Terpaksa Menikahi Gadis SMA

Terpaksa Menikahi Gadis SMA
Reuni


__ADS_3

"Disana, sepertinya sahabat mama sudah datang lebih dulu." ujar mama Indri menunjuk seseorang yang sedang duduk dengan posisi membelakanginya, di sebuah kursi dengan meja besar dihadapannya.


Di hari Minggu pagi ini mama Indri mengajak Anggia untuk menemaninya bertemu dengan sahabatnya yang sudah lama tak bertemu, disebuah Restoran yang cukup terkenal di Jakarta.


"Din,?" sapa mama Indri memanggil nama wanita yang tengah duduk tersebut, wanita yang Anggia perkirakan lima belas tahun lebih muda dari sang mertua.


"Eh mbak Indri sudah sampai?" wanita tersebut tersenyum sumringah, kemudian berdiri memeluk mama Indri.


"Lama nggak ketemu mbak Indri tambah cantik saja ya."


"CK, mana ada tambah cantik, tambah tua iya."


Wanita yang disapa Dinda itu tersenyum geli.


"Bisa aja mbak Indri ini, tapi jujur lho mbak, mbak Indri masih kelihatan awet muda."


"Seharusnya itu ucapan buat kamu Din, kamu kelihatan lebih segar dan terlihat awet muda sampai sekarang."


"Ah mbak Indri." keduanya terkekeh, kemudian mengambil duduk di kursi masing-masing begitupun dengan Anggia.


"Oh iya Din, perkenalkan ini anak gadis saya, gimana menurut kamu, cantik kan dia?"


"A-anak gadis, sejak kapan?" tanyanya terlihat kebingungan, pasalnya yang Dinda tahu mama Indri hanya memiliki tiga orang anak laki-laki, tidak mungkin bukan mama Indri memiliki seorang putri berumur lima tahun dengan tubuh sebesar itu, pikir Dinda.


"Iya, dia istrinya Nattan."


"Oh, Nattan sudah menikah?"


"Iya, tiga minggu yang lalu."


"Yaampun, kok saya tidak diundang Mbak?"


"Baru akad aja kok Din, rencananya resepsi mereka akan diadakan saat menantu saya lulus dari sekolahnya."


"Sekolah, jadi masih sekolah?" tanyannya tak percaya, sekelebat pertanyaan tiba-tiba muncul dalam benaknya.


"Saya menyuruh mereka cepat-cepat menikah Din."

__ADS_1


"Maaf mbak, tapi kenapa?"


Dinikahkan saat masih berstatus sebagai pelajar tentu akan menjadi pertanyaan besar bagi Dinda, ralat! bukan hanya Dinda tapi semua orang pastinya akan bertanya-tanya.


"Dia tidak_"


"Tidak Din, bukan karena hal itu." sela mama Indri seolah dapat menebak isi kepala Dinda.


"Entah kenapa dari saat pertama kali lihat dia." mama Indri menoleh kearah Anggia yang menundukkan wajahnya, membelai dengan sayang rambut hitam milik gadis tersebut.


"Saya langsung sayang, jadi saya memutuskan untuk segera menikahkan nya dengan Nattan."


"Mbak Indri memang paling pintar memilih menantu, lihatlah gadis ini memang benar-benar sangat cantik, oh iya siapa namanya?" Dinda mengulurkan tangan kearah Anggia, yang dibalas Anggia dengan sopan.


"Anggia Tante."


Deg!


Seketika Dinda tersenyum getir saat mendengar nama itu, nama yang sama dengan seseorang yang ia kenal di masa lalu.


"Nama yang cantik, secantik orangnya." ujar Dinda mencoba terlihat santai untuk menutupi keterkejutannya.


"Oh iya Nattan nya nggak ikut kesini?"


"Mas Nattan sedang ada acara reuni dengan teman-teman seangkatannya."


"Kenapa Anggia tidak ikut Nattan saja?"


"Hubungan saya sama mas Nattan belum kami sebar ke publik, jadi pergi masing-masing sepertinya jalan terbaik Tan, supaya tidak banyak pertanyaan yang tidak dapat kami jawab."


Deg!


Dinda tertegun, namun bukan karena jawaban yang gadis itu beri, melainkan ia merasa tenggelam didalam bola mata jernih milik gadis dihadapannya, bola mata yang sama yang dulu pernah ia tatap dengan penuh cinta.


Mungkinkah dia orang yang sama, batin Dinda, namun berusaha untuk menepisnya.


"Euhmz," Dinda berdeham pelan, untuk menetralkan kembali perasaannya yang tiba-tiba bergetar.

__ADS_1


"Kita pesan makanan dulu Din, kasihan tadi Anggia belum sempat sarapan soalnya.'' ujar mama Indri yang mulai melihat-lihat isi buku menu ditangannya.


Tak butuh waktu lama para pelayan Resto membawakan pesanan mereka dan menatanya di atas meja.


Satu lagi, yang kini membuat perasaan Dinda kembali berkecamuk, saat melihat cara makan Anggia, yang memisahkan duri ikan dengan tangan sebelum gadis itu memakannya.


Hal yang serupa yang selalu dilakukan nya selama ini.


*


Di tempat lain, seorang pria yang tak lain adalah Nattan menatap fokus kedepan memperhatikan beberapa dari teman seangkatannya yang tengah bercanda sekaligus bernyanyi dengan random, terlihat sangat konyol tidak jauh berbeda dari delapan tahun yang lalu saat mereka duduk dikelas yang sama.


Sedangkan seorang wanita yang sejak tadi berusaha mendekati Nattan mulai kelabakan memikirkan cara agar pria batu tersebut sedikit mencair dan mau mengobrol santai dengan dirinya.


"Tan, kamu masih ingat kan waktu itu, waktu dimana kamu nembak aku untuk pertama kalinya, kamu bilang aku wanita pertama yang kamu sukai, dan aku_"


"Itu sudah menjadi masa lalu, anggap saja saat itu aku remaja yang masih labil, jadi lupakanlah!" ucap Nattan dengan raut wajah datarnya.


"Mungkin kamu bisa dengan mudahnya melupakan Tan, tapi bagaimana denganku, aku nggak bisa." rengek wanita yang bernama Septia tersebut, membuat Nattan tersenyum smirk.


"Aku lihat selama delapan tahun ini kamu terlihat baik-baik saja tanpa aku, jangan terlalu sering memasang wajah palsumu Septia, karena itu tidak akan mampu mengelabuiku." setelah mengatakan hal tersebut Nattan beranjak dari duduknya ikut bergabung bersama sahabat-sahabat nya yang lain.


Meninggalkan Septia yang terlihat terkejut dengan ucapan sarkas Nattan, yang menohok.


Tidak menyangka waktu delapan tahun ini merubah sikap hangat dan lembut Nattan menjadi sosok yang terlihat misterius, dingin, dan kaku.


"Kenapa kesini, gue pikir Lo mau reunian lebih lama sama si Septi, atau Lo langsung seret dia ke hotel misalkan." goda Radhika yang membuat Nattan mendengus, menatap kesal kearah sahabatnya yang satu itu.


"Iya Tan, sayang banget kalau dilewatkan, lihat bro bodinya aja aduh!" Bagas menggaruk kepalanya menoleh kearah Septia yang masih duduk termenung diatas sofa.


Entah tidak disadarinya atau memang disengaja, hampir separoh dari kedua bukit kembarnya menyembul dibalik dress yang belahan dadanya cukup rendah, bukan hanya itu, dress yang dikenakan Septia jauh dari kata layak, karena bukan hanya bagian atasnya yang terekpos bebas, tetapi bagian pahanya juga.


Untuk itu tidak sedikit dari pria yang menjadi teman seangkatannya tidak berhenti mencuri pandang kearah Septia yang menurutnya sangat sayang jika dilewatkan.


Berbeda dengan Nattan yang sekalipun tidak berniat memandang kearah Septia, alih-alih melihat gadis yang ramai dibicarakan tersebut justru fokus Nattan kini malah tertuju pada bayangan wajah dingin Anggia yang akhir-akhir ini mulai membuat pikirannya terasa kacau.


*

__ADS_1


*


"


__ADS_2