
Dinda mengusap pipinya yang basah, dan kembali menatap pak Ishak yang terlihat simpati dengan keadaannya.
"L-lalu dimana putri saya pak?"
"Anu mbak, dibawa sama bu Widuri."
"Ibu mertua saya.?"
"Betul mbak."
"Bapak tahu alamatnya mama Widuri?"
Pak Ishak mengangguk.
"Kalau begitu, saya boleh minta alamat rumahnya pak?" Dinda mengambil buku kecil dan satu buah pulpen yang selalu ia bawa kemana-mana didalam tasnya.
Pak Ishak sempat menggerenyit bingung, namun setelah ia menyadari sesuatu, tanpa kata ia bergegas menuliskan alamat yang Dinda minta.
"Terimakasih banyak pak, kalau begitu saya permisi, saya harus segera mencari alamat yang bapak kasih ini."
"Iya mbak, sama-sama."
*
Dinda menyentuh dadanya berharap bisa mengurangi debaran yang kian menjadi, bertemu dengan Widuri nama pemilik seseorang yang pernah menjadi bagian hidupnya di masa lalu bukanlah sesuatu yang mudah.
Terlebih sejak dulu, Widuri tak pernah merestui hubungan keduanya, dengan alasan Rahman lebih cocok jika menikah dengan wanita yang menyandang status sebagai guru ngaji yang bertetangga dengan nya sejak dulu.
Bahkan hari ini untuk pertama kalinya Dinda menginjakkan kakinya ditempat tersebut, karena sejak dulu Widuri melarang Rahman untuk membawa Dinda Kerumah mereka.
Dinda memegangi selembar kertas ditangannya dengan sedikit gemetar, didepan sana sebuah rumah kecil berukuran 5x6 meter yang seperti baru direnovasi berdiri agak jauh dari rumah warga yang lainnya.
Tidak terlalu jauh memang! namun cukup berjarak.
Tiba-tiba Dinda merasakan sesak membayangkan bagaimana kehidupan putrinya selama ini, tinggal dirumah kecil dengan lingkungan yang terbilang cukup kotor, dan jauh dari kata sehat.
Berbanding balik dengan dirinya, yang merasakan hidup serba berkecukupan, dan kebersihan disekitarnya cukup terjamin.
Dinda menghela napas berat, dan bergegas menghampiri rumah tersebut dan mencoba mengetuk pintunya beberapa kali.
"Mencari nenek Widuri ya?" ujar seseorang yang tak sengaja melewati area tersebut, membuat Dinda seketika menoleh kearah sipemilik suara.
Disana seorang wanita yang ia perkirakan seumuran dengan dirinya tengah berdiri sembari menenteng satu keresek sayuran dan satu kresek ikan segar yang masih bergerak-gerak.
__ADS_1
"Eh, betul mbak, mbaknya kenal nek Widuri?"
"Nek Widuri kalau jam segini tidak ada dirumah, beliau sedang berjualan di gang depan."
"Begitu ya Mbak, terimakasih ya?'
"Iya, mari."
"Mari Mbak, sekali lagi terimakasih."
Dinda kembali berjalan kearah gang, seingatnya tadi saat ia melewati gang tersebut, disana memang cukup ramai oleh beberapa ibu-ibu yang tengah mengantre mengelilingi warung sederhana yang terbilang baru.
Ia tersenyum lega, sekaligus merasakan kembali debaran yang luar biasa, saat melihat wanita tua yang terlihat bersemangat melayani para pembeli sembari tersenyum ramah kearah mereka.
Dengan sabar Dinda menunggu, hingga keadaan warung sepi agar ia bisa leluasa untuk mengobrol dengannya.
"Permisi!"
"Maaf mbak gado-gado nya sudah ha_" ucapan nenek Widuri terhenti saat menyadari siapa yang datang.
"Ma, apa kabar?" Dinda meraih tangan nenek Widuri dan menciumnya, membuat wanita tua tersebut terdiam dengan raut wajah tak terbaca.
"Ma_"
"Ma_ saya datang kesini untuk meminta maaf!"
Hening
"Ma_"
"Saya sudah memaafkan."
"Ma_"
"Pergilah! kehadiranmu sudah tidak lagi dibutuhkan."
Dinda tak putus asa, dia mengikuti nenek Widuri hingga kerumahnya.
"Ma, apakah salah jika seandainya saya ingin bertemu dengan putri saya, dimana dia ma?"
Pranggg..
Nenek Widuri menjatuhkan asal perabotan yang dibawanya, menoleh menatap Dinda dengan tatapan penuh amarah.
__ADS_1
"Kamu masih berani mengaku-ngaku memiliki seorang putri setelah meninggalkan nya dan menghilang selama belasan tahun?"
Deg!
"Apakah kamu tahu, penderitaan apa saja yang sudah Anggia alami saat kamu tidak ada disampingnya.?"
"Apakah kamu tahu, ejekan demi ejekan yang Anggia terima saat ia masih kecil, karena ibunya seorang wanita yang gila harta."
Deg!
Dinda menunduk, bersamaan dengan lelehan air mata yang mengalir deras di kedua pipinya.
"Sudah, pergilah dan kembali pada kehidupan barumu, jangan lagi ganggu Anggia, karena dia sudah tidak perlu lagi seorang ibu."
Dinda semakin terisak ditempatnya, namun tak sedikitpun membuat nenek Widuri bersimpati kepadanya.
"Ma? tapi saya ibunya, saya yang melahirkannya, mama tidak bisa memutuskan hubungan diantara kami."
"Saya tidak mengatakan kamu bukan ibunya, saya hanya mengatakan bahwa Anggia tidak lagi membutuhkan seorang ibu seperti kamu."
"Ma_" Dinda bersimpuh dikakinya.
"Sekali saja, saya ingin bertemu dengannya ma."
"Dia tidak ada di sini."
"Saya mohon!"
"Dia tidak ada disini saya bilang!"
"Apakah Anggia sudah menikah, dengan seorang pemuda bernama Nattan?"
Deg!
Seketika nenek Widuri mematung, dengan kedua mata terbelalak.
"B-bagaimana kamu tahu?"
''Jadi benar ma, Anggia menantu sahabat saya, dia Anggia putri saya_"
"Saya tidak peduli apa yang kamu katakan, pergi dari rumah ini sekarang juga." Nenek Widuri bergegas masuk dan mengunci pintu dari dalam, seraya memegangi dadanya yang mendadak nyeri.
*
__ADS_1
*