
"Lalu kamu bilang apa?"
"Aku hanya bilang, mereka adalah orang yang baik ... mereka juga merindukannya, hanya saja belum waktunya untuk mereka bertemu," ujar Dewi.
"Hah! Sungguh, aku tidak tau lagi Wi ... aku tau suatu saat Madav akan menanyakan ini cepat atau lambat. Dan sudah bukan sekali atau dua kali Madav menanyakan ini,"
"Kenapa kalian tidak ke Ibukota saja? Anggap saja kalian bersalah, meski nyatanya ini bukan salah kalian. Apa salahnya mengalah? Toh ... ini demi kebahagiaan kalian nantinya. Bukan maksudku untuk menggurui, hanya saja aku perduli denganmu Yas! Aku tau, kamu selalu dihantui rasa bersalah kan?" ujar Dewi menatap kedua mata Tyas dengan tajam.
"Ya, kamu selalu mengerti aku Wi. Bahkan aku belum menceritakannya,"
"Harusnya aku ke sini kan liburan, bukan malah ikut campur ke dalam masalah kalian. Tapi aku mohon, pikirkan lagi ... jangan egois, meski kalian benar sekalipun!"
"Wi ... ."
"Sabar ... kamu harus kuat! Ada suami dan anakmu, aku yakin Tuan Gavin dan Nyonya Kayana sudah menerimamu. Hanya saja mereka belum tau bagaimana caranya menemui kalian, apalagi tidak ada yang mengetahui keberadaan kalian bukan?"
"Hmm, kamu benar! Terimakasih Wi, untung kamu datang ke sini, setidaknya aku ada teman berkeluh selain Mas Arsen ... ."
"Aku siap menjadi pendengarmu, kapan dan dimanapun aku berada Yas. Selama komunikasi masih terhubung,"
"Sudah malam, tidurlah! Kamu pasti capek perjalanan dari Jakarta kan!" ujar Tyas.
"Iya, aku ke kamar dulu ya!"
***
Tyas berlalu ke dapur, membuatkan segelas kopi untuk Arsen yang saat ini tengah duduk di dalam ruang kerjanya. Apa yang dikatakan Dewi benar, sudah waktunya yang muda mengalah. Toh, tidak ada salahnya kalau yang lebih muda meminta maaf lebih dulu.
Apapun yang terjadi nanti, itu adalah konsekuensi yang harus mereka terima. Selama mereka masih bersama, keadaan akan baik-baik saja.
Secangkir kopi telah siap untuk dihidangkan, aroma wangi menggelitik hidungnya seolah memanggilnya untuk segera meneguknya. Perlahan, Tyas membawanya mengantar ke tempat dimana suaminya berada saat itu.
"Mas?" ujar Tyas.
"Hy Sayang!" sahutnya.
"Kopinya ... Buat temani kamu yang sepertinya maaih saja sibuk,"
"Maaf Sayang! Ini mendadak aku ada pertemuan dengan salah satu klien yang berada di Jakarta. Tapi sepertinya aku tidak ... ."
__ADS_1
"Kenapa tidak? Mas datang saja ke sana," ujar Tyas.
"Tapi kalian?"
"Tentu saja kami ikut, bukankah kita kemana-mana harus bersama?" ceketuknya.
"Tapi Sayang!"
"Mas, aku tau apa yang kamu khawatirkan saat ini. Tapi percaya deh! Cepat atau lambat hari itu akan datang, dan mungkin dengan urusan pekerjaanmu bisa menjadi jalan untuk kita menyelesaikan masalah ini,"
"Madav pasti akan terus bertanya sebelum kita mempertemukannya dengan Opah dan Omahnya. Lagian Mas, kita tidak tau sampai kapan umur kita ... jangan sampai kita pergi sebelum meminta maaf dan mendapat restu dari Daddy," imbuhnya seraya duduk di samping Arsen, menggenggam tangannya dengan erat untuk menunjukkan keseriusannya.
"Baiklah ... seminggu lagi kita akan ke Ibukota. Selesaikan dulu urusan kamu yang di sini Sayang,"
"Hmm, kamu tidak bohong kan Mas?" tanya Tyas untuk memastikan.
"Iya Sayang, aku tidak bohong!" jawabnya seraya mengusap kedua pipinya dengan lembut.
"Terimakasih Mas. Aku percaya, Tuhan akan mempermudahkan segalanya,"
"Makasih ya, kamu selalu mendampingiku. Meyakinkan aku untuk berani melangkah. Aku adalah kepala keluarga, aku tidak seharusnya takut karena aku memiliki kalian suporter terbaik yang aku miliki.
Tyas berpamitan untuk ke kamarnya lebih dulu, karena badannya merasa sedikit lelah dan rasa kantuk yang sudah membuatnya harus menguap beberapa kali dalam waktu tak kurang dari 1jam.
***
Malam telah berakhir, bulan telah menyelinap masuk bersembunyi di tempat peraduannya. Digantikan sang mentari yang siap memberikan kehangatan pada makhluk hidup di dunia.
Sebelum mentari muncul, menampakkan wajahnya. Tyas sudah stay di dapur, menyiapkan sarapan untuk orang-orang di rumahnya. Dewi yang samar-samar mendengar suara aktivitas dari dapur, akhirnya beranjak turun dari kamar.
"Pagi ...!" sapanya seraya mengikat rambutnya.
"Hay! Pagi ... apa aku membangunkanmu?" tanya Tyas.
"Tidak! Kenapa kamu tidak memperkerjakan ART saja? Apa kamu tidak capek? Bukankah kamu juga mengurus hotel?" tanya Dewi
"Kau belum kepikiran untuk itu, apalagi saat ini juga ada Amanda. Dia banyak membantuku, dari pekerjaan di luar rumah sampai mengurus putraku. Jadi ya ... aku agak santai dan masih bisa menghandle semuanya," ucap Tyas.
"Huh! Kamu ini memang ya. Kalau sudah diniati tidak akan bisa digoyahkan lagi, meski badai sekalipun yang menghantam!"
__ADS_1
"Aish! Puitis sekali! Oh ya, aku semalam sudah membicarakannya dengan Mas Arsen ... katanya sepekan lagi dia ada perjalanan bisnis ke Ibukota. Dan mengajakku juga Madav,"
"Benarkah itu? Wah tau begini aku tidak perlu ke sini ya, kan kalian mau ke Ibukota," ujar Dewi.
"Justru kalau kamu tidak ke sini, mana mungkin Mas Arsen akan mengajak kami Wi! Thank's ...!" ucap Tyas seraya memeluk Dewi dengan erat.
"Sama-sama Yas! Aku cuma membantu Madav biar cepat bertemu dengan Opah dan Omah. Dan ... kamu juga sudah lama tidak menjenguk Ayah dan Adikmu kan?" ujar Dewi.
"Kamu benar ... aku sudah lama tidak mengunjungi rumah barunya,"
"Kamu tenang aja, sebulan sekali aku selalu berkunjung ke sana. Sekalian aku mengunjungi Ibu juga Ayahku ... ."
"Kamu memang selalu bisa aku andalkan Wi!" puji Tyas.
"Itulah gunanya sahabat, bukan hanya ada di kala senang melainkan selalu ada dalam keadaan apapun. Termasuk membackup yang bisa dia kerjakan,"
Dua manusia yang terikat dalam hubungan persahabatan sejak beberapa tahun yang lalu, kini tengah bekerjasama menghasilkan masakan yang lezat untuk mereka sarapan. Dewi merasa bangga pada sahabatnya, terlepas dari masa lalunya yang kelam ... akhirnya Tyas menemukan pria yang tepat untuknya. Ditambah Madav, si pemberani yang kelak pasti akan menjadi pelindung Ibunya.
***
"Ibu, Madav berangkat sekolah dulu ya!" pamitnya setelah mencium punggung tangan Tyas.
"Hati-hati ya Sayang! Harus nurut ya sama Miss ...!"
"Iya Ibu ...!"
"Sayang, aku berangkat dulu ya!"
"Iya Mas, hati-hati ya! Jangan lewatkan makan siangnya ... ." ujar Tyas seraya mencium punggung tangan suaminya.
"Iya Sayang, kamu juga ...!" mencium keningnya dengan lembut.
"Dewi, aku berangkat dulu ya!" pamit Tuan Arsen.
"Okay Kak! Semangat kerjanya!" sahut Dewi yang sejak tadi berdiri menatap sahabatnya yang sedang dipamiti kedua jagoannya.
"Bye Tante!"
"Bye Sayang!"
__ADS_1
Mobil perlahan meninggalkan area halaman rumah yang lumayan luas, tinggallah Dewi dan Tyas saat itu. Amanda belum datang, masih dalam perjalanan.
"Wi, mandi gih! Nanti kamu ikut kita ya ...!"