Terpaksa Menikah Tanpa Restu

Terpaksa Menikah Tanpa Restu
Menemani Tyas


__ADS_3

"Baiklah, aku bereskan ini dulu," ujarnya seraya membawa masuk piring kotor ke dapur.


"Biar aku saja Wi!" ujar Tyas.


"Aish! Tidak apa, aku juga sudah biasa melakukannya. Biasanya aku dan Mami melakukan ini bersama di rumah," ucap Dewi.


"Oh ya ... bagaimana kabar Tante?"


"Mami baik, sekarang lagi semangat lagi senam ... kadang kalau libur aku selalu diajaknya ikut senam sama teman-temannya yang lain ... ."


"Hahah! Itu bagus Wi, biar kamu sehat! Aku kira dulu kamu akan berjodoh dengan Denny, tidak taunya malah jadi saudara sekarang ... ."


"Aish! Dulu kan aku nge-fans sama suamimu Yas! Eh kamu yang dapat," ujarnya terkekeh mengingat kenangan dulu saat mereka masih menjadi karyawan di Cafe Ibukota.


"Hahah! Maafkan aku ... ."


"Cih! Meminta maaf untuk apa?"


"Ya karena aku yang berhasil menaklukan Mas Arsen,"


Keduanya pun terkekeh, masa-masa dulu tidak akan bisa mereka lupakan. Karena dari pengalaman mereka bisa belajar dan menjadi seperti sekarang. Seperti persahabatan Dewi dan Tyas yang selalu erat meski sudah lama tak bertemu bahkan tidak jarang jika keduanya tak saling memeberi kabar dalam waktu yang lumayan lama.


Setelah selesai membereskan dapur, Tyas dan Dewi kembali ke kamar masing-masing untuk bersiap-siap hendak keluar menemani Tyas yang katanya ada sedikit pekerjaan di luar. Dengan make up sebisanya, Dewi mencoba membuat pipinya yang sedikit chubby menjadi sedikit tirus.


"Wi, apakah masih lama?" tanya Tyas dari luar.


"Iya, sebentar lagi ...!" sahutnya.


"Okay, aku ke bawah dulu. Aku tunggu sampai 5 menit ya ...!"


"Baiklah,"


Tyas segera turun menemui Amanda yang sudah menunggunya di bawah. Selain menajaga Madav, Amanda juga bertugas untuk menjaga Tyas katanya biar sekalian saja Amanda yang menghandle, dan sampai sejauh utu semua masih aman terkendali.


"Selamat pagi Nyonya!" sapanya.


"Pagi Amanda ... sebentar ya! Dewi masih di kamar," ucapnya.


"Baik Nyonya!"


"Aku datang ...!" ujarnya dari atas.

__ADS_1


"Artisnya sudah datang ... ayo kita berangkat sekarang ...!" ajak Tyas.


Mereka menuju Neo Hotel cabang di luar kota, hari ini Tyas dijadwalkan untuk syuting iklan mempromosikan cabang yang baru. Perjalanan yang ditempuh membutuhkan waktu sekitar hampir 3 jam lamanya.


Dewi sampai tertidur di dalam mobil karena merasa ngantuk dengan AC yang menyala ditambah pagi ini turun gerimis menambah suasana yang semakin syahdu. Sementara itu, Tyas masih belajar dan menghafal text yang harus dibawakan selama proses syuting.


"Wi, kamu mau turun tidak? Ayo turun, tidur di kamar nanti ...!" ujar Tyas.


"Sudah sampai?" gumamnya.


"Ya ... kita sudah sampai,"


"Huh! Akhirnya sampai juga,"


"Nyonya, silakan! MUA dan designer sudah menunggu di dalam sana," ujar Amanda.


"Emang kau mau apa Yas?" tanya Dewi.


"Lihat nanti saja ya ... ayo!" ajaknya.


Tyas segera menuju ruang dimana MUA dan designer sudah menunggunya di sana. Dewi yang masih belum mengerti hanya berjalan ke sana kemari mengikuti Amanda melangkah yang tengah menyiapkan segala sesuatunya, memastikan property dan lokasi yang digunakan aman untuk Tyas.


"Manda! Emang mereka mau apa hari ini? Apa Tyas juga artis? Dia mau main sinetron seperti yang di Indo ...!"


"Astaga! Ternyata sahabatku multitalenta sekali, dia bisa mengurus rumah, anak, suami, keluarga, urus usaha dan sekarang jadi bintang iklan," puji Dewi.


"Ya, kau benar! Selain itu adalah untuk pertama kalinya Nyonya Tyas muncul di media. Jadi semua orang pasti sudah menantikannya sejak kemarin-kemarin. Dan kau tau? Ini adalah live," ucap Amanda.


"Wah! Bukan lagi, sekalinya main langsung live dia ... sungguh aku bangga punya teman seperti dia," seru Dewi dengan bangganya.


***


MUA mulai bekerja memoles make up pada wajah Tyas. Hari ini dandanan mengarah ke flawless namun sedikit berwibawa untuk menggambarkan karakteristik dari Tyas sendiri. Tidak memakan waktu lama, hanya sekitar 45 menit make up sudah selesai.


Selanjutnya adalah berganti pakaian, yang dirancang oleh designer ternama dengan gown berwarna putih, terlihat elegan dan kasual meski dengan gown.


"Astaga! Kau benar-benar cantik Yas! Sungguh! Aku sampai pangling," ujar Dewi saat melihat Tyas sudah keluar dari ruang ganti dengan tatanan rambut dan make up yang beda dair biasanya.


"Terimakasih Wi, do'akan semoga lancar ya!" ujar Tyas.


"Itu pasti, selain teman ... aku sekarang juga merangkap sebagai fans kami ...!"

__ADS_1


"Terlalu berlebih Wi ...!"


Proses syuting pun di mulai, Dewi dan Amanda memilih untuk duduk di belakang kru seraya menyaksikan selama acara berlangsung, dan Amanda juga berjaga-jaga memastikan tidak ada orang lain yang mencurigakan di sana.


***


"Kita ke Ibukota kapan?" tanya Tuan Arsen.


"Hari Senin pekan depan Tuan! Ada apa?" tanya Kemal.


"Istri dan anakku mau ikut," jawabnya.


"Apa Tuan yakin?"


"Tidak, tapi aku sudah janji untuk mengajaknya ke Ibukota nanti. Aku tidak tau nanti di sana akan seperti apa," ujarnya.


"Kalau begitu Tuan tidak perlu khawatir, saya akan menyiapkan hotel yang tidak terlalu ramai pengunjung,"


"Terimakasih Kemal, oh ya jadwal pertemuan dengan Tuan Vin kapan?"


"Sesampainya di Ibukota kita langsung mengadakan pertemuan Tuan,"


"Baiklah! Kalau begitu biar aku, Tyas dan Madav yang pergi. Kau dan Amanda langsung ke tempat penginapan saja membawa barang-barang kami ...!"


"Baik Tuan,"


"Sekarang nyalakan Televisinya, aku ingin melihat istriku,"


Seketika suasana menjadi hening, tatkala kedua mata seolah terhipnotis melihat sosok perempuan yang selama ini hanya memakai daster di dalam rumah, jarang sekali berhias selama 5 tahun kebelakang karena fokus mengurus rumah dan anak mereka.


"Istriku benar-benar cantik!" tak henti-hentinya Tuan Arsen memuji kecantikan Tyas yang memang beda dari yang lain.


Kemal sudah mereschedule untuk pertemuan hari ini karena Tuan Arsen ingin menyaksikan kepiawaian Tyas di depan layar kaca. Dan hasilnya di luar ekspektasi, benar-benar sempurna dan menguasainya.


Meski terlihat sedikit canggung, tapi senyumnya berhasil memikatnya. Seolah mengalihkan pandangannya sehingga sikap canggung tidak dipedulikannya.


***


...ARSEN POV...


Baiklah, aku akan menuruti permintaanmu untuk ikut ke Ibukota. Karena kamu juga sudah menuruti permintaanku untuk muncul di layar kaca. Aku berharap dengan ini, kamu menjadi lebih percaya diri lagi.

__ADS_1


Dan yang selama ini kamu takutkan, perlahan akan menghilang bersama waktu yang terus berlalu. Biarkan yang sudah terjadi hanya menjadi masa lalu, saat ini kita hanya cukup menjalaninya dengan kebahagiaan yang sudah ada di depan mata. Kita akan menghadapinya bersama-sama demi anak kita, Madav,


__ADS_2