
"Kamu gugup?" ucap Nattan, seraya menggenggam tangan Anggia mengantarnya menuju sebuah Cafe dimana Dinda sudah lebih dulu berada disana.
Ya, Anggia dan Dinda telah membuat janji untuk bertemu disebuah Cafe, atas permintaan Dinda yang merasa harus segera memberi tahu Anggia siapa dirinya yang sebenarnya.
Ia sudah memikirkan hal ini dengan matang, termasuk memikirkan segala resiko yang akan ia terima setelah Anggia mengetahui siapa dirinya.
"Sedikit mas."
"Relax Anggia, ada aku."
"Makasih mas."
"Sama-sama sayang."
"Ayok!" Nattan kembali menarik tangan Anggia berjalan menuju meja yang ditempati Dinda.
"Selamat sore tante?" ujar Nattan sopan, kemudian menyalaminya dan diikuti oleh Anggia.
"Baik Natt, sangat baik! lalu bagaimana keadaan kalian berdua, baik?"
"Cukup baik tante."
"Syukurlah, Tante senang mendengarnya, ayok silahkan duduk." Dinda mempersilahkan keduanya untuk duduk.
Ketiganya pun mulai memesan makanan yang mereka inginkan, kemudian memakannya dalam keheningan dan penuh ketenangan, walau sebenarnya Dinda dan Anggia hanya memakannya sedikit, karena pikiran mereka sama-sama dipenuhi perasaan cemas.
*
"Nat, boleh tante minta ijin mengobrol dengan Anggia, berdua saja." ujar Dinda setelah melihat Nattan menyelesaikan makannya.
Nattan yang mengerti situasi saat ini pun menganggukan kepalanya dan pamit undur diri, tak lupa sebelum pergi ia mengusap kepala Anggia seolah menenangkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Tante mau ngobrolin soal apa, kok kayaknya penting banget?" ujar Anggia tenang, seolah tidak mengetahui apapun tentang Dinda.
"Maaf!"
"Maaf? maaf untuk apa tante?"
"Anggia_" Bahkan sebelum melanjutkan ucapannya Dinda sudah lebih dulu menangis.
"Tan, tante kenapa?"
__ADS_1
"Tante ini_ tante ibu kandung kamu nak, suka atau tidak, terima atau tidak, tapi itulah kenyataannya, Tante ibu kandung kamu, mama kamu nak.'' ujar Dinda dengan air mata yang mengalir dari kedua pipinya.
Ia bahkan tidak bisa merangkai kata-kata yang lebih pantas yang sudah ia persiapkan sebelumnya,
"Nggak mungkin, Tante jangan bercanda." Anggia menggelengkan kepalanya.
"Nak, tante tidak sedang bercanda."
"Ini nggak mungkin tante."
"Mama minta maaf, walaupun mama tahu kata maaf saja tidak akan cukup untuk menebus semua dosa-dosa mama di masa lalu, kepada kamu dan juga Ayah kamu."
"Saya nggak percaya mama saya masih hidup."
Seketika tangis Dinda terhenti, mengusap kedua matanya yang basah, kemudian menatap lekat wajah Anggia.
"Kenapa Anggia bilang begitu?"
"Karena saya tidak pernah bertemu mama saya selama hampir tujuh belas tahun ini, dan dia juga tidak pernah sekalipun menemui saya, menanyakan bagaimana kabar saya, keadaan saya dan bagaimana kah saya hidup."
Deg!
"Anggia."
"Bagi saya, seorang ibu itu tidak ada."
Deg!
"Anggia, tapi tante benar-benar mama kandung kamu nak, kalau Anggia tidak percaya, kita bisa sama-sama menemui nenek dirumahnya."
''Tidak perlu Tan."
"Kenapa nak?"
"Saya sudah tahu siapa tante, saya juga tahu kalau tante ibu kandung saya."
Deg!
"Lalu?"
"Saya hanya ingin hidup saya seperti biasanya, biasa tanpa seorang ibu, jadi bisakah tante, kita seperti awal lagi yang hanya sebatas saling mengenal saja, karena saya pikir hal itu lebih baik."
__ADS_1
Deg!
"Saya permisi!" Anggia beranjak dari kursi melangkah cepat meninggalkan area Cafe tak mempedulikan Dinda yang beberapa kali memanggil-manggil namanya.
"Anggia?" langkah Anggia terhenti, saat mengetahui seseorang yang berada dihadapannya.
"Mas Nattan?" lirih Anggia yang kemudian berlari dan memeluk Nattan.
"Kenapa menangis hm?" dengan lembut Nattan mengusap rambutnya, dan juga menciumi kepala gadisnya beberapa kali.
"Aku mau pulang mas."
"Oke, kita pulang!"
*
"Udahan nangisnya?" goda Nattan saat melihat istrinya kini baru saja selesai mandi dan sudah mengenakan pakaian gantinya.
"CK." Anggia mencebik menatap kesal kearah suaminya yang justru malah terkekeh geli.
"Mas Nattan ngeselin banget emang ya."
"Tapi sayang kan?"
"Hah?"
"Sayang.''
"S-siapa?"
"Kamu Anggia."
"Nggak."
"Bohong! mata kamu nggak akan bisa bohong Anggia." Nattan beranjak dari sisi ranjang kemudian mendekati Anggia dan berbisik di telinganya.
"I love you."
*
*
__ADS_1