Terpaksa Menikahi Gadis SMA

Terpaksa Menikahi Gadis SMA
Memaafkan (End)


__ADS_3

"Sayang?" pekik Nattan, hampir melompat dari ranjang pasien, namun tertahan saat Satria dan Satya menahan kedua tangannya.


"Yaampun, kalian bertiga ini kenapa, ditinggal sebentar langsung pada nggak pake baju, mau ngapain sih? mau batang makan batang begitu." mama Indri yang berada dibelakang Anggia langsung mengomel seraya menghampiri dan menjewer satu persatu kuping ketiganya.


"Siapa yang mulai beginian, hah?"


"Om Nattan tuh yang nantangin kita berdua, masa kita dibilang kerempeng dan punya batang yang kecil." celetuk Satria yang membuat mama Indri melebarkan kedua matanya.


"Benar begitu Nattan?" mama Indri menoleh kearah Nattan dengan tatapan tajamnya.


"Eh,_" Nattan tampak salah tingkah dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Memangnya punya kamu sebesar apa sih, sebesar belalai gajah, sampai ngatain punya orang." sentak mama Indri.


"Tadi_ tadi Nattan cuma bercanda ma, eh mereka malah beneran buka baju." kilah Nattan.


"Benar-benar kalian ini.'' mama Indri menggelengkan kepala seraya menyusul Anggia yang kembali keluar dari ruangan tersebut.


"Maafin tiga berandal itu ya sayang, mereka itu kalau ketemu emang suka hilang kewarasannya."


"Memangnya mereka siapa ma, mirip banget."


"Si twins Satria sama Satya, dia anaknya Ando, anak pertama mama, kapan-kapan mama kenalkan ke mereka ya."


"Iya ma."


"Yaudah yuk kita temui mereka lagi, mama jamin sekarang aman, mereka bertiga sudah memakai bajunya."


"Memangnya tadi mereka pada ngapain sih ma."


"Seperti yang mama bilang tadi, mereka bertiga itu suka gila kalau sudah ketemu."


"Gila?"


"Iya, nanti lama-lama Anggia pasti bakalan paham kok."


*


"Jadi Lo udah buntingin anak yang masih sekolah Om, gila Lo ya, nggak sabaran banget." celetuk Satya yang kini sedang berada didalam kamar Nattan setelah pulang dari Rumah Sakit beberapa menit yang lalu.


"Dia bini gue, lagian Lo berdua malah lebih parah dari gue dulu, masih sekolah udah Married, nggak sabaran banget Lo ya main kuda-kudaan."


Satria tergelak, "Penasaran gue, dan setelah gue ngerasain gue nyesel banget."


"Yakin Lo nyesel?"


"Nyesel karena nggak dari dulu." Satya menyahut, kemudian keduanya tergelak bersama, sedangkan Nattan mendengus sebelum kemudian ikut tertawa bersama keponakan kembarnya.


"Balik sana Lo berdua."


"Lo ngusir kita om."

__ADS_1


"Ya, bisa dibilang begitu."


*


"Mas gimana keadaannya?" tanya Anggia menghampiri Nattan, setelah Satria dan Satya pamit untuk pulang.


"Lemes, pengen disayang." jawab Nattan dengan nada manja.


"CK mas, serius!"


"Serius yang, kangen! pengen disayang sama kamu."


"Kepalanya pusing Nggak?"


"Pusing, kepikiran kamu terus."


"Mas_"


"Beneran sayang."


"Badan nya masih anget." lanjut Anggia seraya memegangi dahi Nattan.


"Cium aja, pasti langsung sembuh."


"Mas Nattan ihs, lagi sakit juga."


''Sini yang naik." Nattan menepuk tempat tidur disebelahnya.


"Aku mau ngobrol sama bayi kita."


Anggia menurut saja, kemudian duduk disamping Nattan, membiarkan pria tersebut menyingkap dress yang saat ini dikenakan nya.


"Hallo sayang, anak papa? sehat-sehat kan didalam nak, cepet besar dong, cepet keluar, biar bisa ketemu langsung sama mama sama papa juga, papa sayang banget sama dede, jangan nakal ya diperut mama." ucap Nattan seraya menciumi perut Anggia yang masih terlihat rata.


Dalam hati Anggia, begitu bersyukur sekaligus bahagia, karena ternyata Nattan benar-benar sudah sangat berubah, terlebih pria tersebut benar-benar antusias dengan kehadiran calon buah hati mereka.


"Maafin aku ya mas, seharusnya aku yang mengalami hal seperti yang mas rasakan akhir-akhir ini." ujar Anggia, ia merasa sangat bersalah dengan keadaan Nattan sekarang ini.


"No, sama sekali nggak masalah sayang, lagipula kamu masih sekolah, dan ini merupakan yang terbaik, mas senang kok bisa merasakan hal seperti ini, jadi kedepannya mas bisa lebih mengerti kondisi ibu hamil."


"Kedepannya?"


"Ya, kedepannya! suatu saat aku mau kamu hamil lagi, dan kita memiliki banyak anak."


"Mas_"


"Aku mencintaimu Anggia."


Deg!


Meski bukan pertama kalinya Nattan mengucapkan kata cinta untuknya, namun hati Anggia selalu berdesir saat mendengarnya.

__ADS_1


"Aku juga mencintai mas Nattan." jawab Anggia dengan jujur seraya memeluk tubuh Nattan.


"Jadi mas nggak bertepuk sebelah tangan nih."


"Terimakasih sayang, mas jauh lebih besar mencintaimu."


*


Satu bulan berlalu begitu cepat bagi Anggia, tepat pada hari ini ia dinyatakan lulus dengan nilai yang cukup memuaskan.


Dan hal tersebut tidak luput dari dukungan Nattan dan keluarga yang begitu mencintainya.


Terutama Dinda, wanita berumur empat puluh tahun itu kerap kali datang, hanya untuk memastikan bahwa keadaan Anggia baik-baik saja, terlebih saat ia mengetahui bahwa Anggia tengah mengandung cucu pertamanya.


Selain itu, Dinda adalah orang pertama yang paling antusias menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan resepsi pernikahan yang akan dilakukan beberapa hari lagi.


Dihari yang penuh kebahagiaan itu seluruh keluarga besar mama Indri turut datang untuk meramaikan acara dan mengucapkan lantunan doa serta ucapan selamat kepada mempelai pengantin yang sekaligus melakukan acara empat bulan kehamilan Anggia.


Tak sedikit dari mereka yang membully Nattan, si bujang tua yang pada akhirnya melepas masa lajangnya.


"Gue bukan bujang tua, tapi pria matang yang mapan." ujar Nattan membela diri saat keponakannya tak berhenti mengatainya.


*


Kebahagiaan Nattan dan Anggia terasa begitu lengkap setelah bayi pertama mereka yang diberi nama Revano Zian Al-farez lahir kedunia.


Tak hanya mereka, namun seluruh keluarga turut merasakan kebahagiaan yang dirasakan keduanya, terutama oleh Dinda.


Empat puluh hari setelah kelahiran baby Zian, dengan sengaja Anggia datang menemui Dinda kerumahnya untuk meminta maaf langsung kepada sang mama, atas perilakunya yang selama ini kurang baik terhadapnya.


Anggia menyadari bahwa Dinda tetaplah ibunya, wanita yang sudah melahirkannya kedunia dengan susah payah, karena hal itu dapat ia rasakan saat melahirkan putranya.


Terlepas dari kesalahannya dimasa lalu, Anggia sudah memaafkannya, dan berharap jika suatu saat ia dapat menjadi ibu yang baik dengan tidak melakukan hal yang sama yang dilakukan oleh sang mama di masa lalu.


*


*


Hallo semua readers tercinta πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯° semoga selalu dalam keadaan sehat ya, Aamiin 😊


Terimakasih selalu Author ucapkan kepada readers tercinta semuanya, yang sudah mengikuti cerita ini dari awal sampai selesai, cerita ini memang sengaja dibuat dengan konflik ringan, jadi semakin cepat selesainya.😁


Tak bosan juga Author memohon maaf, jika karya yang Author buat ini kurang menarik dan masih banyak kesalahan kata didalamnya.πŸ™πŸ™πŸ™


Terimakasih yang sudah memberikan semangat dan dukungannya, dan juga yang selalu menyempatkan diri untuk meninggalkan komentar disetiap Babnya.


Terimakasih atas masukannya juga, jangan lupa selalu ingatkan Author jika ada kesalahan ya, sampai jumpa dikarya Author berikutnya, terimakasih ☺️☺️☺️


*


*

__ADS_1


__ADS_2