Terpaksa Menikah Tanpa Restu

Terpaksa Menikah Tanpa Restu
Pertengkaran


__ADS_3

"Ibu!" teriak suami dan anak kecil yang saat ini sudah berdiri di hadanku.


"Heh? Iya Sayang? Ada apa?" jawabku dengan gugup.


"Ayo tidur," ajaknya padaku.


"Aish! Kirain ada apa, okey! let's go!"


_________________


Setelah melakukan ritual sebelum tidur dan mengantar jagoannya ke kamar, Tyas segera mematikan lampu dan duduk di atas ranjang. Ia teringat dengan kejadian tadi siang, saat bertemu dengan wanita paruhbaya yang yang mangatakan jika dia adalah sahabat ibu mertuanya.


Banyak pertanyaan berkecamuk dalam kepalanya, entah kebetulan atau mereka sengaja mencari keberadaannya. Tapi perasaannya sedikit tidak tenang, dan takut jika mereka tau Madav adalah anak hasil pernikahannya dengan Arsen.


"Bu, buatkan kopi ya!" panggil Mas Arsen dari ruang kerjanya.


"I-iya Mas, sebentar!" sahut Tyas dengan gugup.


Mungkin dia harus cerita pada suaminya tentang kejadian tadi siang. Kali saja suaminya ada ide atau bisa memberikan rasa tenang padanya. Setidaknya solusi supaya putranya aman dan tidak ada yang mengganggunya.


Tyas segera bergegas menuruni anak tangga, menuju dapur untuk memasak air. Ia mengambil toples kecil berisi gula dan juga kopi dari dalam lemari kecil di atas kepalanya. Setelah menuangkan kopi dan gula ke dalam gelas, ia masih harus menunggu beberapa menit sampai air mendidih.


Tak lama ia menunggu, air dalam ceret kecil sudah berbunyi menandakan air sudah mendidik dan siap untuk di tuangkan ke dalam gelas yang sudah berisi gula dan kopi. Setelah mengaduk selama satu menit, Tays segera membawanya ke atas dengan nampan kecil.


"Mas, ini kopinya ... ." ujar Tyas menaruh kopi di atas meja kerja suaminya dan dia ikut duduk di kursi dekat suaminya.


"Lembur apa Mas?" imbuhnya setelah menatap layar monitor yang menampilkan grafik angka.


"Untuk pertemuan besok lusa, Sayang! Doakan ya semoga goal!" ujarnya dengan senyum manis di wajahnya.


"Aamiin, kita selalu mendoakan yang terbaik untukmu, Mas!" jawabnya dengan tulus.


"Terimakasih, Sayang!"


"Mas, aku ingin cerita pada Mas. Boleh meminta sedikit waktunya? sebentar saja," ujarnya lagi.


"Hmm, ada apa? Katakan saja," sahutnya sambil merubah posisi duduknya dan mencondongkan badannya ke arah isterinya.


"Tadi siang, saat aku menjemput Madav. Gak sengaja ketemu sama seorang wanita cantik, katanya dia sahabat Mommy," ucapnya dengan pelan.

__ADS_1


"Si-siapa?"


"Dia bilang namanya Dini," jawabnya lagi.


"Lalu, apa yang kalian bicarakan?"


"Aku langsung pergi, aku takut dia datang bersama suruhan Daddy dan akan membawa Madav. Aku takut mereka akan memisahkan aku sama kalian," ujarnya mulai terisak.


"Sayang, dengarkan aku. Gak ada yang bisa pisahin kita, apapun yang terjadi kita akan selalu bersama. Mana mungkin mas meninggalkan bidadari secantik kamu," ujarnya sedikit menghibur isterinya agar tidak sedih.


"Mas, aku serius ... ."


"Lihat mataku, apa ada kebohongan disana? Aku gak bisa hidup tanpa kalian, kami dan Madav adalah hidupku. Mana mungkin aku akan bisa bertahan hidup tanpa salah satu dari kalian. Sekarang kamu tenang ya, mungkin Tante Dini hanya sedang liburan atau ada acara di kota ini,"


"Mas gak akan biarkan mereka mengambil anak kita," imbuhnya lagi.


"Hmm, makasih ya Mas! Setidaknya jawabanmu membuat aku merasa sedikit tenang, ingat hanya sedikit ... ." ujarnya mengulang kalimatnya dengan jelas.


"Iya sayang, iya. Sedikit, sini peluk ... ."


Tyas bangun dari duduknya dan berpindah posisi duduk di pangkuan suaminya. Mereka berpelukan sangat erat dalam waktu yang sedikit lama. Di belainya rambut isterinya yang tergerai panjang, memberikan rasa nyaman untuk menangkan kesedihan yang saat ini melandanya.


"Iya, Mas. Jangan lama-lama. Ini sudah malam,"


Tyas berlalu kembali ke kamarnya, melakukan ritual sebelum tidur.


...*A***RSEN POV**...


Mataku tak berkedip melihat punggung isteriku yang perlahan menjauh dan hilang di balik pintu ruang kerjaku. Aku tak bisa membayangkan jika siang tadi aku berada di posisinya, wajar saja dia merasa takut. Apalagi selama ini kami memang tidak pernah komunikasi dengan orang-orang di masa laluku.


Melihatnya menangis, membuat hatiku tergores merasakan kesedihan yang dia rasakan. Lagi-lagi aku merasa gagal memberikan rasa nyaman pada mereka, mungkin benar kata Kemal. Aku harus mencarikan asisten untuknya, yang bisa bela diri dan menjaganya dimanapun mereka berada.


[Carikan wanita yang bisa bela diri, pastikan dia wanita baik-baik. Dan bersedia menjaga isteriku dengan sepenuh hati. Masalah gaji aku akan memberikan berapapun yang dia mau.]


[Satu lagi, cari info mengenai keluarga Billy Abraham. Mereka dari Jakarta, cari tau maksud dan tujuan mereka datang ke kota ini. Dan ingat jangan sampai ada yang mengetahuinya.]


Sementara itu,


Sepulang dari kantor, Kemal berhenti di bahu jalan membeli nasi goreng gerobak yang mangkal di pinggir danau buatan di kotanya. Ia memesan satu porsi dengan tingkat kepedasan sedang.

__ADS_1


Saat sedang menunggu nasi goreng di siapkan. Tak sengaja dia mendengar suara keributan dari pinggir danau, karena penasaran dia mendekati mereka dan diam-diam menyimak perbincangan keduanya yang sepertinya sedang bertengkar hebat.


"Ikuti saja kemauan Mamah mu, tak usah pedulikan aku!" teriak seorang gadis dengan gaun beludru merah.


"Bukan begitu maksudku, apa yang Mamah ucapkan ada benarnya. Harusnya kau juga mendengarkannya, Mamahku juga perhatian padamu. Dia hanya ingin kamu mengubah sedikit penampilanmu yang seperti preman," sahutnya meminta pengertian dari pacarnya.


"Apa matamu tidak liat? Aku sudah berdandan semaksimal mungkin, bahkan aku dengan susah payah memakai higheels ini. Tapi apa yang dia katakan? Bahkan dia mempermalukanku di depan banyak orang," teriaknya lagi.


"Kamu salah, Mamah hanya menegurmu ... ayolah mengerti sedikit saja,"


"Sudahlah, sebaiknya kamu pergi saja. Aku ingin sendirian sekarang, pergi!" ujarnya mengusir.


"Sayang, aku mohon," pria itu segera memeluk wanitanya dan ******* bi*irnya.


Untung saja sekitar danau gelap, meski masih bisa sedikit terlihat dengan jarak yang sedikit dekat. Kemal hanya tertegun, melihat adegan di depan matanya. Sesaat dia tersadar dan hendak berbalik ke penjual nasi goreng. Namun saat kakinya baru mau melangkah, ia mendengar suara pukulan.


Plakk! Bugg! Bugg!


"Dasar pria bengsek! Jangan harap aku akan luluh denganmu, kau sangat menjijikan!" teriaknya setelah memukuli pria yang saat in terpental setelah di tendangnya dengan cukup keras.


"Kau berani menendangku? Kau pikir aku tidak berani? Dasar gadis tidak tau di untung," ujarnya perlahan mulai bangun dan hendak mendekati gadis di depannya.


Bugg!


"Bangun lagi, ayo! Kau pikir aku tidak bisa menjaga diriku? Kau boleh menganggap remeh gadis lain, tapi tidak denganku,"


sett!


Pria itu menendang kaki gadis di depannya dna membuatnya jatuh tersungkur. Bukannya menolongnya malah pria itu semakin mendekatinya dan melepaskan jas yang di kenakan dan melempar ke sembarang arah.


"A-apa yang mau kau lakukan? Pergilah!" Ujarnya ketakutan dan perlahan mundur dnegan bantuan kedua tangan dan kakinya.


"Ini yang kau mau bukan?" tanyanya dengan senyum licik.


Bugg! bugg! bugg! brakkk!


Kemal secara diam-diam dan menendang punggung pria tersebut, dan memberinya beberapa pukulan hingga bibirnya berdarah dan terlempar cukup jauh.


"Kau tak apa?" tanya Kemal.

__ADS_1


__ADS_2