
"I love you."
Anggia mematung mendengarnya, sungguh hal itu merupakan kalimat ajaib yang tak pernah ia bayangkan akan keluar dari mulut Nattan dengan mudahnya, mengingat bagaimana sikap pria itu terhadapnya selama ini.
Anggia tak pernah berharap bisa mendapatkan cinta dari pria yang bahkan beberapa kali menyakitinya dengan kata-kata kasar maupun dengan sikap ketusnya.
Walau ia akui beberapa hari terakhir ini sikap Nattan begitu berbeda dan lebih lembut dari sebelumnya.
"Jawab dong sayang." Nattan merengek hampir mirip seperti remaja yang baru saja mengatakan cinta dan berharap mendapatkan balasan dengan perasaan yang sama.
"A-aku_"
"Jangan bilang hati kamu masih tertinggal untuk bocah ingusan itu, aku tidak terima Anggia."
"Aku nggak tahu mas!" Anggia melepaskan tautan kedua tangan Nattan yang berada dipinggangnya hingga terlepas.
"Hanya ini, jawaban kamu Anggia, CK!"
"Lalu apa?"
Nattan terlihat frustasi, "setidaknya katakanlah hal yang sama."
"Hal apa?"
"Aku mencintaimu Anggia Aprilia Zahra, kau dengar!" ucap Nattan dengan nada yang sedikit kesal, membuat Anggia tertawa pelan.
"Berani menertawakan suami hm?" Nattan menarik tubuh Anggia kedalam pelukannya, kemudian menciumnya dengan gemas, dan menangkup wajah Anggia menggunakan kedua tangannya.
"Sungguh! aku benar-benar mencintaimu Anggia." bisik Nattan seraya menatapnya lembut, membuat Anggia salah tingkah.
"Mas, apakah mas Nattan sungguh-sungguh?"
"Apa aku terlihat seperti sedang bercanda, aku tidak pernah bermain-main soal cinta Anggia."
Deg!
__ADS_1
"Katakan! apakah kamu memiliki perasaan yang sama denganku?"
"Aku_ aku tidak tahu mas." lirih Anggia.
Nattan tersenyum getir, "jadi hanya aku yang mencintaimu?"
Nattan menunduk dengan helaan napas pelan, dan kembali menatap wajah cantik Anggia.
"Baiklah, itu sama sekali bukan masalah besar bagiku, tapi dengar nyonya Al farez, aku pastikan kau tidak akan pernah bisa terlepas dariku, karena aku bukanlah seseorang yang mudah melepaskan sesuatu yang sudah menjadi milikku." lanjut Nattan dengan tegas.
"Kau mengerti?"
"I-iya."
"Jangan pernah bermain-main dibelakang ku, atau aku akan menghukummu."
"Aku.. aku_"
"Kau takut denganku sayang? percayalah jika sampai kau berani mengkhianatiku maka kamu akan melihat sisi lain dari diriku." bisik Nattan membuat Anggia terdiam kaku dengan napas tercekat.
"Beristirahatlah, aku akan keluar sebentar."
*
"Apa lagi yang kau tangisi sayang?" lirih Nattan, seraya membelai lembut pipi gadisnya.
Tiba-tiba ingatannya kembali pada kejadian tadi sore dimana ia yang menakut-nakuti Anggia dengan kata-kata sarkasnya.
Nattan berpikir, mungkinkah Anggia benar-benar ketakutan, atau ada hal lain yang membuatnya menangis.
Sungguh, Nattan tidak bermaksud membuatnya bersedih, ia hanya ingin agar Anggia menjadi istrinya yang penurut, dan selalu setia hanya kepada dirinya seorang.
Gerakan tangan Nattan terhenti, saat melihat Anggia menggeliat pelan dan dengan perlahan gadis itu membuka kedua matanya.
''Mas Nattan udah pulang?" tanyanya dengan suara serak, khas bangun tidur.
__ADS_1
"Iya, maafin mas ya, pulangnya kemaleman."
"Memangnya mas dari mana, maaf barusan aku ketiduran, habisnya nungguin mas Nattan nggak pulang-pulang."
Nattan membantu Anggia yang hendak duduk, kemudian meraih sebelah tangannya untuk ia genggam.
"Kamu mengkhawatirkan ku sayang?"
Anggia mengangguk.
"Tentu saja, mas Nattan suamiku." balas Anggia yang membuat Nattan memalingkan wajahnya kearah lain dengan senyum yang dikuluum.
Anggia tak tahu saja, bahwa perasaan Nattan saat ini tengah berbunga-bunga, hanya karena mendengar secara langsung jika Anggia sangat mengkhawatirkannya.
Karena bagi Nattan saat ini ia tidak perlu cinta Anggia, yang terpenting gadis itu selalu ada bersamanya.
"Terimakasih sayang."
"Untuk?"
"Untuk semua perhatian mu padaku."
"Mas aku_ aku ingin menunjukkan mas sesuatu, tapi bisakah jika mas Nattan tidak menginginkannya, mas jangan membenciku."
"Soal apa sayang?"
"Mas tunggu disini." Anggia beranjak dari kasur, melangkah menuju meja riasnya.
Namun Nattan yang merasa penasaran pun mengikuti Anggia dari belakang dan mendekatinya, memperhatikan gadisnya yang mengambil sebuah kotak, dan mengeluarkan tiga buah benda tipis berbeda warna dari dalam kotak tersebut.
Dan kedua matanya sontak membulat seketika, saat melihat dengan jelas benda tipis yang masing-masing dari ketiganya memiliki dua garis merah yang sama.
"Sayang_ kamu?" Nattan menatap ketiga benda serta wajah Anggia secara bergantian.
"Iya, aku_ aku positif mas."
__ADS_1
*
*