Terpaksa Menikah Tanpa Restu

Terpaksa Menikah Tanpa Restu
Paman Suka Lupa


__ADS_3

"Cih! Dia tidak menjawabku," gumamnya.


"Tuan, kita sudah sampai ...!" ujar Kemal.


"Oh, baiklah ... kita belum terlambat kan?"


"Belum Tuan!"


Tuan Arsen segera turun setelah Kemal membukakan pintu untuknya. Sekolah masih terlihat sepi, sepertinya belum ada orang tua yang datang untuk menjemputnya. Merekapun menunggu di aula, karena waktu masih tersisa sekitar 10 menit lagi dari jadwal yang sudah di beritahukan gurunya.


Tet ... Tet ... Tet ...!


Sebuah bel berbunyi 5 kali, menandakan jam pelajaran sudah berakhir. Terlihat wali kelas mengintip keluar memastikan orang tua siapa yang sudah datang lebih dulu agar para murid tidak lari berhamburan ke keluar.


Tak lama kemudian, terlihat seorang pria kecil dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya yang menggemaskan. Tuan Arsen segera berdiri dan melebarkan tangannya untuk menyambut putranya yang baru saja keluar dari kelas.


"Ayah!" teriaknya.


"Hey Sayang! Bagaimana sekolahmu?" tanya Tuan Arsen.


"Menyenangkan Ayah! Hari ini Miss mengajarkan kosa kata baru, aku menyukainya ...!" jawabnya.


"Anak pintar ... kalau begitu ucapkan sal dulu pada Miss!"


"Wǒ yào huí jiāle, nǚshì. Gǎnxiè jīntiān de kèchéng, wǒmen hěn kuài zàijiàn ... ." ucap Madav.


"Lùshàng xiǎoxīn ... zuò gè hǎo háizi. Míngtiān jiàn, Madav!" jawabnya.


"Mari Miss!"


"Silahkan Tuan!" jawabnya dengan ramah.


Mereka segera menuju mobil, Madav memilih duduk di samping Kemal katanya ingin melihat pemandangan di depan. Kemal pun mengiyakan dan memasang seatbelt melingkari tubuh mungilnya.


"Sayang, tadi apa yang kamu katakan pada Miss?" tanya Tuan Arsen.


"Madav bilang pulang dulu, terimakasih untuk pelajaran hari ini ... lalu Madav bilang sampai jumpa Miss. Memang Ayah tidak tau?" tanya balik Madav.


"Tidak! Ayah mana pernah ada mata pelajaran Mandarin ...!" sahutnya. "Lalu tadi Miss jawab apa?" tanya Tuan Arsen lagi.


"Miss bilang, sama-sama ... jadilah anak yang baik. Sampau jumpa Madav!" jawabnya dengan mimik wajah khas anak kecil nya.

__ADS_1


"Hah! Tidak sia-sia Ayah memasukkan kamu ke sana Nak!" ujar Tuan Arsen dengan bangga.


"Ayah, kita mau kemana?" tanya Madav.


"Kita mau makan dulu Sayang! Setelah itu kamu ikut Ayah ke Perusahaan ya? Ibu sedang ada pekerjaan di luar,"


"Hmm, Ayah ... kata Tante Dewi, Omah sama Opah orang yang sangat baik! Apakah Tante Dewi kenal Omah sama Opah juga Yah?" tanya Madav.


"Tentu saja, mereka adalah orang yang baik. Opah dan Omah sangat menyayangi Madav, tapi mereka belum bisa menemui Madav sekarang. Madav do'akan ya semoga Opah dan Omah sehat di sana," ujar Tuan Arsen dengan perasaan yang sedikit berat saat mengungkapkannya.


"Hmm, Iya Ayah! Kata Tante Madav harus berdoa, meminta sama Tuhan biar Madav bisa secepatnya bertemu dengan Opah dan Omah!" ucapnya.


"Anak pintar ...!" pujinya.


"Apa Paman juga pernah bertemu dengan Opah dan Omah?" tanyanya.


"Paman juga belum pernah bertemu secara langsung, tapi pernah melihatnya," jawab Kemal.


"Lihat dimana Paman? Aku mau lihat juga ... ayo tunjukkan padaku Paman!" ujarnya dengan sangat girang.


"Ah Paman lupa dimana melihatnya, nanti ya Paman ingat-ingat lagi ...!" ujar Kemal pada Madav.


Sesampainya mereka di Resto Pelangi, Madav langsung berlari menuju meja yang biasanya mereka bertiga tempati. Untung saja meja tersebut kosong, mungkin kalau tidak, bisa saja Madav melontarkan beberapa pertanyaan kenapa tidak bisa duduk di sana.


"Paman! Aku sudah besar, aku kan sudah bisa ngomong 'r' ...!" ujarnya.


"Maaf Tuan, saya salah ...!"


"Ah Paman suka lupa," celetuknya.


***


Sementara itu di tempat yang lain ...


Take terakhir sedang berlangsung, mungkin sekitar kurang dari 10 menit acara sudah berakhir. Dewi terus saja berdecak kagum, tidak menyangka seorang Tyas yang dulunya adalah gadis yang pemalu, saat ini sudah mau tampil di media dengan elegan.


"Dia benar-benar membuatku tak berhenti untuk mengaguminya, untuk saja aku ini sama-sama wanita. Mungkin kalau aku sebagai pria akan bucin sekali padanya," gumam Dewi.


"Kakak sedang bicara dengan siapa?" tanya Amanda setengah berbisik.


"Hah? Aku? Apa suaraku terlalu keras?" tanya Dewi seraya menoleh kanan dan kiri memastikan tidak ada orang lain yang menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Tidak! Hanya saja kalau sering seperti itu, saya khawatir orang lain akan menganggapnya Kakak ada sedikit gangguan," jawab Amanda.


"Aish! Aku hanya sedang mengagumi sahabatku sendiri, dia sangat hebat dan keren!" ujarnya terus saja memuji.


"Wah! Nyonya Tyas beruntung sekali memiliki sahabat yang sangat mengaguminya," ucap Amanda.


"Ya, bukan hanya aku. Ada satu lagi namanya Vera. Dia juga sangat mengagumi Tyas sepertiku, tapi sejak menikah kami sudah jarang komunikasi. Aku tidak tau bagaimana kabarnya saat ini," ujar Dewi.


"Ah begitu, semoga saja secepatnya kalian bisa berkomunikasi lagi Kak!" ujar Amanda.


"Ya, dan sekarang sudah menjadi berempat. Denganmu," ujar Dewi seraya merangkul Amanda dengan erat.


"Sepertinya itu terlalu berlebihan untuk saya," ucap Amanda.


"Apanya yang berlebihan? Kau kan bagian dari Tyas, dan harus menjadi teman kami juga Man! Apa kamu tidak mau berteman denganku?" tanya Dewi dengan tatapan sangat tajam, seperti guru BK yang tengah menemui anak didiknya.


"Eum ...! Bukan seperti itu Kak! Hanya saja ... sejak dulu saya tidak pernah punya teman, jadi rasanya tidak mungkin saya akan memiliki teman!"


"Itu kan dulu! Kita adalah temanmu sekarang!" ucap Dewi.


"Dewi benar, kita adalah teman Amanda. Walaupun usia kita terpaut 3 tahun, anggap saja kita seusiamu ... iya kan Wi!" sahut Tyas yang sudah berdiri di depan mereka.


"Nyonya sudah selesai?" tanya Amanda.


"Ya, aku lihat sepertinya kalian serius sekali sampai tidak menyadari jika acara sudah selesai,"


"Maaf Nyonya!" ujar Amanda.


"Astaga! Lihat Wi, apa seperti ini caranya berbicara dengan teman? Kaku sekali," gumam Tyas.


"Heheh! Sepertinya perlu kita ospek!" ujar Dewi menimpalinya.


"Apakah Nyonya mau langsung pulang?" tanya Amanda lagi.


"Tidak! Madav sudah di jemput Ayahnya, hari ini Kemal dan Ayahnya yang akan mengajaknya main, mungkin akan mengajaknya ke Perusahaan juga sampai pulang nanti. Kenapa kita tidak mampir saja ke tempat wisata di kota ini? Sekalian kan kita ajak Dewi jalan-jalan ...!"


"Apakah Tuan sudah mengizinkan Nyonya?" tanyanya.


"Sudah Manda! Kami tenang saja, selama ada kamu bersama kami ... mereka akan tenang dan mengizinkannya, ayo kita pergi sekarang agar sampai rumah tidak terlalu malam," ajak Tyas pada Dewi dan Amanda.


Sebelum pergi, Tyas memutuskan untuk berganti pakaian yang lebih santai, rasanya akan aneh sendiri jika bepergian menggunakan baju casual sendiri, apalagi yang dikenakan adalah semi gown.

__ADS_1


"Nyonya kita akan kemana?" tanya Amanda sebelum melajukan mobil.


"Disini ada pantai? Atau yang dekat sini ada apa gitu? Random saja, ikuti saja kemana mobil akan melaju ...!" jawab Tyas yang membuat Amanda harus berpikir keras mencari tempat yang aman dan nyaman. Bebas dari keramaian yang pertama, karena Tyas paling tidak nyaman berada di tempat keramaian.


__ADS_2