam di rumah sahabatnya. Tak sengaja ia melihat Adelia yang sedang menggulir layar ponselnya membuka gallery dan ada gambarnya disana.
_Flashback On_
DINI POV
"Sayang, itu siapa?" tanyaku pada Adelia.
"S**stt ... Tante, jangan keras-keras. Aku takut Daddy akan mendengarnya," ujarnya setengah berbisik membuatku segera menutup mulutku dengan kedua tanganku.
"Maaf, Tante tidak tau. Memang dia siapa?" tanyaku lagi dengan suara yang sudah ku kecilkan.
"Ini Tyas Tan, sebelum Abang pergi aku sempat diam-diam menemuinya sebagai salam perpisahan. Dan aku sempat mengajaknya foto berdua," jawabnya dengan sedikit sedih.
"Oh begitu, pantas saja Arsen jatuh cinta padanya. Dia cantik dan sepertinya kalem,"
"Dia juga baik sekali Tante, aku merindukan keduanya. Seminggu setelah mereka pindah, nomor mereka sudah tidak bisa aku hubungi," kedua matanya mulai mengembang.
Tanpa berkata apa-apa lagi, aku langsung memeluknya. Aku tau bagaimana perasaannya saat ini, sejak dulu mereka tidak pernah di pisahkan. Begitupun dengan sahabatnya, selama ini Dinilah yang selalu menjadi tempatnya berbagi cerita.
_Flashback Off_
Tanpa menunggu lama, Dini segera bergegas mendekatinya tanpa perduli anak bungsu yang sejak tadi memanggilnya. Ia mempercepat langkahnya untuk bisa mendekatinya sebelum pergi lagi.
Tapi, saat sudah dekat dan mengatakan siapa dirinya. Tyas langsung pergi dan terlihat sangat ketakutan setelah tau siapa dirinya yang saat ini berdiri di depannya. Dini segera berlari menuju keluarganya, meminta suaminya untuk mengikuti motor yang di naiki Tyas.
"Sayang, ayo kita kejar mereka. Cepat," ujar Dini segera masuk ke dalam mobil.
"Motor siapa? Ada apa?" tanya suaminya.
__ADS_1
"Aku bertemu Tyas, tapi saat dia tau aku sahabat ibu mertuanya malah dia langsung pergi," Ujarnya menjelaskan pada suaminya.