Terpaksa Menikah Tanpa Restu

Terpaksa Menikah Tanpa Restu
Sebuah Tawaran


__ADS_3

"Syukurlah, terimakasih ya. Kamu sampai bertaruh nyawa unruk menolong putra kami, mungkin kalau kamu tidak ada. Kami sudah bingung mencari keberadaan anak kami," ujarnya.


"Oh, dia orangtua anak kecil itu. Syukurlah, anak itu baik-baik saja. Setidaknya rasa sakitku terbayarkan," batinnya.


"Ibu," panggil Madav yang baru tiba bersama Ayahnya.


____________


"Hei, Sayang. Kemarilah!" panggil Nyonya Tyas.


"Sapa Kakak cantik dulu," imbuhnya mengusap kepala putranya dengan lembut.


"Hai, Kakak cantik! Makasih ya udah tolongin aku," ujarnya.


"Hai, Sayang! Sama-sama, kamu tidak apa-apa kan?" tanyanya dengan gemas melihat wajah Madav yang imut.


"Tidak, aku tidak apa. Kakak cantik baru bangun ya?"


"Heheh, iya. Aku baru bangun," jawabnya tersipu malu.


"Aku bawakan sarapan untuk kalian, makanlah dulu. Aku tau kamu pasti akan sungkan memakan makanan rumah sakit, jadi aku bawakan sekalian," ujarnya membuka bekal makanan yang ia bawakan dari rumah.


"Kemak, makanlah dulu. Kamu harus mendampingi suamiku seharian ini kan?" ucap Nyonya Tyas pada Kemal.


"Baik, Nyonya. Terimakasih,"


Mereka menyantap sarapan yang di bawakan Nyonya Tyas, sementara itu Tuan Arsen, Nyonya Tyas dan Madav berdiri di balkon ruang rawat sambil memandangi sekitar rumah sakit dari ketinggian.


"Mas, aku dan Madav disini dulu ya. Aman kok!" ucapnya.


"Kamu yakin? Apa anak kita tidak akan bosan?"


"Sayang, kamu mau kan kita disini dulu? jagain Kakak cantik," tanya Nyonya Tyas pada putranya.


"Mau Bu," jawabnya tanpa berpikri panjang.

__ADS_1


"Tuhkan, anak kita mau ... ."


"Hm, baiklah! Kalau ada apa-apa hubungin aku atau Kemal. Hari ini ada dua pertemuan, pertemuan kemarin dengan para divisi batal dan di ganti hari ini," ujarnya.


"Iya Mas, tidak apa. Kamu harus fokus kerjanya, aku dan Madav mendoakan yang terbaik untukmu. Yang paling penting jangan telat makan,"


"Iya,"


Setelah Kemal selesai sarapan, Tuan Arsen segera berpamitan pada isteri dan anaknya. Tak lupa diam-diam ia meminta Kemal mengirimkan anak buahnya untuk berjaga-jaga di lorong rumah sakit tempatnya mereka berada.


Tak lama setelah itu, perawat masuk membawa troli kecil yang diatasnya berisi obat, dan box kecil yang ternyata isinya adalah satu kantong darah untuknya. Nyonya Tyas meninggalkan Madav yang sedang duduk di sofa sambil menikmati snack yang dia bawa dari rumah tadi.


"Apakah darahnya masih kurang sus?" tanya Nyonya Tyas memastikan.


"Tidak Nyonya, ini sudah cukup. Kondisi pasien audah jauh lebih baik dari sebelumnya. Semalam sudah kami berikan satu kantong darahnya. Dan pagi ini kami berikan lagi," ujarnya seraya menyiapkan selang tranfusi yang baru lagi.


"Oh, begitu. Syukurlah,"


"Kapan saya boleh pulang Sus?" tanyanya.


"Saya belum bisa mengatakannya Nona, karena kami hanya menjalankan advise dokter. Kalau kondisi Nona sudah jauh lebih baik dari ini, mungkin bisa pulang lebih cepat," ujarnya dengan ramah.


"Tenanglah, aku dan Madav akan menemanimu hari ini,"


"Terimakasih Nyonya. Tapi saya tidak enak, kalau harus merepotkan Nyonya ... ."


"Tidak perlu sungkan, apa yang sudah kamu lakukan untuk putraku ... aku dan suamiku belum tentu bisa membalasnya,"


"Hanya itu yang bisa saya lakukan, Nyonya!" ucapnya.


...TYAS POV...


Namanya Amanda, gadis cantik berusia 23 tahun yang memiliki sifat tomboy namun hatinya begitu lembut. Kalau tidak, mana mungkin dia rela mengorbankan nyawanya untuk menolong anak kecil yang tidak dikenalnya.


Dia sangat sopan, dan menyukai anak kecil. Bahkan Madav saja menyukainya. Sejak tadi mereka terys tertawa entah apa yang sednag mereka bicarakan. Sesekali aku hanya melirik, sambil membukan benda pinta berbentuk pipih di tanganku.

__ADS_1


Bukannya aku cuek atau tidak suka, aku sangat suka. Tapi saat ini, aku memang harus benar-benar membuka ponselku untuk melihat hasil rapat kemarin sore yang kami selenggarakan di Neo Hotel.


Pagi ini, divisi pemasaran dan iklan melaporkan jika setting tempat dan waktu sudah mereka siapkan. Tinggal menunggu kesiapan dariku, entah apa yang suamiku katakan pafa mereka hingga mereka nurut dan langsung bekerja dengan cepat mempersiapkan semuanya.


Mau tidak mau aku harus menyetujuinya, toh apa yang suamiku katakan ada benarnya. Selama ini aku hanya bekerja di belakang layar dan hampir tidak pernah ikut andil dalam urusan pekerjaan. Mungkin saat ini adalah waktunya untukku action dan membuktikan bahwa aku tidak hanya mengandalkan fasilitas pelayanan yang sudah suamiku berikan selama ini.


"Manda, kamu bekerja dimana?" tanyaku berjalan mendekatinya.


"Saya bekerja sebagai security di salah satu toko di pusat perbelanjaan di kota ini Nyonya," jawabnya berkata jujur.


"Bagaimana kalau aku memintamu untuk menjaga putraku? Aku akan menggajimu 3x lipat dari gaji yang kamu terima saat ini, kalau perlu 5x lipatny," ujarku menawarkan padanya.


"Ta-tapi,"


"Please, sampai saat ini aku masih takut kalau terjadi apa-apa padanya. Dan nanti bukan hanya kamu yang menjaganya, tapi beberapa orang suruhan suamiku juga ikut menjaga kalian," ucapku lagi.


"Beri saya waktu untuk berfikir Nyonya," ucapnya dengan sopan.


"Baiklah, aku harap kamu akan setuju. Tapi bukan berarti aku memaksamu," ucapku menyunggingkan sebuah senyum terbaikku yang aku punya.


...AMANDA POV...


Aku seperti sedang mimpi, baru kali ini aku merasa betah di rumah sakit. Kasur empuk, ruangan ber-AC, pelayanan sangat baik, dan ada makhluk kecil yang tampan saat ini duduk di dekatku.


Mereka tidak seperti orang kaya pada umumnya yang aku bayangkan. Mereka sangat care dan menghargai satu sama lain, bahkan denganku saja yang hanya orang biasa begitu ramah hingga membuatku tak enak hati di buatnya.


Makhluk kecil yang tampan ini, sangat pintar. Dan dia pun begitu peduli dengan orang lain, saat kau meringis menahan sakit di lengan sebelah kanan, dia langsung memajukan bibir mungilnya untuk menenangkanku.


"Ssstt ... sakit ya Kak? Aku panggilin Om Dokter ya biar Kakak gak kesakitan lagi," celetuknya membuatku seketika lupa dengan rasa sakit yang hampir membuatku ingin menangis.


"Tidak, Sayang! Kakak udah sembuh kok, makasih ya. Madav kenapa tidak sekolah?" tanyaku.


"Kata Ibu hari ini udah bilang sama Ms kalau aku mau temani Kakak cantik disini. Kan Kakak cantik sudah baik mau nolongin kau kemarin," ucapnya dengan begitu polos.


Huaa! aku gemas sekali sama makhluk kecil ini. Kalau boleh minta, nanti aku juga ingin punya anak yang lucu seperti dia. Nyonya Tyas dan Tuan Arsen pasti selalu terhibur dengan celotehan Madav yang ikut dan menggemaskan ini.

__ADS_1


Baru saja, Nyonya Tyas memintaku untuk menjaga Madav. Sebuah tawaran yang tidak bisa aku tolak, tapi aku takut kalau aku akan mengecewakan mereka. Tidak bisa menjaga Madav dengan baik, seperti yang mereka inginkan.


Tapi disisi lain, aku juga ingin dekat terus dengan makhluk kecil yang lucu ini. Tapi, tapi dan tapi ... kata-kata itu yang saat ini sedang berputar di atas kepalaku bak komedi putar di arena bermain.


__ADS_2