
"Masak apa yang?" ujar Nattan, seraya berdiri dibelakang Anggia yang tengah mengiris beberapa lembar daun bawang.
"Sup ayam." jawab Anggia singkat, membuat Nattan menghela napasnya dengan berat.
"Masih marah ternyata." gumam Nattan, yang masih terdengar jelas oleh Anggia.
"Yang, maafin aku dong, sumpah aku menyesal aku nggak mau lagi membuat kamu marah begini, rasanya nggak enak banget sayang."
Anggia tak menjawab, ia mematikan kompor dan berjalan menuju kamar, tak mempedulikan rengekan Nattan yang terus meminta maaf kepadanya.
Namun tak lama setelah mengecek putranya yang sudah tertidur Anggia kembali dan menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.
"Yang?"
"Hmmm."
"Maaf sayang."
Entah untuk yang keberapa ratus kalinya Anggia mendengar ucapan kata maaf Nattan yang memang terdengar tulus.
"Makan dulu, baru setelah itu kamu boleh bicara." ujar Anggia datar, membuat Nattan langsung menunduk dan menghabiskan makanannya.
Setelah selesai makan, seperti biasa Anggia akan merapikan seluruh meja makan dan mencuci peralatan masak dan beberapa peralatan lainnya, tak lupa Nattan pun turut membantu.
"Yang?" Nattan mengekor dibelakang Anggia yang memasuki kamar mereka dan menyelimuti Zian yang tengah terlelap didalam box bayi.
"Apalagi?"
"Maafin." ucapnya dengan raut penuh permohonan.
"Aku tahu, aku kadang tidak peka dengan apa yang kamu rasakan, aku juga bukan pria romantis, dan suami yang mudah cemburu saat kamu berada jauh dari jangkauan ku."
__ADS_1
"Anggia, sejak aku Menikahi kamu, kamu adalah milikku dan aku lebih baik mati daripada harus berbagi dirimu dengan pria lain, aku sangat mencintaimu, aku marah karena aku tidak mau kehilanganmu." lanjut Nattan dengan kedua mata yang memerah.
"Mas?"
"Aku akan meninggalkan apapun kebiasaan ku yang tidak kamu sukai, merokok, berkumpul dengan teman-temanku, dan pulang terlambat."
"Mas_?"
"Aku akan melakukan segalanya asal kamu tetap berada disampingku sayang, karena untuk apa aku memiliki segalanya tetapi tak memiliki dirimu, semuanya tidak akan ada artinya lagi."
Anggia menubruk dada bidang Nattan kemudian memeluknya dengan sangat erat, tak dapat ia pungkiri ia pun tak bisa jauh-jauh dari Nattan lebih lama lagi, karena Nattan sudah berhasil menyita seluruh hatinya.
*
"Mau ngapain?" ujar Anggia, saat Nattan mulai meraba bagian tubuhnya.
"Tadi_ tadi katanya udah dimaafin, berarti udah boleh kan kalau sekarang_"
"Baru dimaafin kan, bukan berarti boleh_"
Dua Minggu.
Ya, selama dua minggu Anggia mendiamkannya membuat Nattan benar-benar merindukan sebuah kehangatan dari tubuh sang istri.
"Aku tak akan membiarkan mu tidur malam ini." bisik Nattan yang kemudian melancarkan aksinya membuat tubuh mereka menyatu untuk melepaskan kerinduan, dan melupakan semua masalah yang pernah datang menerpa keluarga kecilnya.
*
Tiga bulan berlalu, kini hubungan keduanya semakin membaik, dan Nattan tentu semakin lengket terhadap Anggia, kini Nattan lebih banyak menghabiskan waktunya dirumah bersama keluarga kecilnya, terlebih saat ini sikecil Zian lebih aktif bergerak dan sudah bisa berjalan kesana kemari.
Seperti saat sekarang ini, Nattan meluangkan waktu pulang lebih awal setelah seharian bekerja keras untuk menyelesaikan seluruh pekerjaannya, demi agar bisa bermain bola dengan putra kesayangannya yang semakin hari semakin terlihat ketampanan nya.
__ADS_1
"Zian, tangkap bolanya nak." teriak Nattan yang berada diujung taman yang terletak dihalaman rumahnya.
Zian kecil menurut, meski bocah berumur 14bulan tersebut belum fasih dalam berbicara, namun ia sudah mengerti apapun yang diarahkan oleh sang ayah.
Didepan teras sana Anggia tersenyum menyaksikan keseruan ayah dan anak tersebut yang sesekali tertawa renyah, meskipun tidak tahu apa yang mereka tertawakan.
"Ayok minum dulu sayang, Zian pasti cape kan nak." Anggia menghampiri keduanya memberikan Zian dan Nattan masing-masing segelas jus buah yang baru saja ia buat.
"Acih ma." ujar Zian dengan senyum menggemaskan.
"Sama-sama sayang."
"Yang, kamu sakit? kok pucat gitu sih mukanya?" ujar Nattan saat melihat wajah sang istri lebih dekat.
"Gara-gara kamu." ujar Anggia dengan bibir mengerucut.
"Lho, aku?" Nattan menunjuk dirinya sendiri dan mulai berpikir tentang kesalahan apa yang sudah ia buat hingga mengakibatkan istrinya pucat seperti itu.
"Ini." Anggia menyerahkan sebuah benda tipis dari genggamannya.
"I-ini_" Nattan membulatkan kedua matanya, saat melihat dua garis merah yang begitu nyata di Indra penglihatannya.
"Kamu_ kamu hamil lagi yang?" ia bersorak riang kemudian memeluk Anggia dengan sangat erat.
"Aku bakalan jadi papa lagi, terimakasih sayang." ucapnya kemudian menggendong sikecil Zian dan menciuminya.
"Zian mau punya adek sayang."
Ketiganya pun berpelukan, dan tersenyum bahagia.
TAMAT..
__ADS_1
*
*