
Waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi, di dapur sudah terdengar suara alat masak saling beradu. Pagi ini, Nyonya Tyas berencana untuk mengunjungi gadis itu lagi di Rumah Sakit sambil membawakan bekal makanan untuk Kemal yang sudah menjaganya sejak semalaman.
Dan untuk Madav, hari ini mereka liburkan dulu. Karena takut penjahat masih mengincarnya dan kejadian yang tak di inginkan akan terjadi lagi dan membuat semuanya lebih panik. Kali ini Nyonya Tyas memasak capcay dan juga rendang kesukaan dua jagoannya.
Tak lupa, ia juga menyiapkan secangkir kopi panas untuk suakinya yang harus meminum kopi sebelum berangkat kerja. Semua ia kerjakan dengan rapih dan tertata tanpa terlupakan satu sama lainnya.
Setelah semua siap, ia naik ke kamar untuk mandi lebih dulu dan membangunkan dua jagoannya yang masih terlelap di bawah balutan selimut. Terlebih dulu ia membangunkan putranya di kamarmya sebelum membangunkan suaminya.
"Sayang, sudah pagi. Ayo bangun, Madav mau liat kakak cantik kan?" tanya Nyonya Tyas dengan lembut.
"Hmm, Ibu. Masih ngantuk," jawabnya dengan sedikit malas.
"Iya Sayang, tapi hari ini Ibu mau ke Rumah Sakit. Lihat Kakak cantik," ujarnya mengulang sedikit kalimatnya.
"Emang Kakak cantik sudah bangun Bu?" tanyanya segera membuka kedua matanya.
"Ibu belum tau Nak, ayo Ibu gendong!"
"Uhh! Anak Ibu," ujarnya sambil mengangkat tubuh putranya dan membawanya keluar dari kamarnya.
"Ibu, aku mandi sendiri saja ya!"
"Okey! Ibu siapkan baju untukmu ... ." sahutnya dengan pelan.
Madav segera lari ke kamar mandi dan mulai menyalakan air kran. Sementara itu, Tyas segera memilih pakaian untuk putranya yang sedang mandi. Setelah pakaian di keluarkan dari dalam lemari, Tyas segera mendekati suaminya untuk membangunkannya.
"Mas, bangun. Sudah setengah 6," ujar Tyas dengan lirih.
"Hmm ... iya. 5 menit lagi Sayang!" sahutnya dengan kedua mata yang masih terpejam.
"5 menit lagi aku sudah pergi ya," ucapnya.
"Kemana? Kamu mau syuting iklan?" tanyanya.
"Haih! Aku mau ke Rumah Sakit, memastikan gadis itu baik-baik saja. Ayo Mas bangun, Madav sedang mandi, dan bukankah hari ini Mas juga ada pertemuan?" ujar Tyas mengingatkan jadwal pertemuan penting hari ini.
"Iya, ini bangun. Makasih, Sayang!" ucapnya seraya mendekatkan wajahnya pada isterinya.
"Ibu!" teriak Madav memanggilnya dari dalam ruang ganti.
"Iya sayang! Ibu datang," sahut Nyonya Tyas pada putranya.
"Maaf Mas, anak kita memanggilku ... ." ucap Nyonya Tyas mengedipkan sebelah matanyanya pada Tuan Arsen.
"Haih! Gagal lagi," gerutunya mengacak-acark rambutnya yang sudah acak-acakan.
__ADS_1
Tuan Arsen segera turun dari kasur dan berlalu menuju kamar mandi. Untuk ke kamar mandi, ia harus melewati ruang ganti dimana anak dan isterinya berada saat ini. Sejenak Tuan Arsen memandang keduanya, pemandangan di pagi hari yang begitu indah.
Untuk kesekian kalinya Tuan Arsen merasa begitu beruntung memiliki isteri yang lebih memilih berdiam diri di rumah mengurus keluarga kecilnya. Dan terbukti, putra semata wayangnya terurus dengan baik, pekerjaan rumahpun tidak ada masalah dan begitupun dengan dirinya yang masih tidak luput masih mendapatkan perhatian darinya.
"Mas, kamu mau mandi atau mau jaga pintu?" tanya Nyonya Tyas menegur suaminya yang sejak tadi berdiam diri di depan pintu.
"Hehe, iya sayang. Ini mau mandi,"
"Ayah cepat mandinya, aku sama Ibu mau lihat Kakak cantik," celetuknya yang sudah berpakaian rapih dengan rambut di sisir ke sebelah kanan.
"Okey! Ayah akan cepat mandi. Tunggu Ayah ya,"
"Ya udah, kita turun dulu ya Mas!"
"Hmm,"
Tuan Arsen segera berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Nyonya Tyas merapikan kasur sebelum menyusul Madav yang sudah ke bawah lebih dulu.
Selesai sarapan, Tuan Arsen dan yang lainnya segera pergi hendak ke Rumah Sakit. Nyonya Tyas sudah menyiapkan makanan yang akan di bawa menggunakan tempat bekal makanan bermerk huruf T.
"Mas, ini punya siapa?" tanya Nyonya Tyas.
"Coba saja lihat di dalamnya," jawabnya..
"Kenapa ada namaku?" sambil membuka surat tanda kepemilikan.
"Bagaimana bisa aku tidak suka Mas, tapi kan aku tidak bisa menyetir mobil ... ." ujarnya dengan bingung.
"Sebentar lagi Kemal akan membawakan asisten untukmu, kamu tidak bisa menolak lagi. Aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu juga putra kita,"
"Apalagi setelah kejadian kemarin," imbuhnya.
"Iya mas, terserah kamu saja! Makasih ya sayang, cupp!" ucapnya sembari mengecup pipi kanan suaminya.
"Sama-sama Sayang, ya sudah ayo kita pergi sebelum Kemal mati kutu disana," ajaknya.
Sementara itu,
Kemal sudah selesai mandi dan mengenakan pakaian kerja dengan rapih. Namun ia masih bingung, apakah harus meninggalkannya sendirian di Rumah Sakit? Tapi hari ini ia harus mendampingi Tuan Arsen untuk menghadiri sebuah pertemuan.
Kemal masih duduk di sofa mengecek ponsel untuk memeriksa schedule. Waktu masih menunjukkan pukul 6 pagi, masih ada waktu untuknya berada di Rumah Sakit sebelum pergi ke kantor.
*Tring!
•Aku hari ini ke Rumah Sakit, tapi jangan tinggalkan dia sendirian. Jangan pergi sebelum kami datang*,•
__ADS_1
•Siap, Nyonya!•
"Anda tidak pergi kerja?" tanyanya memecah kesunyian yang sudah tercipta sejak pagi tadi.
"Aku tidak boleh pergi dari sini sebelum Nyonya Tyas datang, bagaimana keadaanmu?" tanya Kemal padanya.
"Sudah lebih baik, hanya sedikit sakit di sini ... ." ujarnya memegang lengan sebelah kanannya.
"Tentu saja sakit, untunglah tangan kananmu masih bisa di selamatkan. Harusnya kamu hati-hati,"
"Haih! Aku sudah berhati-hati, mana jaketku?" tanyanya.
"Jaket?"
"Ya, aku kemarin kan pakai jaket. Dimana sekarang?" tanyanya mengulangi pertanyaan.
"Mana ku tau, aku kemarin mengurus administasi. Dan seelah kembali kau sudah berganti dengan pakaian rumah sakit," jawab Kemal berkata jujur.
"Astaga, jangan-jangan jaketku di buang. Aku harus mencarinya,"
"Apa kau sudah g*la? Kondisimu masih lemah, kau masih butuh satu kantong darah lagi. Tetap disitu, atau aku akan meminta perawat untuk mengikatmu!" ujar Kemal sedikit mengancamnya.
"Tapi jaketku," ujarnya dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.
"Apa jaketmu lebih berharga daripada nyawamu?" ujarnya dengan dingin.
"*Astaga! Pria ini, mulutnya seperti silet yang mengenai urat nadiku ... ." batinnya dengan kesal.
"Tapi dia baik, semalaman sudah menjagaku di Rumah Sakit," imbuhnya lagi*.
Tokk ... tokk ... tokk!!
"Selamat pagi," sapanya setelah membuka pintu ruangan.
"Selamat pagi, Nyonya Tyas!" jawab Kemal membungkukkan badannya.
"Pagi," sahutnya dengan sopan.
"Siapa lagi ini? Apakah dia tamu pria ini? Lalu kenapa dia kesini?" batinnya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Nyonya Tyas padanya.
"Sa-saya sudah jauh lebih baik Nyonya," jawabnya.
"Syukurlah, terimakasih ya. Kamu sampai bertaruh nyawa unruk menolong putra kami, mungkin kalau kamu tidak ada. Kami sudah bingung mencari keberadaan anak kami," ujarnya.
__ADS_1
"Oh, dia orangtua anak kecil itu. Syukurlah, anak itu baik-baik saja. Setidaknya rasa sakitku terbayarkan," batinnya.
"Ibu," panggil Madav yang baru tiba bersama Ayahnya.