Terpaksa Menikahi Gadis SMA

Terpaksa Menikahi Gadis SMA
Terimakasih


__ADS_3

"Saya dijebak Anggia, tolong saya." ucapnya dengan tubuh bergetar menahan sesuatu yang ingin segera disalurkan.


"Tapi mas?"


"Kamu keberatan?"


Anggia terdiam, ia benar-benar dipenuhi perasaan dilema, Nattan memang suaminya, namun hal ini terlalu mendadak baginya.


"Anggia." lirih Nattan dengan suara yang mulai terdengar serak dan berat.


"I-iya mas!"


Anggia tersentak saat merasakan sesuatu yang lembut dan kenyal menempel dibibirnya, yang lama-lama berubah menjadi sebuah luma tan dan pagutan yang semakin dalam dan menuntut.


Hawa panas seketika menjalar keseluruh tubuh Anggia, dan menciptakan debaran asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, karena hal ini merupakan pengalaman pertamanya dengan seorang pria.


Anggia berusaha menarik diri, namun rupanya Nattan tak mengijinkan, pria itu justru semakin menekan tengkuk Anggia, untuk mempermudah ciuman mereka agar lebih dalam dan leluasa.


Nattan mendorong pelan tubuh Anggia menuju ranjang tanpa melepaskan pagutannya dari bibir Anggia.


"Mas?" lirih Anggia, saat Nattan memberikan waktu Anggia untuk sekedar mengatur napasnya yang tersengal.


"Malam ini kamu milik saya Anggia." pria itu membuka satu persatu pakaiannya dan melemparnya sembarang kearah lantai.


Sementara itu Anggia melengos memalingkan wajahnya kearah lain, saat kedua matanya tak sengaja melihat benda pusaka milik Nattan yang berukuran cukup besar dan sudah berdiri tegak seolah siap tempur saat ini juga.

__ADS_1


"Mas!" Anggia kembali tersentak, gadis itu mencoba meredam suaranya dengan cara menggigit bibir bawahnya saat Nattan kembali melancarkan aksinya, memberi kecu pan keras di leher dan area sensitif Anggia yang lainnya, dan tanpa ia sadari kini tubuhnya benar-benar dalam keadaan polos.


Tak ada sehelai benangpun yang tersisa dibagian tubuhnya, karena Nattan telah membuangnya entah kearah mana.


Anggia merasakan tubuhnya menggelinjang ketika Nattan menyentuh dan menghisap kedua benda sintal miliknya dengan sangat kuat, dan setelah cukup puas dengan permainan baru yang ia ciptakan, pria itu mendongak, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Anggia.


"Kita lakukan sekarang." bisiknya, seraya menggigit ujung telinga Anggia, lalu memposisikan tubuhnya agar merapat pada Anggia.


"Mungkin diawal akan sedikit sakit." Nattan kembali berbisik di telinganya, membuat Anggia ingin menjauh saat itu juga.


"Akh." Anggia meringis, bersamaan dengan air yang mengalir dari kedua sudut matanya, saat merasakan sesuatu yang seolah menerobos masuk, membelah dirinya dengan paksa.


"Maaf!"


"Maaf!"


Malam panjang mereka lalui bersama, bergerak seirama dengan desa han keduanya yang bersahutan untuk mereguk puncak indahnya surga dunia.


*


Anggia menggeliat pelan, ia bergerak kaku saat merasakan tubuhnya yang seolah tertimpa beban berat, terutama saat merasakan area sensitifnya yang terasa nyeri dan ngilu, seketika bayangan semalam memenuhi pikirannya yang sontak membuat Anggia terjaga.


"Mas Nattan?" lirihnya yang hanya dapat didengar oleh dirinya sendiri, ia tertegun saat mendapati wajah Nattan dengan jarak yang begitu dekat dengannya seperti sekarang ini.


Wajah putih bersih yang menurutnya sangat tampan, terlebih Nattan memiliki hidung runcing dengan alis tebal dan bibir tipis yang sedikit kemerahan, karena setahunya Nattan terlihat jarang merokok.

__ADS_1


Bohong jika dirinya mengatakan tidak terpesona dengan keindahan ciptaan tuhan yang telah menjadi suami seutuhnya sejak malam tadi.


Anggia menggeser pelan tangan kekar milik Nattan, kemudian ia mencoba untuk bangun meski harus meringis beberapa kali saat merasakan bagian bawah dirinya yang terasa nyeri.


Ia berdecak, sedikit kesal pada Nattan karena semalam pria tersebut benar-benar telah menghajarnya diatas kasur beberapa kali hingga tak berdaya.


*


"Kamu tidak sekolah?" tanya Nattan, saat melihat Anggia hanya diam diatas kasur sembari berbalas pesan dengan Dita sahabatnya, sedangkan kini Nattan sudah rapih dengan setelan kerjanya dan hendak berangkat.


Anggia menggigit bibir bawahnya dengan gelengan kecil, ia tentu tidak mungkin masuk sekolah dalam keadaan seperti sekarang, yang cara berjalannya tertatih-tatih karena rasa sakit sisa semalam.


"Mama sama papa pergi ke Bandung subuh tadi, jadi dirumah mungkin hanya ada bi Narti." jelas Nattan, yang baru saja memeriksa ponselnya.


"Iya mas!"


"Saya berangkat dulu."


"Iya, hati-hati."


"Hmmm."


Diambang pintu kamar langkah Nattan terhenti, pria tersebut terlihat menarik napasnya pelan.


"Terimakasih untuk yang semalam." ucapnya tanpa menoleh, kemudian melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.

__ADS_1


*


*


__ADS_2