
"Mas?" ulang Anggia, membuat Nattan gelagapan, dan memalingkan wajahnya kearah lain.
"Ayok, kita sudah terlambat." ucapnya, melirik Anggia sekali lagi, tanpa gadis itu sadari.
Dua puluh menit menempuh perjalanan, akhirnya mobil yang ditumpangi keduanya sampai disebuah gedung ternama tempat biasa para petinggi mengadakan acara besar mereka.
"Mas,?"
"Kenapa?" Nattan mengerutkan keningnya saat Anggia tak kunjung melangkah mengikutinya.
"Saya_ jujur ini untuk pertama kalinya saya menghadiri sebuah acara besar seperti ini."
"Lalu?"
"Saya takut membuat masalah yang akan membuat mas Nattan malu nantinya." lanjut Anggia dengan wajah menunduk, bahkan kedua tangannya saling bertaut karena cemas bercampur gugup.
Nattan yang mengerti dengan kegugupan yang dirasakan Anggia, ia pun memutuskan untuk kembali menghampiri Anggia, dan mengulurkan tangannya membuat gadis tersebut mematung dengan dahi yang mengerenyit bingung.
"Tidak perlu gugup, ada saya."
Dengan ragu, Anggiapun menerima uluran tangan Nattan yang kemudian digenggam oleh suaminya, dan membawanya memasuki gedung tersebut.
"Jangan menunduk Anggia, disini kamu pasangan saya bukan seseorang yang asing." ujar Nattan yang melihat jika Anggia terus menundukkan wajahnya disepanjang lobby gedung tersebut.
"I-iya mas."
Begitu keduanya tiba didalam gedung, ada banyak sekali pasang mata yang menatapnya dengan tatapan berbeda-beda, ada yang begitu kagum melihat keserasian mereka, ada pula yang iri, terlebih mereka para Putri dari rekan bisnis Nattan yang sudah mengenalnya, dan pernah meminta dijodohkan dengan Nattan sebelumnya.
"Disini ada banyak sekali rekan kerja yang bekerja sama dengan perusahaan, nanti saya akan kenalkan mereka semua, tapi sebelum itu kita harus menyapa mempelai pengantinnya terlebih dulu." bisik Nattan seraya menggandengnya menuju pelaminan.
"Wah mas Nattan, akhirnya datang juga! saya pikir pemuda yang super sibuk seperti mas Nattan tidak akan datang lho!" ujar pak Bima saat Nattan mulai mendekat dan menyalaminya.
"Pak Bima tentu sudah tahu bukan? bahwa saya bukan tipe seseorang yang suka mengingkari janji, jika tempo hari saya mengatakan akan datang, maka sesibuk apapun saya pasti berusaha akan tetap datang."
Pak Bima tampak terkekeh, menepuk-nepuk pundak Nattan, "Ini yang saya suka dari mas Nattan sejak dulu, makanya saya sampai begitu berharap mas Nattan lah yang akan menjadi menantu saya, tapi yasudahlah."
"Saya rasa putri pak Bima terlihat lebih bahagia dengan suaminya."
"Iya betul, mungkin saja begitu."
"Oh iya selamat atas pernikahan putri pak Bima ya, semoga mereka selalu bersama hingga tua nanti."
"Baik, baik! terimakasih mas Nattan sudah menyempatkan waktunya untuk datang kesini, karena jujur bagi saya pribadi, saya merasa begitu terhormat."
"Oh iya, apakah gadis cantik disebelah mas Nattan ini adalah seseorang yang membuat mas Nattan menolak putri saya waktu itu?"
Nattan tampak tersenyum tipis, ia meraih pinggang Anggia hingga merapat ketubuhnya, jika dilihat secara sekilas, maka tidak akan ada yang percaya bahwa hubungan mereka tidak semanis yang terlihat.
"Betul, dia kekasih saya." Nattan melirik Anggia dengan senyuman hangat yang terlihat penuh cinta, "Namanya Anggia."
__ADS_1
"Wah cantik, sangat cantik! pantas saja saat itu mas Nattan langsung menolak mentah-mentah Jessy putri saya."
"Maafkan saya pak, untuk yang terjadi di masa lalu."
"Itu tidak jadi masalah, yang terpenting hubungan baik kita terus terjalin selamanya."
"Semoga akan terus begitu."
Setelah mengobrol cukup lama dengan pak Bima, Nattan pun tidak lupa mengucapkan selamat juga kepada Bu Ayunda yang merupakan istri dari pak Bima, kemudian berlanjut menyalami Hendra dan Jessy sang mempelai pengantin.
"Mas Nattan?" ujar seseorang yang berada dibelakangnya, membuat Nattan seketika menoleh kearah pemilik suara.
"Pak Teguh?"
"Betul, wah kebetulan sekali kita bertemu disini, eh saya lupa mas Nattan itu siapa?" laki-laki paruh baya yang disapa pak Teguh tersebut tampak terkekeh, kemudian mengajak Nattan mengobrol disalah kursi yang sudah disediakan khusus untuk para tamu undangan.
"Ini calonnya mas Nattan ya,?" melirik Anggia yang tampak tersipu.
"Iya, ini Anggia kekasih saya."
"Mas Nattan nya tampan, pacarnya cantik, benar-benar cocok!"
"Terimakasih pak, pak Teguh ini bisa saja."
"Faktanya lho mas!"
"Kenapa?"
"Saya_ saya haus, mau mengambil minuman kesana sebentar ya!" Anggia menunjuk kesalah satu meja panjang yang diatasnya terdapat berbagai macam jenis minuman yang disediakan untuk para tamu, terbukti dari beberapa mereka yang sudah mengambilnya lebih dulu.
"Kamu berani mengambil sendiri?"
Anggia menganggukan kepalanya, tidak mungkin juga kan ia menyuruh Nattan untuk mengambilkan minum untuk nya, pikir Anggia.
"Yasudah, jangan lama-lama."
"Iya mas!"
Anggia beranjak dari tempat duduknya menghampiri meja panjang yang jaraknya sekitar enam meter dari tempat yang diduduki Nattan.
"Ini minuman favorit kamu kan?" Anggia yang sedang memilih minuman yang hendak ia ambil, tertegun menatap segelas jus melon yang berada digenggaman seseorang.
"Rafka?" ucapnya tak percaya, saat mengetahui siapa pemilik tangan tersebut.
"Iya, ini aku Nggi, nggak nyangka ya kita bakalan ketemu disini, kamu sama siapa kesini?" tanya Rafka dengan tatapan lembut! tatapan yang sama, yang dulu selalu membuat Anggia terpesona saat berada didekatnya.
"Aku_"
"Nggi, aku mau ngobrol sama kamu sebentar aja, please Nggi!"
__ADS_1
"Tapi Raf, semua_"
"Kamu mau ngobrol sama aku, atau aku bikin kekacauan di pesta ini?" sela Rafka, yang membuat Anggia melebarkan kedua matanya.
"Kamu gila ya?"
"Kamu nggak mau lihat aku lebih gila lagi kan, makanya ayok kita ngobrol berdua Nggi."
"CK, tapi Raf_"
"Jangan salahkan aku kalau aku benar-benar akan membuat kekacauan disini Nggi."
Anggia terlihat men desah, ia melirik suaminya yang sepertinya sedang asik mengobrol bersama pak Teguh, mungkin saat dirinya mengobrol dengan Rafka Nattan tidak akan mencarinya, pikir Anggia.
"Ayo Nggi."
"Iya."
Rafka tersenyum sumringah, kemudian menarik tangan Anggia ketempat yang tidak terlalu ramai, agar obrolan mereka terasa lebih nyaman.
"Malam ini kamu cantik banget Nggi, aku hampir nggak mengenali kamu lho tadi." ujar Rafka yang terus memandangi wajah cantik Anggia.
Selama dua tahun berhubungan dengannya Anggia memang tidak pernah dandan seperti sekarang, selain menggunakan bedak tipis dan liptin seadanya.
Anggia memalingkan wajahnya kearah lain, ucapan berupa pujian yang dilontarkan Rafka barusan tentu membuat pipinya bersemu merah.
Karena tak dapat ia pungkiri, saat ini Rafka masih mengisi penuh seluruh hatinya.
"Nggi?"
"Hmmm."
"Aku masih sayang sama kamu Nggi, kamu tahu kan dari dulu aku cinta banget sama kamu?" ujar Rafka yang membuat Anggia tersenyum sinis.
"Cinta yang seperti apa Raf, kalau kamu beneran cinta sama aku, nggak mungkin kan kamu sampai selingkuh sama cewek lain?"
"Iya, aku mengaku salah Nggi, tapi kamu harus tahu, aku sama dia cuma main-main aja, bukan karena cinta, saat itu aku memang bodoh! dan aku menyesali kebodohan itu Nggi, seharusnya saat kamu sibuk dan tidak memiliki waktu untukku, aku juga mencari kesibukan sendiri bukan malah mencari cewek lain."
"Percuma Raf, sekarang semuanya udah terlambat."
"Kenapa Nggi? apa nggak ada sedikit aja kesempatan buat aku memperbaiki semuanya?"
"Aku masih cinta sama kamu Nggi."
"Maaf Raf, aku harus pergi." Anggia beranjak dari samping Rafka, sebelum kemudian tubuhnya membeku saat mendapati seseorang bertubuh tinggi sedang menatapnya dengan sorot tajam.
*
*
__ADS_1