Terpaksa Menikah Tanpa Restu

Terpaksa Menikah Tanpa Restu
Dua Kantong Darah untuknya


__ADS_3

"Beraninya dengan seorang gadis, apa kalian tidak malu? 3 pria melawan seorang gadis? Cih! Aku malas melawan pengecut seperti kalian, Pak tangkap mereka!" ujarnya pada beberapa polisi yang baru datang setelah di hubungi beberapa saat yang lalu.


"Kau tidak apa?" tanyanya berjongkok di depannya.


"Aku," tiba-tiba dia pingsan karena terlalu banyak kehilangan darah.


Kemal segera menggendongnya dan membawanya pergi ke Rumah sakit terdekat dengan mobil. Madav sudah dalam pelukan Nyonya Tyas, yang masih memejamkan kedua matanya.


"Sayang, buka matamu Nak! Ibu dan Ayah disini,"


"Tidak, kata Kakak cantik aku tidak boleh membuka mata sebelum Kakak cantik yang menyuruhnya Bu," jawabnya.


"Kakak cantik sudah memperbolehkannya, Ibu diminta Kakak cantik untuk meminta Madav membuka mata," ujarnya berbohong.


"Benarkah? Dimana Kakak cantik?" tanyanya setelah membuka kedua matanya.


"Kamu tidak apa-apa Nak?" tanya Tuan Arsen.


"Tidak, Ayah mana Kakak cantik?" tanyanya lagi.


"Kakak cantik di depan, kita akan membawanya ke Rumah Sakit,"


"Kakak cantik kenapa Yah?"


"Kakak cantik terluka sayang,"


"Paman, cepat bawa Kakak cantik ke Rumah Sakit ... ." ucap Madav pada Kemal yang sedang menyetir mobil.


"Baik, Tuan Kecil!"


"Aku Madav, bukan Tuan Kecil!" sahutnya.


"Sayang, sudah! Paman lupa," ucap Tyas memeluk putranya.


Sesampainya di Rumah Sakit beberapa perawat segera datang dengan sebuah brankar kecil yang mereka dorong. Kemal segera mengangkat tubuh gadis itu dan memindahkannya ke atas brankar.


"Tolong selamatkan dia," ucap Tyas.


"Baik, Nyonya! Silakan urus administrasi dulu sementra itu kami memberikan tindakan kepada pasien," ucapnya dengan sopan dan segera mendorong brankar membawa masuk ke Ruang Tindakan IGD.


Kemal segera bergegas ke bagian administrasi, sedangkan Tuan Arsen, Tyas dan Madav segera mengikuti dari belakang beberapa perawat yang membawa gadis itu.


"Semoga dia baik-baik saja ya Mas, mungkin kalau tidak ada anak kita sudah di bawa pergi,"


"Iya, Sayang. Kita berhutang budi padanya, apapun yang dia inginkan pasti akan aku penuhi," ucap Tuan Arsen.


"Ayah, Ms Clara masih di sana. Tadi Madav lihat Ms Clara di pukul terus di ikat," ujarnya dengan pelan.


"Astaga, kita tidak melihatnya ke dalam. Baiklah, Ayah akan meminta Paman Kemal untuk menyuruh anak buahnya,"

__ADS_1


Sementaa itu,


tring!


• Ms Clara masih di ikat disana, kirimkan anak buahmu untuk menolongnya! •


• Baik Tuan! •


Administrasi sudah selesai Kemal urus, sebelum menyusul Tuan Arsen dan Nyonya Tyas, ia pergi ke kantin Rumah Sakit membeli beberapa minuman botol dan juga makanan ringan. Setelah mendapatkan semua yang dia inginkan, ia segera kembali dengan membawa kantong plastik besar berwarna putih.


"Sudah kau urus?" tanya Tyas pada Kemal.


"Sudah Nyonya," Jawabnya.


"Paman aku haus," celetuknya saat melihat susu kotak kesukaannya.


"Hmm, silakan Tuan Kecil," menyodorkan minuman kotak pada Madav.


"Paman, aku Madav!" sahutnya sedikit kesal.


"Siap, Tuan Kecil Madav," ujarnya.


"Iishh, Paman!"


"Silakan Tuan, Nyonya!"


"Terimakasih, Kemal" ucap Nyonya Tyas meraih botol minuman.


"Baik, Tuan!"


Tak berapa lama kemudian, pintu ruang tindakan sudah terbuka. Seorang dokter keluar dengan senyum ramahnya, mereka segera berdiri mendekatinya menanyakan kondisi gadis di dalam ruang tindakan.


"Dok, bagaimana keadaannya?" tanya Nyonya Tyas.


"Luka di lengan bagian kanan cukup dalam, pasien kehabisan banyak darah. Untuk itu kami masih butuh dua kantong darah dengan golongan darah AB,"


"Golongan darah saya AB Dok, ambil punya saya saja ... ." ujar Nyonya Tyas.


"Punya saya juga AB," timpal Tuan Arsen.


"Saya juga AB, Dok!" Kemal tak mau kalah.


"Aku apa Bu?" tanya Madav.


"Kamu tidak perlu sayang, besok kalau sudah besar baru boleh," jawab Nyonya Tyas.


"Kalau begitu ambil darah saya dan Kemal saja Dok," ucap Tuan Arsen.


"Baik, kalau begitu silakan ikuti perawat Tuan! Supaya kalian di periksa dulu sebelum darah di ambil. Sus, antar mereka ya!" uap Dokter pada suster yang baru saja merapikan peralatan yang baru di pakainya.

__ADS_1


"Baik, Dok!"


Tuan Arsen dan Kemal mengikuti perawat menuju sebuah ruangan berukuran sedang. Di dalamnya terdapat dua bed, suster meminta keduanya untuk naik ke atas bed. Sedangkan ia keluar untuk meminta rekan kerjanya menyiapkan peralatan yang di butuhkan.


...R. Tindakan IGD...


"Terimakasih ya, kamu sudah menyelamatkan anak kami," ucap Nyonya Tyas menatap wajah gadis di atas bed yang masih belum sadarkan diri.


Di tangan kirinya sudah terpasang selang infus cairan RL 500 ml dengan 25 tetes/menit. Dan juga terpasang alat bantu nafas binasal kanul dengan aliran oksigen 3 liter/menit.


"Bu, Kakak masih tidur ya?" tanya Madav.


"Ya Sayang! Kita doakan Kakak cepat sembuh ya, biar Madav bisa kenalan sama Kakak cantik dan mengucapkan terimakasih karena Kakak cantik sudah menyelamatkan Madav,"


"Hmm," sahutnya hanya mengangguk.


"Ibu, Kakak cantik ini hebat sekali. Tadi Madav lihat penjahat itu jatuh setelah Kakak cantik memegang kaki sebelahnya," celetuknya lagi.


"Oh, ya? Hmm, Kakak cantik memang hebat ... selain itu dia juga gadis pemberani. Semoga Madav juga jadi anak yang pemberani ya, menolong siapapun yang membutuhkan bantuan ... ." ucap Nyonya Tyas kepada putranya.


"Iya, Bu!" sahutnya.


"Apakah dia belum sadar?


"Belum, Mas! Apakah darah kalian cocok?" tanya Nyonya Tyas.


"Ya, darah kita sudah di ambil. Sebentar lagi dia akan di pindahkan ke ruang rawat, sebaiknya kita pulang dulu. Kasihan Madav, biar Kemal yang menjaganya disini," ucap Tuan Arsen.


"Kemal, tolong jaga dia ya," pesan Nyonya Tyas pada Kemal.


"Baik, Nyonya!"


_______


Tuan Arsen, Nyonya Tyas dan Madav segera bergegas pulang, karena waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Tak lama setelah itu, perawat datang hendak memindahkan gadis itu ke ruang rawat VIP.


Kemal mengikutinya dari belakang, melewati koridor rumah sakit yang kanan kirinya sangat gelap karena hanya ada pepohonan besar disana dan juga sebuah gedung yang sepertinya sudah tidak beroperasi lagi.


Sesampainya di ruang rawat, perawat segera merapikan gadis itu dan mengganti botol infus yang hampir habis dengan satu kantong darah yang baru saja mereka dapatkan dari Tuan Arsen dan Kemal.


"Tuan, saat ini pasien sedang mendapatkan tranfusi darah. Mungkin akan cukup lama habisnya, untuk itu mohon di pantau jangan sampai selang tranfusi tersumbat," ujarnya dengan sopan.


"Baiklah, terimakasih Sus!" ucap Kemal.


Mereka segera pergi meninggalkan Kemal sendirian menjaga gadis yang masih belum sadarkan diri. Kemal masih berdiri di samping bed mengamati kantong darah di depannya. Tak berapa lama terdengar seseorang datang di depan pintu.


tokk ... tokk ... tokk!


"Masuklah!"

__ADS_1


"Terimakasih Tuan!" jawabnya segera membuka pintu dan masuk.


__ADS_2