
"Tunggu aku, pastikan dia tidak pergi lagi. Segera kirimkan sharelok!"
"Baik, Tuan!"
Tak lama kemudian setelah panggilan terputus, sebuah pesan masuk dari anak buahnya mengirimkan sharelok. Tanpa menunggu lama, Kemal segera menginjak gas mulai meninggalkan basement.
>>>>>>>>>>
Lokasinya tidak terlalu jauh dengan kwberadaannya saat ini. Mungkin hanya perlu waktu tempuh selama 1,5 jam untuk tiba di lokasi. Kemal mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi.
Jalanan sedang sepi, gerimis turun membuat orang enggan untuk keluar rumah jika tidak ada kepentingan atau kebutuhan yang mendesak. Ia hanya berhenti berhenti dua kali karena lampu merah.
Sesampainya di lokasi, dua anak buahnya sudah berdiri menantikan kedatangannya. Melihat sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di hadapannya, mereka segera berdiri dengan tegap bersiap untuk menyambutnya.
"Apakah ada perkembangan?" tanyanya setelah berdiri tepat di hadapan keduanya.
"5 menit yang lalu dua orang pria berusia sekitar 45 tahun dan 47 tahun keluar dari rumah itu, Tuan!" jawabnya dengan tegas.
"Lalu, apakah orang itu masih di dalam?"
"Ya Tuan!"
"Baiklah, salah satu dari kalian ikut aku masuk. Yang lain berjaga-jaga di luar. Jika ada hal yang mencurigakan segera berika kode," petintahnya.
"Baik, Tuan!"
"Sebentar lagi kau tak akan bisa bernafas dengan tenang," batinnya dengan langkah cepat berjalan mwndekati sebuah rumah berukuran sedang dengan model klasik.
Ting Tong!
Tak lama kemudian, seorang perempuan paruh baya membukakan pintu. Dengan ramah ia menanyakan maksud kedatangannya. Dari cara berpakaian dan sikapnya ia merupakan art di rumah ini.
"Selamat sore, Tuan! Maaf mau mencari siapa?" tanyanya dengan wajah yang ramah.
"Saya ingin bertemu dengan pemilik rumah ini, bolehkah kami masuk?"
"Oh silakan. Saya panggilkan dulu Ibu Mayang,"
Setelah mengantar Kemal dan salah satu anak buahnya duduk di ruang tamu. Ia segera bergegas masuk ke dalam untuk memanggil Tuan rumah.
"Tetap waspada," bisiknya dengan lirih.
"Baik, Tuan!" jawabnya.
"Selamat sore, Tuan! Maaf jika menunggu terlalu lama," ucapnya dengan ramah.
Wanita paruh baya berusia sekitar 56 tahun datang dengan dress berwarna hitam dengan panjang 10 cm di bawah lutut. Wajahnya cantik, namun tak menutupi wajah judesnya meski sudah di tutupi dengan make up.
"Maaf, ada keperluan apa? Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Maaf jika kedatangan kami mengganggu waktu istirahat anda Nyonya,"
"Tidak apa, Tuan! Maaf pertanyaan saya belum di jawab, ada perlu apa kalian kemari? Ah, tentu saja kalian ingin mencari anak kecil bukan? Kebetulan kami masih ada beberapa stok," ujarnya tanpa menaruh curiga.
"Jadi ini adalah sindikat jual beli anak? Lalu mereka hendak menculik Tuan Muda Kecil dan hendak menjualnya? Dan darimana Tuan Arsen mengenal wanita ini?" batinnya terus menatap wanita di depannya yang masih berceloteh menjelaskan apa saja yang ada di rumahnya.
"Maaf Nyonya! Bisakah anda ulang kembali, saya tadi sedang tidak fokus," ujarnya beralasan.
"Baik, Tuan! Jadi ... ." menjelaskan kembali dengan intonasi yang lebih jelas.
"Bagaimana Tuan?" ucapnya setelah penjelasan berakhir.
"Kami tentu saja tertarik Nyonya! Tapi tidak tau dengan Tuan kami, kalau boleh bisakah Nyonya ikut dengan kami untuk bertemu dengan Tuan kami?"
"Hmm ... baiklah! Kebetulan saya sedang tidak sibuk. Kalau begitu saya siap-siap dulu ya,"
"Silakan Nyonya,"
"Keluar dan perintahkan pada yang lain untuk pergi dari sini dan standby di tempat semula," bisiknya pelan.
"Baik, Tuan!"
Sementara itu,
"Wah, Yas! Aku tidak menyangka kau sesukses ini sekarang, rumah besar, suami tampan dan pengertian, anak yang menggemaskan. Hah!" ujarnya berdecak kagum.
"Semua tidak instan Wi, kau tau sendiri kan. Kami memulai semuanya dari 0. Berkat kerja keras Mas Arsen, kami bisa seperti ini sekarang. Oh ya, bagaimana pekerjaanmu sekarang?" tanya Nyonya Tyas.
"Syukurlah, setidaknya ada kegiatan yang kau kerjakan Wi! Nikmati masa-masa emasmu sebelum statusmu berubah menjadi ibu rumah tangga."
"Tapi kalau aku jadi ibu rumah tangga dan punya pasangan dan anak yang sepertimu aku tidak masalaj Yas," celetuknya.
"Hahah! Karena kamu hanya melihat kami yang sekarang Wi. Bukan yang dulu saat kami baru datang ke kota ini. Dan aku yakin, suatu saat kamu akan bertemu dengan orang yang tepat,"
"Aamiin, jujur aku juga sudah ingin menikah. Tapi jodohku belum datang juga,"
"Sabar Wi, Tuhan sedang mengatur waktunya untukmu. Dan kalau kamu sudah menikah pasti kamu tidak akan pernah datang kesini kan?"
Dua anak manusia yang baru saja bertemu kembali masih asyik berbincang-bincang di ruang tengah. Nyonya Tyas begitu senang dengan kedatangan sahabatnya.
...ARSEN POV...
"Mereka asyik sekali, aku tidak akan mengganggunya. Biarkan mereka mengobati rasa rindunya selama bertahun-tahun tak bertemu,"
tring!
• Tuan kami sedang dalam perjalanan membawa terduga ke lokasi yang sudah kita sepakati,•
"Kau memang selalu bisa di andalkan Kemal,"
__ADS_1
Aku segera kembali ke kamar bersiap-siap untuk pergi ke tempat yang sudah kami sepakati. Aku akan memberikan perhitungan yang setimpal bahkan lebih dari apa yang sudah dia lakukan pada anakku meski tak melukainya.
"Sayang, Ayah melakukan ini buat kamu, hanya untukmu ... ." ujarku lirih membelai rambut putraku yang masih tertidur.
Saat aku hendak keluar dari kamar, putaku memanggilku. Akupun berbalik badan memasang senyum terbaikku untuknya. Dia langsung duduk dan mengerjapkan kedua bola matanya yang bulat.
"Kau sudah bangun?"
"Ayah mau kemana?"
"Ayah ada urusan sebentar Nak, ayo Ayah antar kamu ke Ibu. Tante Dewi sudah datang," ucapku segera merengkuh tubuhnya ke dalam pelukanku.
"Apakah Ayah akan lama?" tanyanya di sepanjang perjalanan menuju lantai bawah.
"Tidak, hanya sebentar. Mana bisa Ayah pergi lama-lama meninggalkan kamu dan Ibu,"
"Ayah hati-hati. Apakah pergi bersama Paman Kemal?" tanyanya lagi.
"Tentu saja Nak, Paman Kemal sudah menunggu Ayah disana. Kamu sama Ibu dulu ya, jagain Ibu. Ayah menyayangimu," ucapku mengecup pipinya yang chubby.
"Maaf, apa aku mengganggu kalian?" sapaku pada mereka yang sedang asyik berbincang.
"Hey Mas, hey sayang! Kamu sudah bangun?"
"Maaf Sayang, aku harus pergi sebentar. Dengan terpaksa aku harus menitipkan anak kecil ini padamu," ujarku menurunkan Madav.
"Hey Dewi! Bagaimana kabarmu?" sapaku pada adik sahabatku.
"Baik, Kak! Bagaimana kabarmu?"
"Aku juga baik, seperti yang kau lihat. Maaf ya aku harus pergi sebentar, karena ada urusan mendadak," ucapku padanya.
"Tidak apa Kak, semoga urusan cepat kelar ya ... ."
"Terimakasih," ucapku.
"Mas mau kemana? Apa Kemal yang memintamu untuk pergi? Kan 3 jam lalu kalian baru ketemu. Apa sudah saling kangen lagi?" tanyanya dengan raut wajah yang tak bisa di tebak.
"Haha! Kamu cemburu? Mana mungkin aku berpaling dari isteriku yang cantik. Aku masih normal sayang,"
"Terus ada apa? Tidak biasanya mas kalau sudah pulang kerja pergi lagi,"
"Ada urusan sedikit, ini masalah laki-laki. Jadi kamu tidak perlu tau. Ang harus kamu tau, kamu adalah satu-satunya wanita yang ada di hatiku untuk saat ini," rayuku padanya.
"Cih! Gombal ... Ya sudah, jangan lama-lama. Sebelum waktunya makan malam Mas harus sudah sampai rumah," rengeknya.
"Iya Sayang, Mas pergi dulu ya. Cupp!"
"Maaf ya Wi kita tidak ada maksud pamer kok," ucapku padanya.
__ADS_1
"Heh! Tidak apa, anggap saja aku batu Kak!" jawabnya membuat kami tertawa sore itu.