Terpaksa Menikahi Gadis SMA

Terpaksa Menikahi Gadis SMA
Berdebar


__ADS_3

Nattan menemani Anggia mengerjakan tugas yang harus dikumpulkan besok pagi, bahkan pria itu tak ragu untuk membantu Anggia mengerjakan tugas tersebut.


Setelah menyelesaikan tugasnya mereka saling terdiam, hanya ada kecanggungan yang tercipta diantara keduanya, beberapa kali Nattan melirik kearah Anggia yang terus menundukkan kepalanya sejak beberapa menit yang lalu.


Nattan berdeham pelan, mencoba mencairkan suasana, "Anggia, mari kita mulai semuanya dari awal." ujar Nattan pelan, membuat Anggia menatap kearahnya.


"Saya tahu, sejak awal pernikahan kita, sikap saya terhadap kamu mungkin kurang baik, jadi mulai hari ini saya ingin memperbaiki semuanya."


"Tetaplah menjadi istri saya Anggia, menjadi ibu dari anak-anak saya kelak."


"Anggia, kamu mau kan tetap bertahan disisi saya, membantu saya mengajari banyak hal yang tidak saya tahu."


Deg!


Anggia tertegun, kedua matanya menatap lekat netra tajam milik Nattan yang memancarkan ketulusan didalam sana, namun tersimpan banyak keraguan dalam diri Anggia.


"M-mas, apakah mas Nattan yakin ingin memilih saya?"


"Kenapa tidak, apalagi saya tahu kamu adalah gadis pilihan Mama saya, saya tahu pilihan Mama saya adalah yang terbaik buat saya, terlebih kamu sudah menjadi istri saya."


Anggia menggerenyit, ia merasa seolah berada dalam dunia mimpi saat mendengar pernyataan Nattan yang tentu diluar dugaan, dalam hatinya menyimpan berjuta tanya mengenai sikap perubahan suaminya saat ini.


Apakah saat pulang dari kantor, suaminya mengalami kecelakaan, lalu dia amnesia, atau ia kemasukan jin yang mungkin saja salah sasaran.


Anggia menggeleng pelan, menepis semua yang melintas dalam pikirannya, karena tidak mungkin seseorang mengalami kecelakaan tanpa menimbulkan luka, lalu jin yang ia pikirkan, apakah memang nyata adanya.


Lamunan Anggia buyar, saat Nattan mengibaskan tangannya didepan wajahnya.


"Anggia, apa yang kamu pikirkan?"


"Euhm itu_ apakah mas Nattan merasakan sesuatu, sakit misalkan?"

__ADS_1


"Sakit?" Nattan balik bertanya, "Apakah saya terlihat sedang sakit?"


"Iya, mungkin! saya rasa mas Nattan sedang sakit."


"Saya tidak sakit Anggia."


*


"Anggia tunggu!" Nattan menahan pergelangan tangan Anggia saat gadis itu hendak keluar dari mobilnya.


"Iya mas!" Anggia menatap Nattan serta jam tangannya secara bergantian, lima menit lagi ia harus segera masuk kelas, ia hampir terlambat karena pagi ini mobil yang dikemudikan Nattan mengalami kemacetan yang cukup panjang, akibat terjadinya kecelakaan beruntun yang membuat beberapa kendaraan rusak, dan menunggu mobil derek mengevakuasi seluruh kendaraan tersebut.


Cup!


Nattan menge cup bibir Anggia, dan memagutnya sebentar, "Nanti siang saya jemput." ucapnya seraya mengusap kepala Anggia pelan.


Anggia mengangguk kecil, kemudian keluar dari mobil Nattan dan berjalan menuju kelas dengan hati berdebar.


Ia terkekeh memegangi bibirnya yang basah, "saya ketagihan Anggia."


Tangannya kemudian turun memegang dadanya yang terasa berdebar, beralih kebagian perutnya yang bagaikan dipenuhi jutaan kupu-kupu entah mengapa saat ini ia merasa begitu bahagia.


"Kamu sudah mengacaukan seluruh hati dan pikiran saya Anggia, dan kamu harus bertanggung jawab untuk hal ini, lihat saja saya tidak akan pernah melepaskan kamu, sekalipun kamu memintanya."


*


Nattan mengetuk-ngetukan jarinya tak berirama, berulang kali ia menatap kearah gerbang sekolah yang tak kunjung terbuka.


Ia terkekeh, menertawakan dirinya sendiri yang seantusias itu menjemput Anggia, yang bahkan belum saatnya untuk pulang.


Tepat setelah setengah jam lamanya menunggu, beberapa murid tampak berhamburan, ia tersenyum ketika gadisnya yang ia tunggu-tunggu keluar dan menghampiri mobilnya.

__ADS_1


"Mas, udah lama menunggu?"


"Nggak, baru aja."


Anggia mengangguk, lalu memasuki mobil dan duduk disamping Nattan.


"Kenapa?" cicit Anggia, saat menyadari jika Nattan terus menatapnya, ia merasa hari ini tidak membuat kesalahan sama sekali.


Anggia mengerjap gugup saat Nattan mulai mendekatkan wajah kearahnya.


"Mas!"


"Diamlah." bisiknya, kemudian menarik tengkuk Anggia dan menge cup bibirnya sekilas, hanya sekilas, karena Anggia menahan dadanya.


"Kenapa, kamu menolak saya?"


"I-itu, kita_ kita masih berada disekolah mas." ucapnya gugup.


"Tidak akan ada yang melihatnya Anggia, lagipula kaca mobil ini aman, kita tidak akan terlihat dari luar."


''Tapi mas?"


"Menurutlah Anggia, sebentar saja!"


Anggiapun akhirnya hanya bisa pasrah membiarkan Nattan menciumi dirinya hingga pria tersebut merasa puas.


Bohong, jika sebelumnya ia mengatakan hanya sebentar, karena pada kenyataannya, Nattan melakukannya hingga setengah jam lamanya dan bukan hanya sebuah ciuman yang ia lakukan, namun tangannya pun tak kalah diam, merambat menyentuh hal lainnya.


*


*

__ADS_1


__ADS_2