Terpaksa Menikah Tanpa Restu

Terpaksa Menikah Tanpa Restu
Gadis Berjaket Hitam


__ADS_3

Setelah semua keluar, dan tinggal Tyas dan suaminya. Mereka terdiam untuk beberapa saat, Tyas sedikit kesal dengan suaminya yang malah menyetujui ide dari bagian divisi pemasaran.


"Kok Mas gitu sih?" ujarnya kesal.


"Kenapa, sayang? Aku hanya ingin membantu mereka saja," jawabnya dengan enteng.


"Tapi kan, Mas ... bukan gitu caranya," ujarnya berusaha mengelak.


________________


"Lalu, gimana caranya?" tanyanya berdiri dari tempat duduknya berjalan mendekati isterinya yang masih berdiri di depan layar.


"Haih! Entahlah, ayo kita pergi saja. Sebentar lagi waktunya Madav pulang," ujarnya hendak meraih tas berwarna hitam di atas meja rapat.


Namun di luar dugaan, Tuan Arsen mendorong isterinya ke tembok dan menghimpitnya tanpa ada celah untuk Tyas menghindar. Kedua matanya saling bertatapan, Tyas hanya bisa menelan salivanya yang hampir keluar melewati celah bibirnya yang tipis.


"Hey, Mas mau apa? Mas tau kan, ini ruang ... mmmh,"


Tanpa aba-aba, Tuan Arsen segera melu*at bibir Tyas dengan penuh hasrat. Tyas yang belum siap sangat kewalahan dan hampir saja kehabisan nafas. Mereka berpagutan cukup lama, hampir 15 menit.


Dan saat tangan Tuan Arsen hendak berjalan-jalan menjelajahi tubuh wanitanya, tiba-tiba terdengar suara pintu lift yang terbuka. Tyas segera mendorong tubuh Arsen dan merapikan bajunya yang kusut.


"Iiish, Mas sih. Udah tau ini di ruang rapat, masih saja nafsuan," ujarnya.


"Siapa yang menggangguku," ujarnya merapikan jas yang di pakaianya.


"Permisi, Tuan dan Nyonya! Sebentar lagi Tuan kecil sudah waktunya pulang, sebaiknya kita segera bergegas menuju ke sekolahnya," ujar Kemal yang berdiri dengan tegap.


"Ayo, berangkat ... ." ucap Tyas dengan semangatnya.


"Haih! Kau menggangguku saja," gerutunya dengan kesal.


"Ma-maksud Tuan?" tanya Kemal yang merasa bingung.


"Memang aku melakukan kesalahan apa?" batinnya bingung.


Sebelumnya,


"Apakah saat Nyonya datang, ada pemgunjung atau tamu yang membuatnya tidak nyaman?" tanya Kemal pada anak buahnya yang berdiri di depan pintu lift lantai bawah.


"Tidak, Tuan! Semua aman,"


"Bagus, terimakasih untuk kerjanya hari ini,"


"Sudah pukul 15.30 ... sebentar lagi waktunya Tuan Kecil pulang. Tapi Tuan dan Nyonya belum juga turun. Baiklah aku akan menyusulnya,"


Kemal segera bergegas dan menekan tombol lift untuk membuka pintunya. Setelah pintu lift terbuka, ia segera masuk dan kembali menekan tombol untuk menutupnya dan menekan tombol angka 21.


Di tempat lain,


"Sebentar lagi jam pulang sekolah akan tiba, pastikan kalian tidak salah sasaran," ucapnya melalui telepon seluler.

__ADS_1


Dan benar saja, beberapa menit kemudian terlihat beberapa murid mulai terlihat berlarian menghampiri orangtuanya yang sudah berdiri menunggu anak-anaknya. Satu-persatu mereka mulai pergi meninggalkan area sekolahan.


Dari jauh terlihat masih ada seorang murid dalam gendengan gurunya. Mungkin masih menunggu yng akan menjemput, melihat situasi yang sepi beberapa komplotan bertopeng segera turun dari mobil yang sudah terparkir di halaman sekolah.


"Mereka siapa Ms?" tanya Madav menunjuk ke arah beberapa pria yang sedang berjalan menuju ke arahnya.


"Tidak tau Sayang. Yang pasti mereka bukan orang baik. Kamu tenang ya," ucap Ms Clara mengeratkan pegangan tangan ke Madav.


"Apa mereka akan menyakiti kita Ms?"


"Tidak akan, Ms akan pastikan mereka tidak akan menyentuhmu," ucapnya meski dalam hatinya ia juga panik.


"Serahkan anak kecil itu," ucap salah satu pria yang bertopeng.


"Tidak akan, jangan macam-macam. Pergilah," jawabnya dengan suara yang sedikit bergetar.


"Serahkan! Atau kami akan membuat keributan disini?" ancamnya lagi.


"Madav, mundur Nak! Ikuti Ms, Okey!"


Tanpa di sadari di belakang sudah berdiri dua pria bertopeng yang lainnya. Mereka dengan cepat merebut Madav dari tangan Ms Clara dan membawanya lari ke luar sekolah.


"Berhenti, jangan ambil dia ... ." teriaknya panik saat melihat Madav sudah dalam gendongannya.


Bugg!


Sebuah pukulan dengan benda tumpul tepat mengenai tengkuknya dan berhasil membuatnya tidak sadarkan diri. Mereka segera mengikat Ms Clara dan membungkam mulutnya dengan lakban.


"Diam kau anak kecil," bentaknya.


"Om orang jahat ya?" tanyanya lagi.


"Ya, aku orang jahat. Kamu mau apa?" bentaknya semakin keras.


Madav langsung menangis dan berteriak minta di lepaskan, kedua tangannya yang kecil terus memukuli dada pria yang menggendongnya.


"Hi! apa yang kau lakukan? Lepaskan dia!" teriak seorang gadis yang menggunakan jaket berwarna hitam turun dari motor matic.


"Jangan ikut campur, atau kau akan menyesal karenanya," ujarnya mengancam.


"Aku tidak ikut campur. Hmm, bagaimana kalau kita duel saja, satu lawan satu. Kalau aku yang menang, lepaskan anak itu. Bagaimana?" ujarnya memberikan pilihan.


"Heh! Memang kau siapa berani mengajakku duel?"


"Aku cuma seorang wanita biasa," jawab sekenanya sambil meregangkan otot-otot di badannya.


"Sombong sekali, baiklah tantanganmu aku terima. Kau turun, dan diam disini!" ujarnya pada Madav


Keduanya duel unjuk kekuatan masing-masing. Gadis berjaket hitam tersebut dengan sigap berhasil menghindar tendangan dan beberapa pukulan dari pria bertopeng.


"Cih! Mana? Apa kau sedang mengajakku bermain?" ledeknya.

__ADS_1


"Sial! Rasakan ini,"


Buggg!


"Kakak!" teriak Madav saat melihat gadis tersebut jatuh terjerembah akibat pukulan yang mengenai bagian perutnya.


"Aku tidak apa, Sayang! tenanglah!" ucapnya memegangi perutnya dan berusaha untuk berdiri lagi.


Tendangan kembali melayang hampir mengenai kepalanya, namun dengan cepat gadis itu menangkap kaki pria tersebut dan membuatnya hingga terkilir kemudian mendorongnya ke belakang hingga jatuh terjungkal.


"Heh? Kau kenapa jatuh?" tanyanya tersebut berpura-pura seperti orang bo*oh.


"Kakak hebat!" teriak Madav bertepuk tangan.


Bugg! bugg!


Sebuah pukulan datang dari arah belakang, membuatnya tak bisa menghindari pukulan dan jatuh tersungkur. Dengan cepat ia segera bangun dan berbalik badan, dua pria bertopeng sudah berdiri di sana dan membawa senjata tajam di tangannya.


"Sayang, berbaliklah dan tutup matamu! Jangan buka sebelum aku menyuruhmu untuk membukanya ya," ucapnya pada Madav.


"Kenapa Kak?" tanyanya.


"Ikuti saja, ini untuk kebaikanmu ... ."


Madav pun berbalik badan dan menutup kedua matanya dengan tangan.


"Tunggu dulu, kalian punya senjata. Tapi aku tidak ada, sebentar!" ujarnya meraba-raba badannya yang sebenarnya hanya ingin menunda waktu berharap ada polisi yang kebetulan lewat dan menolongnya.


"Kenapa tempat ini sepi sekali? Bukankah ini jalanan umum?" batinnya terus meraba-raba tubuhnya.


"Cih! Lama sekali, kau pikir kami akan tertipu dengan taktikmu?"


"Kyaaaaa" teriaknya seraya melayangkan pisau dan berhasil merobek jaket kulit bagian lengannya.


"Astaga! Kau merobek jaketku, kau tau aku mengumpulkan uang hampir 6 bulan untuk bisa membeli jaket ini. Dan kau merobeknya begitu saja?"


"Apa peduliku, sebaiknya kau pergi sebelum aku hanya menyisakan pakaian dalam yang menutupi tubuhmu! Hahaha,"


Bugg! bugg! bugg!


Pisau terlempar jauh ke tengah jalan dengan sekali tendangan yang mengenai tangan salah satu pria di depannya. Tak ingin menunda banyak waktu gadis itu terus memukuli wajahnya hingga membuatnya kehilangan keseimbangan.


Srett!


"Ah!" lengan kanannya tergores pisau, darah segar mengalir lumayan banyak membuatnya merasa sedikit lemas.


"Masih kurang?" ujarnya serayu berjalan maju mendekatinya.


Buggg!


Sebuah tendangan tepat mengenai punggungnya membuatnya tersungkur mencium kerasnya aspal.

__ADS_1


__ADS_2