Terpaksa Menikahi Gadis SMA

Terpaksa Menikahi Gadis SMA
Beruntung


__ADS_3

Anggia menatap kesal wajah suaminya yang justru terlihat bahagia setelah mendapatkan apa yang dia mau.


Berulang kali Anggia mendengus, sembari merapikan seragam sekolahnya yang cukup berantakan akibat ulah Nattan.


"Mas, ini kan bukan arah jalan pulang, kita mau kemana?" ucap Anggia saat menyadari jalan yang dilaluinya bukanlah jalan yang biasa mereka tempuh.


"Semalam tante Dinda mengirimi saya pesan, dia ingin bertemu kamu siang ini."


"Tante Dinda?"


Nattan mengangguk, kemudian terdiam saat mengingat obrolan dengan mamanya beberapa hari yang lalu.


"Anggia?"


"Iya."


"Apa kamu pernah berpikir untuk bertemu dengan ibu kandung kamu?"


"Eummz, saya tidak terlalu berharap."


"Kenapa?"


"Saya sudah terbiasa tanpa dia."


Nattan kembali terdiam, sesekali ia melirik kearah Anggia yang terlihat melamun, hatinya terenyuh membayangkan bagaimana kehidupan seorang Anggia tanpa orang tua disisinya dari sejak ia kecil.


"Kalau seandainya dia masih ada dan ingin bertemu kamu, apa yang akan kamu lakukan?"


Anggia mengangkat kedua bahunya, karena ia memang bingung harus bereaksi seperti apa jika seandainya ia dipertemukan kembali Dengan ibunya suatu hari nanti.


"Saya nggak tahu mas."


*


"Itu dia Tante Dinda." Nattan menarik tangan Anggia menghampiri Dinda yang sudah lebih dulu sampai ditempat yang mereka atur sebelumnya.


"Anggia, apa kabar?" tanpa diduga Dinda beranjak dari kursi yang ia duduki kemudian mendekat kearah Anggia dan memeluknya.


"B-baik Tante." Anggia sempat melirik kearah Nattan, seolah bertanya lewat isyarat mata mengenai apa yang terjadi dengan Dinda yang tiba-tiba memeluknya, diiringi dengan Isak tangis kecil yang lolos dari bibirnya.


"Tante kenapa menangis?" tanya Anggia, begitu Dinda mengurai pelukan dan kembali duduk dikursi yang semula didudukinya.


"Tante_ tante tiba-tiba sedih aja." ucapnya sesenggukan, sembari mengelap sisa-sisa air mata yang menempel dikedua pipinya.


"Tante lagi ada masalah?"


"Iya, tapi masalahnya ada dalam diri tante sendiri, ini tentang penyesalan dari kesalahan-kesalahan fatal tante di masa lalu."


"Tante sudah menyia-nyiakan seseorang yang pernah hadir didalam hidup tante, yang mungkin akan Tante sesali seumur hidup tante."


Anggia tak mampu berkata-kata, karena dia memang tidak mengetahui seperti apa masalah yang dhadapi Dinda, ia hanya mampu menenangkan wanita itu dengan cara menggenggam tangan nya.

__ADS_1


"Oh iya, kalian berdua tidak berniat untuk menunda memiliki momongan kan?" ujar Dinda, membuat Anggia seketika melihat kearah Nattan.


"Euhm, itu_"


"Nggak Tan, kita berdua tidak berniat menundanya, lagipula tiga bulan lagi Anggia lulus sekolah, jadi saya rasa tidak ada masalah, iya kan sayang?" Nattan mengusap punggung tangan Anggia, membuat wajah Anggia merona.


"Aduh lagi-lagi Tante dibikin iri sama kalian berdua, tapi tante percaya Nattan bisa menjadi suami yang baik buat Anggia."


"Iya tante betul, selain baik saya juga tampan kan Tante?"


Dinda tampak terkekeh, "CK, kamu bisa narsis juga ternyata."


*


Setelah bertemu dan makan siang bersama Dinda, siang ini Nattan kembali kekantor dengan membawa serta gadisnya, karena hari ini ia sedang tak ingin berjauhan dengan Anggia.


Tak lupa sebelum memasuki kantor, ia juga membelikan baju ganti untuk Anggia, agar gadis itu dapat lebih leluasa berada disampingnya tanpa mengenakan seragam sekolahnya.


"Mas, saya malu." bisik Anggia, saat menyadari beberapa karyawan Nattan diam-diam melihat kearahnya.


Bagaimana tidak, siang ini bos tampan mereka menggandeng seorang gadis yang terbilang masih sangat imut, dan lebih pantas jika menjadi adiknya.


Namun jika melihat keserasiannya, tentu mereka terlihat sangat serasi karena sama-sama tampan dan cantik.


"Ada saya Anggia."


"Duduklah disini, saya janji tidak akan lama." Nattan menyuruh Anggia duduk disebuah sofa diruangan miliknya hingga dirinya selesai dengan pekerjaannya yang memang tinggal sedikit lagi.


"Anggia kemarilah."


"Iya mas."


"Kemari."


Dengan ragu Anggia pun menghampiri Nattan, dan berdiri disampingnya.


"Duduklah."


Anggia celingukan mencari-cari kursi disekitar sana, membuat Nattan berdecak lirih.


"Apa yang kamu cari, Anggia?"


"S-saya mencari kursi mas!"


"Siapa yang menyuruhmu agar duduk di kursi?"


"Lalu?" Anggia menatap Nattan yang terlihat kesal, sambil berpikir apakah Nattan menyuruhnya untuk duduk dilantai, kalau benar! cepat sekali pria itu berubahnya.


"Apalagi yang kamu pikirkan, gadis bodoh?"


"Mas aku bukan gadis bo_"

__ADS_1


"Duduklah disini." Nattan menepuk-nepuk kedua pahanya, mengisyaratkan agar Anggia duduk diatas pangkuan nya.


"Tapi_"


"CK, lama sekali." dengan tidak sabaran Nattan menarik tangan Anggia hingga tubuhnya melayang dan terduduk dipangkuan Nattan.


"Mas!" pekik Anggia kaget.


"Apa,? kamu ingin memberontak?''


"Ng-nggak mas."


"Bagus! jadilah gadis penurut, saya suka kamu yang penurut Anggia." Nattan menggeser tubuh anggia dengan sedikit memutarnya agar ia dapat berhadapan langsung dengan Anggia yang masih berada diatas pangkuannya.


"Katakan! apa yang kamu lakukan Saat masih berpacaran dengan bocah ingusan itu?"


"Mas dia_"


"Cukup jawab saja Anggia, kamu tidak perlu menyebutkan namanya didepan saya."


"Saya_ saya tidak pernah melakukan apapun mas, saya sama dia hanya bertemu disekolah, dan dijalan saat dia mengantar jemput saya kesekolah."


"Hanya itu?"


"Memangnya harus melakukan apa selain itu?"


"Jadi dia tidak pernah melakukan apa yang saya lakukan terhadap kamu?"


"Iya, dia baik! dan tidak pernah mengucapkan kata-kata kasar terhadap saya."


Nattan mendengus, ia sudah menyadari kesalahannya selama ini, tapi haruskah Anggia mengatakannya lagi, CK!


"Bukan itu maksud saya Anggia, saya yakin kamu juga mengerti arah ucapan saya."


"Nggak."


Dengan sedikit emosi, ia menarik dagu Anggia kemudian mencium gadis tersebut dengan cukup lama.


"Seperti itu, apa kamu pernah melakukannya dengan bocah ingusan itu.?"


Anggia mengerjap gugup, karena jarak wajahnya dengan wajah Nattan kini hanya berjarak beberapa centi saja, bahkan ia dapat merasakan hembusan hangat Nattan yang menerpa wajahnya.


"Jawab Anggia!"


"Euhmz, saya_ saya tidak pernah melakukan apapun termasuk yang barusan mas lakukan." jawab Anggia tergagap.


Sementara Nattan mengulum senyum, karena ia merasa beruntung bahwa ia adalah pria pertama yang mendapatkan segalanya dari Anggia.


*


*

__ADS_1


__ADS_2