
Selama di perjalanan Nattan tidak mengatakan apapun, selain sorot matanya yang tajam menatap lurus kedepan.
Namun begitu sampai dirumahnya, ia menyeret tubuh Anggia tak mempedulikan rengekan gadis tersebut yang meminta dilepaskan.
"Saya bisa jalan sendiri mas." protes Anggia, akan tetapi Nattan seolah menulikan kedua kupingnya, ia terus menyeret paksa tubuh Anggia, terlebih saat itu keadaan rumah sangat sepi hingga membuat Nattan merasa lebih leluasa.
Ia membuka pintu kamarnya kemudian menghempaskan tubuh mungil Anggia keatas kasur dan menindihnya dengan tubuhnya yang besar.
"M-mas?"
"Siapa bocah ingusan tadi?"
"Y-yang mana?" jawab Anggia terbata, bagaimana tidak posisi mereka saat ini benar-benar membuat Anggia gugup setengah mati, terlebih jarak wajah mereka begitu dekat, bahkan Anggia dapat mencium bau mint yang berasal dari napas Nattan yang menyeruak memenuhi rongga hidungnya.
"Cih, ada berapa banyak lagi laki-laki yang dekat dengan kamu selain bocah ingusan kemarin dan bocah tengil yang saya lihat hari ini."
Anggia menggerenyit dengan gelengan kecil, fokusnya kini bukan lagi dengan ucapan sarkas Nattan melainkan semakin gugup karena tubuhnya yang terasa semakin memanas akibat posisi tubuh mereka yang menempel tanpa jarak.
"M-mas?"
"Kenapa,? kamu tidak terima karena tadi saya menghalangi kencan kalian."
__ADS_1
"Kencan? saya tidak kencan, mana ada kencan seperti itu." protes Anggia, padahal jelas-jelas tadi pria itu melihat sendiri bahwa ia tidak hanya duduk berdua dengan Glen, melainkan dengan Dita juga.
"Ternyata selain pintar tebar pesona, kamu juga pintar menyangkal, terkadang saya benar-benar heran sama mama saya yang bisa-bisanya tertipu dengan wajah polos kamu." Nattan tersenyum mengejek.
"Lalu apa lagi?" tanya Anggia membuat Nattan kebingungan.
"A-apa?"
"kalau nggak ada lagi yang perlu dibicarakan, bisakah sekarang mas Nattan menyingkir dari tubuh saya?" ujar Anggia dengan berani, membuat Nattan seketika tersadar dengan posisi mereka, dan bergegas turun dari tubuh istrinya, dengan wajah datar.
Melangkah menuju keluar meninggalkan Anggia yang menghela napas lega dengan kepergiannya.
"CK, dia pikir dia siapa." gerutu Nattan sembari menuruni anak tangga.
"Tenggorokan saya kering bi." Jawab Nattan sekenanya.
"Mau bibi ambilkan minum?"
"Nggak usah, saya ambil sendiri aja."
"Yasudah."
__ADS_1
Nattan membuka pintu kulkas sembari berdecak beberapa kali saat mengingat tingkah bodohnya didepan Anggia tadi, dan tanpa sadar ia mengambil botol minuman tanpa memperhatikan isinya terlebih dahulu.
"Mas itu_ itu kan jus ca_"
"Apa sih bi?" Nattan mengambil gelas kemudian menuangkan minuman berwarna merah tersebut dan meneguknya.
"Ahk....bi ini_ ?" Nattan menyemburkan minuman tersebut dengan mata terbelalak, dan melompat seketika menuju kamar mandi yang terletak didekat dapur.
"Sialan!"
"Mas nggak apa-apa?" ujar bi Narti yang merasa khawatir dengan keadaan anak majikannya yang baru saja meminum jus cabe yang dibuatnya untuk membuat balado telur mercon kesukaan mama Indri.
"CK, menurut bibi dengan bibir saya yang seperti ini apa masih bisa dikatakan baik-baik saja." Nattan menunjuk bibirnya yang sedikit membengkak dengan warna kemerahan.
Setelah mengatakan hal tersebut, Nattan melangkah kembali menaiki tangga menuju kamarnya.
Sementara bi Narti menutup mulut untuk meredam tawanya yang hampir menyembur.
Saat memasuki kamar, dilihatnya Anggia sudah berganti pakaian bahkan wajahnya terlihat lebih segar dari sebelumnya.
Dan ia sama sekali tidak terlihat terganggu dengan kedatangan nya, sibuk dengan ponsel ditangannya yang sedang menyala.
__ADS_1
*
*