Terpaksa Menikahi Gadis SMA

Terpaksa Menikahi Gadis SMA
Extra part 3


__ADS_3

Anggia mematung ditempatnya, sungguh meninggalkan Zian bukanlah pilihan yang mudah baginya, sehari saja tanpanya membuat Anggia hampir hilang kewarasan.


Bahkan seharian ini Anggia menggunakan waktunya untuk berjalan-jalan tanpa arah, hingga tanpa ia sadari langkahnya berada ditempat yang tidak semestinya ia lewati, dan terjadi sebuah hal yang tidak diinginkan dan berakhir dengan dirinya yang terluka.


Anggia adalah seorang ibu, dan ibu mana yang akan tega membiarkan anaknya kehausan dan sangat membutuhkan nya.


Jika pun ada, ia hanya ingin menggaris bawahi, cukup ibunya saja yang pernah melakukannya.


"Anggia, tolong pulang ya, pulang demi anak kita, kamu boleh tidak mempedulikan aku setelah ini, tapi aku mohon pulanglah demi Zian." ujar Nattan yang kini menyusul Anggia keluar.


*


Setibanya dirumah, Anggia langsung berlari menuju kamar mandi, suatu hal yang sudah menjadi kebiasaan Anggia ketika dari luar sebelum menyentuh bayinya ia akan lebih dulu membersihkan diri.


"Yaampun neng akhirnya pulang juga, kasihan sekali siganteng dari tadi nangis mulu, bibi nggak tega, mau dikasih susu formula bibi juga nggak berani." ujar bi Asri.


"Iya bi, Maaf sekali sudah merepotkan bibi." balas Anggia seraya mengambil Zian dari pangkuan bi Asri.


"Nggak apa-apa neng, kalau begitu bibi permisi dulu ya."


"Iya bi, sekali lagi terimakasih ya."


"Sama-sama neng."


"Pulangnya biar saya antar bi." ujar Nattan dari arah luar.


Sementara itu Anggia mulai memberikan ASI nya pada Zian dan menciumi bayi tersebut beberapa kali.

__ADS_1


"Zian laper, haus nak? maafkan mama sayang, mama janji apapun yang terjadi mama akan selalu disamping kamu." ujar Anggia yang dengan ajaibnya dapat membuat tangis Zian terhenti seketika.


Sepulang mengantar bi Asri, Nattan bergegas menuju kamar, ia bernapas dengan lega karena ternyata putranya sudah berhenti menangis, bahkan sudah tertidur.


Nattan menyenderkan tubuhnya di daun pintu, kini hatinya dipenuhi perasaan takut dan khawatir mengenai Anggia.


Ia takut, takut jika Anggia pergi dari hidupnya dengan membawa Zian serta.


Khawatir jika Anggia tak mau memaafkan nya, ia tak bisa membayangkan bagaimana seandainya jika Anggia benar-benar pergi dari hidupnya.


Nattan menunduk, saat Anggia melewati pintu kamar tersebut, dan mendongak saat menyadari jika Anggia masih berdiri disana, tepat dihadapannya.


"Mungkin malam ini aku akan menginap disini, hanya malam ini saja kok, besok aku akan keluar bersama Zian, maaf untuk kata-kata yang kemarin sepertinya aku tarik kembali, karena aku maupun Zian kami saling membutuhkan."


"Anggia_" suara Nattan tercekat di tenggorokan, bahkan tubuhnya mendadak gemetar, ini yang ia takutkan.


"Tidak bisakah tetap disini bersamaku, bersama anak kita, aku tahu aku salah Anggia, tapi Zian juga butuh aku, butuh seorang Ayah, kamu mau menjauhkan dia dari papanya."


"Lalu bagaimana jika aku ingin selalu bertemu denganmu Anggia."


Deg!


"Anggia, apa tidak ada kesempatan untukku, sekali lagi saja." Nattan menjatuhkan tubuhnya berjongkok dihadapan Anggia.


"Apa secepat itu perasaan kamu menghilang Anggia?"


"Ini bukan masalah perasaan yang hilang atau Nggak mas, tapi_"

__ADS_1


"Beri aku kesempatan Anggia, aku akan melakukan apapun yang kamu inginkan."


"Apapun?"


"Ya, apapun."


"Aku rasa tidak ada yang bisa dipertahankan lagi dalam hubungan kita."


"Nggak, Anggia_" Nattan menggeleng cepat, seiring dengan air matanya yang perlahan jatuh mengaliri kedua pipinya.


Dia tidak menginginkan sebuah perpisahan.


"Jika kamu masih marah denganku, kamu boleh tak menyapaku, tapi aku mohon jangan pergi Anggia, tetap disini bersamaku, bersama anak kita, ya!"


"Kamu berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku, yang setara dengan mas Nattan mungkin."


"Nggak, please sayang jangan berbicara seperti itu, aku nggak suka." Nattan berdiri, kemudian memegangi kedua sisi wajah Anggia dan menatapnya.


"Aku hanya mencintaimu Anggia, dan kamu tidak bisa memaksaku untuk mencintai wanita lain, karena itu Nggak akan terjadi."


"Tapi aku bukan_"


"Shhhhttt.. aku minta maaf soal kemarin, aku memang egois Anggia, aku memang tidak punya banyak waktu untuk kamu, tapi aku juga tidak ingin kamu dimiliki siapapun diluar sana, untuk itu kemarin saat kamu pulang malam aku_ aku sangat emosi, dan berpikir jika kamu akan berpaling dengan pria lain, aku nggak rela Anggia."


"Pikiran mu terlalu sempit mas, mana ada waktu buat aku menemui pria lain, sedangkan aku memiliki seorang bayi yang harus aku jaga setiap saat, kecuali saat aku kuliah, dan hal itupun atas paksaan kamu sendiri, kamu yang meminta aku agar kuliah, padahal sejak awal aku tak menginginkan nya, semenjak aku memiliki Zian cita-cita ku sudah berubah, cukup hanya ingin menjadi ibu yang baik untuknya."


"Iya, aku yang salah, mas yang salah Anggia."

__ADS_1


*


*


__ADS_2