Terpaksa Menikahi Gadis SMA

Terpaksa Menikahi Gadis SMA
Janji


__ADS_3

"Lagi bikin apa ma?" ujar Nattan, saat melihat sang mama tengah mengaduk sesuatu didalam panci kecil yang berada diatas kompor dengan api menyala.


Mama Indri menoleh, dengan senyum kecil.


"Lagi bikin puding, kangen! udah lama banget kayaknya mama nggak bikin, oh iya Anggia mana?"


"Udah tidur."


"Yaudah biarin, besok kan dia masih harus sekolah."


"Ma_"


"Duduk dulu, ada yang mau mama bicarakan." menunjuk kursi plastik yang ada disamping kulkas.


"Penting?"


"Tunggu aja."


Nattan menurut saja, kemudian pria tersebut mendudukkan diri dengan kedua tangan yang dilipat didepan dada.


"Mama mau ngobrolin apa sih ma." ujar Nattan saat melihat sang mama selesai dengan acara masaknya.


"Kita ngobrol di ruang TV aja."


Keduanya pun berjalan menuju ruang TV, dengan Nattan yang berada dibelakang sang mama.


"Mama mau ngobrol kan, kok malah melamun sih ma?" ujar Nattan saat sang mama hanya menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong.


"Oh iya mama sampai lupa." mama Indri memijat keningnya pelan.


"Mama ngelamunin apa sih?"


"Ini soal Anggia Nat."


"Memangnya dia kenapa?"

__ADS_1


"Kamu mau janji satu hal kan sama mama."


"Janji apa?''


"Janji kalau kamu akan selalu menjadi suami Anggia, menjaga dan mencintai dia selamanya."


"Soal itu Nattan nggak bisa janji ma."


"Nattan!"


"Iya, kalau tetap menjadi suaminya mungkin bisa, tapi kalau untuk mencintai, Nattan nggak yakin dan nggak bisa janji."


"Mungkin belum, mama yakin suatu saat kamu akan jatuh sampai segila-gilanya sama Anggia, mama yakin itu."


"CK, yang benar saja."


"Pegang kata-kata mama."


"Ma_"


Nattan terdiam, fokus mendengarkan, entah mengapa ia mendadak antusias mendengar sang mama yang membahas soal Anggia.


"Sebenarnya mama Anggia masih ada, dan kalau seandainya dia tahu siapa mamanya, mama nggak tahu reaksi seperti apa yang akan Anggia lakukan."


"Mama kenal orangnya?" tanya Nattan, yang mendapat anggukan dari mamanya.


"Siapa?"


"Tante Dinda."


*


Setelah cukup larut, dan mengobrol lama dengan sang mama, Nattan pun memutuskan untuk menyusul Anggia untuk beristirahat dikamar mereka.


Diatas ranjang besar sana, Anggia tengah terlelap yang memperlihatkan wajah tenangnya, gadis itu bahkan tidak merasa terusik sama sekali, saat diam-diam Nattan mengelus pipinya menggunakan punggung tangannya.

__ADS_1


Nattan menyentak napas, setelah mendengar cerita dari sang mama tadi, di sudut hatinya kini tersimpan penyesalan atas sikapnya selama ini terhadap Anggia.


Namun meski begitu ia tidak sepenuhnya merasa bersalah, toh mereka menikah karena terpaksa, pikirnya.


*


"Kenapa Lo, lagi nggak dapat mangsa?" celetuk Arga, saat melihat Radhika hanya diam sembari memainkan kunci mobilnya yang ia letakkan diatas meja.


Sore ini mereka berempat memilih Klub sebagai tempat pertemuan nya, atas keinginan Radhika.


"Bukan nggak dapat mangsa, tapi lagi galau dia, cinta pertamanya di ambil orang." Bagas yang menyahut.


"Lah kenapa Lo harus marah Rad, Lo sendiri kan yang nyuruh dia pergi." lanjut Arga.


"Masalahnya dia masih cinta." sambung Bagas.


"Tapi Lo yakin memangnya kalau dulu itu si Shabira selingkuh."


"Gue udah beberapa kali mergokin dia berduaan sama orang yang sama, Lo pikir bukti itu kurang cukup."


"Tapi waktu itu Sabhira ngelak kan, kalau dia sama cowok itu nggak ada hubungan apa-apa, Lo cuma salah paham." sela Bagas, bagaimanapun dulu ia pernah bertemu Shabira beberapa kali, dan ia yakin Shabira bukanlah gadis seperti yang Radhika tuduhkan.


"Lo mau belain dia Gas, sebenarnya yang sahabat Lo itu gue atau dia sih?" Radhika berujar setengah berteriak.


"Santai bro, bukan begitu maksud gue, gue cuma ngasih pendapat doang karena Lo sahabat gue, tapi kalau menurut Lo itu yang terbaik, gue tetap dukung!"


"CK, jadi kita kesini cuma mau bahas soal mantan Lo Rad, gila! gue pikir badboy model Lo nggak bakalan sampai segalau ini kehilangan cewek." Nattan ikut bersuara.


"Lo nggak tahu aja betapa berartinya si Shabira buat si Radhika Nat, lo ingat kan si Radhika dulu hampir gila." ujar Bagas, sembari memberi isyarat Nattan agar melihat kearah Radhika yang menghabiskan satu botol alkohol hanya dalam beberapa kali tegukan.


"Beneran gila tuh orang."


*


*

__ADS_1


__ADS_2