
Anggia menghela napas lelah, dengan gerakan perlahan ia membuka pintu kamarnya, langkahnya sempat terhenti saat melihat suaminya yang tengah fokus dengan laptop dipangkuannya diatas ranjang besar mereka.
Namun hal tersebut hanya berlangsung sesaat, sebelum kemudian Anggia memutuskan untuk melanjutkan langkahnya santai menuju lemari, mengambil baju ganti usai ia mandi nanti.
Sudah beberapa hari ini Anggia pulang hampir larut malam, karena ia memiliki tugas kelompok yang di adakan dirumah Glen teman sekelasnya sekaligus salah satu anggota yang sekelompok dengan Anggia.
Tugas yang cukup rumit itu mengharuskan mereka yang berjumlah empat orang harus benar-benar giat dalam mengerjakannya, terlebih tugas tersebut harus dikumpulkan dengan batas waktu yang telah ditentukan.
Hari semakin larut, Nattan yang semula fokus dengan pekerjaannya memutuskan untuk menyudahi dan merebahkan tubuhnya dengan sebelah tangan yang menutupi kedua matanya.
Sementara Anggia masih fokus berbalas pesan chat dengan Dita sahabatnya yang tengah berbahagia lantaran baru saja resmi berpacaran dengan pria idamannya.
Di sisi lain Nattan bergerak gelisah, padahal ia sudah berganti posisi beberapa kali, namun tetap saja kedua matanya urung terpejam, terlebih saat ia melirik kearah Anggia yang tengah tersenyum sendiri didepan layar ponselnya.
Tanpa sadar Nattan berdecak lirih, saat mengingat kapan terakhir Anggia berbicara dengannya.
*
"Tan, Lo masih ingat sama si Septi kan?" seru Bagas sembari menyodorkan ponselnya kearah Nattan yang memperlihatkan wanita cantik berbadan seksii yang tengah berpose menatap kearah depan.
Sore ini sepulang bekerja mereka berempat memilih untuk nongkrong sebentar disalah satu Cafe yang sering mereka datangi.
"Coba gue lihat." Arga merampasnya terlebih dulu sebelum Nattan sempat melihatnya.
"Septia? teman seangkatan kita waktu SMA kan, seriusan nih? gila, gue nggak nyangka dia malah jadi model majalah dewasa begini, ya tapi gue rasa cocok-cocok aja sih, secara dia seksii bro, apalagi buah kembarnya mantep cuy!" Arga tertawa keras, yang langsung mendapat toyoran dari Radhika.
"Disini kok kesannya malah Lo yang playboy sih Ga, mana gantian sini gue mau lihat." Radhika menarik tangan Arga yang tengah memegangi ponsel tersebut.
__ADS_1
"Ini beneran si Septi, CK kalau ini sih kelihatan emang mantep, tapi kalau gue lihat-lihat lebih jelas kayaknya dia udah pengalaman soal ranjang." celetuk Radhika.
"Sok tahu Lo."
"Heh Ga, gini-gini gue yang paling berpengalaman." Radhika menepuk dadanya bangga.
"Percaya aja gue, Lo kan emang penjahat kela min."
"Nah itu tahu, tapi Lo kayaknya harus coba deh_"
Pletakkk... sebungkus rokok mendarat tepat di keningnya.
"Jangan Lo racunin otak sucinya si Arga, maksiat kok ngajak-ngajak CK!"
"Gue kan cuma nyaranin Gas."
"Woy ngomong-ngomong si Nattan nggak dikasih lihat?" Arga kembali merebut ponselnya dari tangan Radhika dan menyodorkannya kearah Nattan.
"CK apaan sih, nggak penting banget." Nattan berdecak lirih, mendorong ponselnya tanpa berminat melihat isinya terlebih dahulu.
"Jangan gitu dong bro, gue tahu Lo dulu sempat punya perasaan spesial kan sama dia."
"Itu cuma masalalu, dan gue rasa dia sendiri nggak bakalan ingat."
"Lo kok bisa seyakin itu sih kalau dia nggak bakalan ingat sama Lo Nat, gimana kalau ternyata Septia kembali ke Indonesia justru karena dia kangen sama Lo."
"Omong kosong!"
__ADS_1
"Jiahhh, dia ngambek!" ketiganya tergelak bersama, tak menghiraukan wajah memerah Nattan yang seperti ingin menelannya hidup-hidup.
"Tan, besok malam Minggu bro, Lo nggak ada niatan buat ikut ke Klub gitu, sekali-kali ikut kenapa sih, Lo nggak harus minum kalau emang nggak suka." ajak Radhika.
"CK Lo kayak yang nggak tahu aja emaknya si Nattan gimana, dia itu udah kayak kelinci yang mendadak jadi singa tahu nggak, kalau sampai tahu anaknya pergi ketempat begituan." Bagas yang menyahut.
"Elahhh, bilang aja nongkrong di Cafe, gampang kan?"
"Dosa Lo bohong sama orang tua." timpal Arga.
"CK, tanpa berbohong ke orang tuapun dosa gue udah banyak kali Ga."
"Makanya jangan Lo tambahin."
"So bijak Lo."
"Dihh ngasih tahu gue, sesama muslim kan harus saling mengingatkan."
"Dia kan muslim KTP doang Ga, mana paham." Bagas kembali menimpali, yang hanya dibalas Radhika dengan kekehan kecil, dari mereka berempat Radhika memang terkenal paling nakal, karena selain hobi minum-minuman pria tersebut hobi bergonta-ganti wanita.
Keluarga yang bercerai berai membuat hidup seorang Radhika Fernando tumbuh menjadi sosok yang melakukan hal-hal semaunya.
Namun meski begitu ketiga sahabatnya tak pernah berniat untuk memusuhi Radhika apalagi meninggalkannya.
"
*
__ADS_1