Terpaksa Menikah Tanpa Restu

Terpaksa Menikah Tanpa Restu
Main Bersama


__ADS_3

"Kemana dia?"


"Ke arah sana, tadi dia pergi ke arah sana. Ayo cepat, Kayana pasti akan senang jika mendengarnya," ujarnya dengan begitu antusias.


Billy segera menginjak gas dan menuju arah yang di tujukan isterinya. Ia juga beharap bisa menemukan keberadaan Tyas dan suaminya. Biar bagaimanapun, mereka sudah menganggap Arsen seperti anak mereka sendiri dan juga ingin membuat sahabat mereka senang.


___________


Sesampainya di halaman, Tyas segera memasukkan motor ke dalam bagasi tertutup. Sebelum masuk ke dalam rumah, Tyas berpesan pada Pak Diman untuk tidak mengatakan jika ada orang datang menanyakan perihal tentangnya dan juga suaminya agar jangan memberitahunya.


Tyas menggendong Madav membawanya masuk lewat pintu dapur. Ia segera meminta Arsen untuk naik ke kamarnya dan berganti pakaian, sementara itu dia akan menyiapkan makan siang untuknya.


Jantungnya masih terus berdebar, sesekali ia mengintip ke arah luar memastikan tidak ada orang yang memasuki halaman rumahnya. Siang ini ia memasak sayur bayam, udang crispy, tempe goreng dan juga sambal bawang.


Memasak membuatnya sedikit lupa dengan kejadian yang baru saja ia alami. Setidaknya ia tidak terus-terusan di hantui rasa khawatir dan takut akan kehilangan dua jagoan yang selama ini sudah menjadikannya sebagai ratu di rumahnya.


tring!


Panggilan videocall dari suaminya, dengan menyandarkan ponselnya di vas bunga meja dapur Tyas menanggapi suaminya yang sedang di ruang kerjanya.


"Sayang, sesibuk itukah sampai aku tidak di lihat?" protes suaminya.


"Maaf, Sayang! Aku sedang menyiapkan makan siang untuk anak kita,"


"Anak kita? Maksudmu kamu sedang hamil?" celetuknya.


"Astaga! Belum, tapi Madav. Aku baru saja menjemputnya, hari ini dia pulang lebih cepat karena gurunya ada kepentingan mendadak. Kamu tidak makan Mas?" tanya Tyas sambil menyiangi udang karena Madav tidak mau makan kalau kulit udang masih terlihat.


"Sebentar lagi,"


"Lalu ada apa menelfon?"


"Tidak, cuma mau liat istriku saja,"


"Haih! Terserah saja lah, Kemal ... ajak dia makan siang, kau juga jangan telat makan siang," teriak Tyas pada Kemal yang sejak tadi diam saja di sofa.


"Baik, Nyonya!" sahutnya.


Panggilan selesai, tanpa mempedulikan ponselnya Tyas melanjutkan pekerjaannya menyiapkan adonan untuk membuat udang crispy. Tak berapa lama kemudian, Pak Diman masuk dan berpamitan untuk pulang karena pekerjaan sudah selesai.


Sementara itu,


"Tuan, sebaiknya kita pergi sekarang. Atau Nyonya akan marah jika tau Tuan telat makan," ujar Kemal dengan sopan.

__ADS_1


"Baiklah, setelah ini apakah kita ada pertemuan lagi di luar? Kalau ada sekalian saja ya,"


"Ada, Tuan! Di restaurant yang letaknya lumayan jauh dari sini,"


"Kalau begitu kita makan siang disana saja,"


"Baik, Tuan! Silahkan,"


Kemal berjalan di belakang Tuan Arsen. Setelah Mobil tiba di lobby, ia segera membukakan pintu untuk Tuan Arsen dan kembali menutupnya. Tak lupa seatbelt ia pasang sebelum memulai perjalanan ke tempat makan yang mereka tuju.


Jarak yang di tempuh memerlukan waktu sekitar hampir 60 menit, karena harus melewati beberapa lampu merah dan jalan lumayan ramai karena waktunya makan siang. Setibanya di sana, Kemal langsung memesan private room dan beberapa menu untuk mereka berdua.


Kemal memesan dua menu yaitu ayam dengan saus asparagus meleleh, bawang merah, miso dan saus sriracha. Untuk minumnya ia memilih Blue Ocean Soda cocok untuk cuaca yang sedikit panas.



gb. 1 *Ay**am dengan saus asparagus meleleh, bawang merah, miso dan saus sriracha*.



gb. 2 Blue Ocean Soda


Dalam waktu 10 menit makanan sudah datang. Makan siang berjalan dengan tenang, tanpa suara sedikitpun sampai makan selesai.


"Madav, turunlah! Makan siang sudah siap," panggil Tyas yang sedang menyiapkan makanan di atas meja.


"Iya Bu!" sahutnya dari atas sana. Tak lama kemudian, Madav sudah turun dengan membawa mainan dinosaurus kesayangannya.


"Sayang, pelan-pelan! Awas jatuh ya,"


Setelah makan siang dan membereskan peralatan dapur, Tyas menemani putranya bermain di depan TV. Tiba-tiba Madav meminta Ibunya untuk menghubungi Ayahnya, katanya dia ingin tanya sesuatu pada Ayahnya. Untuk membuat Ibunya luluh, Madav memasang wajah sedih dan merengek.


"Baiklah, Ibu akan menghubungi Ayah. Tapi Madav senyum dulu,"


"Terimakasih, Ibu!" ujarnya dengan sangat girang.


Tutt ... tutt ... tuttt!


"Hallo, Sayang? Ada apa? Kau sudah merindukanku?" tanyanya di ujung telepon.


"Bukan aku, tapi jagoan kita. Dia yang memintaku menghubungimu, Mas! Bicaralah dengannya," Tyas menyerahkan ponselnya pada madav.


"Ah! Baiklah, mana dia?" ujarnya dengan senang.

__ADS_1


"Bicaralah, Ibu ke atas dulu ya ... ." ujar Tyas.


"Hallo, Ayah!"


"Hai, Sayang! Ada apa Nak?" tanya Tuan Arsen.


"Ayah, aku dan Ibu sudah beli mainan gelembung. Tapi aku mau main sama Ayah, apa Ayah masih lama pulangnya?" tanya Madav.


"Iya sayang, setelah pertemuan nanti Ayah langsung pulang ya ... ."


"Yahh, ya sudah tidak apa Ayah!" ujarnya dengan sedikit merasa kecewa karena berharap Ayahnya bisa pulang cepat seperti dirinya.


"Maaf ya Sayang,"


"Ya sudah. Aku tutup teleponnya ya Yah! Aku main sama Ibu saja,"


"Ya, Sayang! Setelah pertemuan Ayah segera pulang ya,"


Telepon terputus, Madav segera berlari ke arah tangga memanggil Ibunya yang masih diatas.


...MACAN RESTO...


"Ada apa Tuan?" tanya Kemal yang menyadari perubahan sikap Tuan Arsen setelah berbicara dengan putranya melalui sambungan telepon.


"Madav ingin bermain denganku, saat aku bilang masih ada pertemuan dia sedikit kecewa. Meski dia bilang tidak apa,"


"Kalau begitu, sebaiknya Tuan pulang saja. Biar saya yang handle pertemuan ini," ujar Kemal dengan yakin.


"Tapi,"


"Percayakan pada saya, Tuan!" ucap Kemal meyakinkan lagi.


"Baiklah, aku percayakan padamu. Terimakasih," ujarnya dengan perasaan lega.


Kemal mengantar Tuan Arsen sampai mobil, dan setelah itu ia kembali masuk ke dalam menunggu klien yang sebentar lagi akan bertemu dengannya. Klien kali ini datangnya dari Jakarta, ia merupakan pengusaha muda yang meneruskan usaha keluarganya.


Setelah menunggu sekitar 20 menit, klien datang dan langsung di sambutnya dengan ramah. Usianya pun tak jauh berbeda dengannya, membuatnya tidak merasa canggung selama obrolan berlangsung.


Kemal mempresentasikan semuanya dengan tertata, rapih dan jelas. Semua dia jelaskan tanpa ada yang terlupakan sedikitpun, tanpa di sadari klien barunya terus mengangguk dan tertarik untuk bekerja sama dengan Madava's Furniture.


"Terimakasih Tuan, di waktunya yang padat meluangkan waktu untuk mau bertemu dengan saya yang masih baru," ujarnya.


"Tidak Tuan Derry, kebetulan saya dan Tuan Arsen sedang makan siang disini. Jadi tidak ada alasan untuk kami menolak. Oh ya, kapan anda tiba di kota ini?"

__ADS_1


"Tadi pagi Tuan, tadinya kami hanya ingin jalan-jalan. Tapi aku tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan emas ini, dan ternyata aku beruntung ... ."


__ADS_2