
Sesampainya di Perusahaan, Tuan Arsen segera menuju ruang kerjanya di lantai 8. Pertemuan pagi ini akan di mulai dalam waktu 1 jam lagi, segala persiapan sudah di siapkan oleh para staff nya yang sudah Kemal perintahkan sejak pagi tadi.
"Apakah ada info mengenai keluarga yang kemarin datang dari Ibukota? Apakah kejadian kemarin ada hubungannya dengan mereka?" tanya Tuan Arsen pada Kemal yang baru saja menjatuhkan badannya di sofa.
"Mereka datang ke kota ini untuk mengunjungi rekan kerjanya yang sudah beberapa tahun tidak bertemu, saya rasa tidak ada hubungan dengan kajadian kemarin. Anak buah saya sedang mengecek cctv yang terpasang di sepanjang jalan sekitar sekolah Tuan Muda kecil, Tuan!" jawabnya berkata jujur.
"Cari informasi siapa dalang di balik kejadian ini, jangan sampai kita lengah dan kejadian kemarin terulang lagi. Jangan harap mereka bisa bernafas dengan tenang karena sudah menyentuh putraku,"
"Baik, Tuan!"
"Pergilah, masih ada waktu satu jam sebelum pertemuan di mulai ... aku ingin sendiri sekarang," ujarnya menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kerjanya.
"Baik Tuan. Kalau begitu saya permisi," ujarnya segera beranjak meninggalkan ruang kerja Tuan Arsen dan kembali ke ruang kerjanya.
...ARSEN POV...
"Kalau memang mereka ada hubungannya dengan kejadian ini, akan aku pastikan mereka tidak akan bisa kembali ke ibukota dengan selamat. Apapun itu alasannya,"
"Aku tidak akan pernah membiarkan orang lain mengganggu keluarga kecilku,"
Entah kenapa aku langsung berpikir mereka ada hubungannya dengan kejadian kemarin. Aku teringat dengan cerita isteriku yang ketakutan mereka akan datang untuk memisahkan keluarga kecil kami karena suruhan Daddy yang sampai saat ini masih belum merestui pernikahan kami.
Tapi disisi lain, aku tidak percaya jika mereka benar-benar ada hubungannya dengan ini semua. Aku mengenal mereka sebagai pribadi yang baik, hah! aku benar-benar tidak habis pikir dan tidak tau siapa dalamng dibalik kejadian ini.
Yang pasti aku tidak akan membiarkan mereka hidup tenang karena sudah mengganggu keluarga kecilku. Apalagi putraku yang masih kecil, untung saja dia tidak sampai trauma. Cepat atau lambat aku akan menangkapnya dan memberikan pelajaran yang setimpal atau mungkin lebih parah dari apa yang sudah dia lakukan kemarin.
...KEMAL POV...
"Cek cctv hari kemarin sekitar jam 4 sore, di sekitar jalan sekolah Tuan Muda Kecil. Jika ada yang mencurigakan segera laporkan ke saya,"
"Baik Tuan!"
Telepon terputus. Aku baru saja menghubungi anak buahku untuk memeriksa cctv disana. Aku penasaran siapa dalang di bqlik kejadian ini, dan apa motifnya sehingga menyulik Tuan Muda Kecil yang bahkan tidak tau apa-apa.
Okey, lanjut! Hari ini aku harus menyiapkan materi yang sudah di persiapkan sejak beberapa hari yang lalu untuk pertemuan hari ini. Semoga semua berjalan sesuai yang kami harapkan, dan tidak ada kendala apapun.
__ADS_1
Tring!
"Iya Tuan?"
"Ke ruanganku sekarang!"
"Baik Tuan! Saya akan segera ke ... ." belum selesai menjawab telepon sudah di matikan.
Untung saja dia atasanku, coba saja kalau dia anak buahku. Mungkin pukulan sudah mendarat di perut atau kepalanya. Tanpa berpikir panjang, aku segera merapikan meja kerjaku dan membawa satu berkas ke ruang Tuan Arsen dimana beliau sudah menungguku saat ini.
Sementara itu ....
Tring!
"Hallo!" ucap Nyonya Tyas yang langsung di potong dari seberang sana.
"Yas, kamu dimana? Mana alamat rumahmu? Kau tau? Aku sudah tiba di bandara sejak satu jam yang lalu, tapi aku tidak tau mau kemana. Kau belum kasih tau alamatmu," celetuknya di tengah keramaian sana.
"Heh? Kau jadi kesini? Kenapa tidak bilang lagi, ya sudah kamu disitu dulu. Nanti ada yang datang menjemputmu,"
"Siapa? Pria tampan kah?"
"Okey!"
Tak berselang lama setelah panggilan terputus, sebuah pesan masuk dari Dewi yang mengirimkan gambar dirinya mengenakan pakaian berbahan satin dengan warna biru donker. Nyonya Tyas segera keluar dari ruangan, meminta salah satu penjaga disana untuk segera pergi ke Bandara menjemput sahabatnya.
"Pak, tolong jemput sahabat saya di Bandara ya. Ini fotonya," ujarnya sembari menunjukkan foto Dewi di layar ponselnya.
"Nanti saya kirimkan fotonya ke Bapak," imbuhnya lagi.
"Baik, Nyonya!"
"Bu, siapa?" tanya Madav yang sudah berdiri di belakangnya.
"Tante Dewi, sayang. Sahabat Ibu, nanti Madav ajak Tante main ya. Pasti seru,"
__ADS_1
"Tante Dewi orang baik Bu?"
"Tentu saja, Madav juga harus jadi anak yang baik. Ayo kita masuk," ajaknya menggandeng tangan mungil putranya.
Setelah menutup kembali pintunya, tak sengaja Nyonya Tyas melihat Amanda yang sedang melamun. Sebelum menegurnya, ia lebih dulu meminta putranya untuk duduk di sofa menyelesaikan puzzle yang masih belum terpasang semuanya.
"Manda, kamu kenapa?" tanyanya sembari duduk di kursi samping bed.
"Ti-tidak Nyonya, saya hanya sedang berpikir sampai kapan saya harus disini. Saya harus bekerja," menghapus air matanya yang sudah membasahi kedua pipinya yang chubby.
"Sabar ya Manda, maaf membuatmu jadi harus seperti ini ... apa yang harus aku lakukan untuk menebus semuanya?"
Mereka saling melempar pandangan dan terdiam untuk beberapa saat. Ada rasa iba saat Nyonya Tyas memandang wajah gadis di hadapannya. Dia merasa seperti sedang melihat dirinya sendiri pada 5 tahun silam.
"Apa maksud Nyonya? Ini bukan salah Nyonya, toh saya melakukan ini tulus dari hati saya Nyonya. Sungguh," ucapnya menggeser posisi duduknya.
"Kamu tau? 5 tahun yang lalu, aku juga sama sepertimu. Aku adalah anak orang miskin, Ayah dan Adikku meninggal secara naas. Saat aku melihatmu barusan, aku merasa seperti mwlihat diriku di masa lalu ... ." air mata tak mampu lagi terbendung, isak tangis terdengar dengan jelas membuat Amanda kebingungan.
"Nyonya, jangan menangis. Maaf jika saya membuat Nyonya teringat dengan masa lalu Nyonya," ucapnya merasa bersalah.
"Tidak, tidak ada yang salah. Justru aku merasa sedikit senang bisa mengingat kembali diriku di masa lalu, dan mungkin kamu jauh lebih beruntung dariku,"
...MADAVA FURNITURE COMPANY...
Pertemuan pertama sudah selesai, semua berjalan dengan lancar sesuai yang mereka harapkan. Tuan Arsen segera kembali ke ruang kerjanya, di ikuti oleh Kemal yang berjalan 3 langkah di belakangnya.
Sebelum ikut masuk ke ruang kerja Tuan Arsen, Kemal meminta salah satu staffnya untuk memesan makan siang untuk Tuan Arsen dan dirinya.
"Kau tau kan apa yang sedang aku pikirkan saat ini?" ujarnya menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa.
"Ya, Tuan. Saya mengerti," jawabnya dengan singkat.
"Apakah kau ada curiga dengan seseorang yang kau kenal?"
"Maaf, tidak ada Tuan. Atau mungkin belum,"
__ADS_1
Tring!
• Tuan saya sudah mengirimkan foto seseorang yang terduga sebagai dalang dalam kejadian tersebut. Sebuah mobil berwarna hitam terparkir di seberang sekolah sekitar pukul 15.30 WIB, dari cctv terlihat salah satu dari mereka tampak memberikan kode atau isyarat pada beberapa pria yang beraksi memasuki halaman sekolah dan membawa Tuan Muda.•