Terpaksa Menikah Tanpa Restu

Terpaksa Menikah Tanpa Restu
Harapan Kecil


__ADS_3

"Saya mewakili Tuan Arsen, meminta maaf karena beliau tidak bisa ikut datang," ujar Kemal padanya.


"Tidak apa Tuan! Saya paham betul bagaimana sibuknya beliau,"


"Sebenarnya aku ngin bertemu Tuan Arsen, tapi ternyata beliau berhalangan untuk hadir. Mungkin hanya kebetulan, namanya sama dengan Arsen Tante Kayana," batinnya.


Setelah tidak ada yang perlu mereka bicarakan lagi, Derry segera berpamitan karena keluarganya sudah menunggu di tempat tempat penginapan. Kemal mengantar Derry sampai depan resto dan memastikannya sampai mobil pergi meninggalkan area resto.


Setelah itu, ia menghubungi staff nya meminta untuk di kirimkan sebuah mobil karena dia harus kembali ke kantor. Sambil menunggu mobil datang, kemal mengirimkan laporan pada Tuan Arsen jika pertemuan sukses dan klien setuju untuk bekerja sama dengannya.


...Nio Hotel...


Setibanya di hotel, Derry segera berlalu naik ke kamarnya di lantai 10. Ia segera menemui kedua orangtuanya yang sudah menunggunya sejak tadi.


tokk ... tokk ... tokk!


"Pa, Ma! Maaf ya aku harus menemui klien,"


"Tidak apa Kak! Bagaimana pertemuan hari ini?" tanya Mamah yang masih mengenakan kimono dan handuk menutupi rambutnya yang basah.


"Lancar Ma, tapi sayangnya aku gak ketemu sama ceo nya. Pasti jadwalnya sangat padat,"


"Tidak apa, setidaknya kamu bertemu dengan rekannya kan? Dengar-dengar ini hotel juga dia yang punya. Tapi ya begitulah ... dia sendiri jarang kesini, asistennya yang menghandle," ujar Mama duduk di tepi ranjang.


"Mama tau darimana?" Tanya Papa.


"Mama tadi iseng-iseng tanya aja ke petugas disini Pa," celetuknya.


"Mama ini, petugas lagi kerja kok di ajak gosip,"


"Tidak, Mama kan cuma tanya Pa. Oh iya, kira-kira tadi Tyas kemana ya? Kok bisa langsung hilang gitu aja," ujarnya.


"Mana aku tau Ma! Kan Mama yang tadi liat dia kemana perginya, mungkin belum waktunya buat kita ketemu sama dia,"

__ADS_1


"Ceo dari Madava's Furniture juga namanya Arsen Ma, tapi nama belakangnya tidak ada nama Adhitama. Mungkin hanya kebetulan nama mereka sama," ujar Derry.


"Ya, kamu benar. Tidak mungkin Arsen tidak memakai nama keluarganya, dia anak yang baik. Tidak mungkin dia melupakan keluarganya meski saat ini Daddy nya sudah melepas hubungan, karena anak tetaplah anak," ujar Papa.


*D**isisi Lain* ...


Mobil memasuki halaman rumah, rumput sudah terlihat sangat rapih. Taman di depan rumahnya juga terlihat sangat rapi, sejenak Arsen berdiam diri di dalam mobil. Melihat ke arah rumahnya yang sudah menjadi tempat berteduh selama 5 tahun lamanya.


Terdengar gelak tawa dari arah belakang, membuatnya tak sabar ingin segera turun dari mobil dan menghampiri mereka. Pasti Madav akan merasa senang ketika melihatnya sudah ada di depannya. Meski sabtu dan minggu libur, Arsen paham jika anaknya masih membutuhkan waktu bersamanya.


"Ayah pulang," ujarnya ketika sampai di halaman belakang.


"Ayaah!" serunya tak percaya jika Ayahnya sudah pulang.


"Kamu senang Ayah sudah disini?" tanyanya mengusap kepala putranya yang saat ini memeluk pinggangnya.


"Kok Mas pulang? Bukannya dua jam lagi Mas baru pulang? Apa mas sakit?" tanya Tyas cemas.


"Sayang, kamu yang menyuruh Ayah cepat pulang?"


"Maaf Ibu, aku cuma ingin Ayah, aku dan Ibu main bersama, Ayo Yah!"


"Biarkan Ayah ganti baju dulu ya Nak,"


"Main dulu sama Ibu, Ayah ganti baju dulu ya. Cupp!"


...TYAS POV...


"Ibu," panggilnya dari bawah membuatku bergegas keluar dari kamar.


"Iya Nak?" sahutku yang baru saja berganti kaos.


"Aku mau main gelembung Bu! Ibu mau temani aku kan?" tanyanya dengan polos.

__ADS_1


"Tentu saja, ayo kita main ... ."


"Horee," ujarnya dengan girang.


Setelah mengambil wadah gelas plastik aku segera mengajak putraku ke halaman belakang dekat dengan kolam renang. Disana aku mulai membuka bungkusan plastik berukuran ¹/4 kg yang membungkus botol berisi cairan sabun berwarna merah muda.


Aku mencoba meniupnya, dan ternyata berhasil. Madav dengan senangnya melonjak meraih gelembung yang terbang ke segala arah membuatnya kewalahan untuk menangkapnya. Meski begitu, dia sangat antusias dan memintaku untuk meniupnya lagi.


Dan tak berapa lama, tiba-tiba mas Arsen pulang. Ternyata Madav yang memintanya, aku tidak tau kalau dia memintaku untuk menghubungi Ayahnya adalah untuk memintanya pulang. Begitulah Madav, meski Ayah sudah memberikan banyak waktu untuknya tetap saja kurang baginya.


Untunglah Mas Arsen tak pernah menuntut atau marah jika putranya tiba-tiba memintanya pulang. Dia paham, di rumah tidak ada teman main selain aku jika dia sedang bekerja. Begitupun dia, yang kadang saat sedang perjalanan ke luar kota bisa seharian menelepon rumah seperti sedang meneror kami karena tiap satu jam sekali selalu bertanya kabar.


"Sayang, besok gak boleh seperti itu lagi ya! Ayah kan kerja buat kita juga, kasihan Ayah Nak!" ucapku memberikan pengertian padanya.


"Iya Bu, maaf ya. Aku gak sabar mau main ini sama Ayah dan Ibu, lagian Ayah tidak marah kan?" celetuknya.


"Tidak, mana pernah Ayah marah. Tapi Ibu minta, jangan lagi meminta Ayah pulang cepat. Biar bagaimanapun pekerjaannya di kantor juga penting Sayang," sambungku dengan sabar.


"Iya Bu, ayo Bu tiup lagi ... ." pintanya padaku.


Tak berselang lama, Mas Arsen datang kembali ikut main bersama kami. Melihat dua jagoanku tertawa lepas membuat duniaku semakin berwarna. Rasanya, aku adalah wanita yang paling beruntung di dunia ini.


Keduanya adalah nafasku, separuh hidupku adalah mereka. Tanpa mereka mungkin kehidupanku tak akan sebahagia ini, mereka adalah aku, dan aku adalah mereka. Kami bagaikan tangan, jika salah satu jari terkena pisau maka sakitnya akan terasa ke seluruh tubuh.


...*A***RSEN POV**...


Bahagia sangatlah sederhana, melihat isteri dan anakku tersenyum saja sudah membuat hatiku terus berdebar. Mereka adalah penyemangatku, setiap saat yang hanya ada dalam pikiranku adalah mereka tidak ada yang lain.


Aku sudah banyak melakukan kesalahan, membuat merasakan hangatnya berkumpul dengan keluarga besar. Entah, sampai kapan ini semua akan berakhir. Aku tidak mungkin membawa mereka ke dalam keluargaku, sebelum Daddy memberikan restu pada kami.


Aku tidak mungkin menciptakan luka baru sebelum luka yang lama terobati dan mengering. Aku sengaja memutus kontak pada keluargaku di Ibukota, meski begitu aku masih memantau mereka, memastikan kedua orangtuaku dan adik-adikku baik-baik saja disana.


Dan aku juga tau, Daddy masih belum bisa memaafkanku yang keras kepala. Mengambil keputusan yang jelas-jelas membuatnya murka, namun aku tak pernah berhenti berharap semoga suatu saat nanti Tuhan memberikan kesempatan untukku membawa isteri dan anakku pulang ke rumah menemui mereka.

__ADS_1


__ADS_2