
"Nggi, ditungguin suami tuh!" Dita menyenggol lengan Anggia, membuat gadis tersebut refleks menatap kearah depan dimana Nattan sedang berdiri menunggunya didepan mobil.
"Eh sumpah ya Nggi, kalau di lihat-lihat suami Lo emang keren banget ya, udah ganteng, mapan lagi, dan dari bentuk tubuhnya aja kelihatan kalau dia tuh udah dewasa banget.''
"Sayang, dia udah punya Lo." lanjut Dita seraya terkekeh.
"CK, jangan muji-muji cowok lain, ingat yang dirumah."
"Iya, gue selalu ingat kok sama mas Leo, kalau dia sih tetap yang pertama di hati gue, dan selalu menjadi nomor satu tentunya."
"Dasar bucin."
"Biarin."
Dita dan Anggia berpisah digerbang pintu, karena sopir yang biasa menjemput Dita sudah berada disana, sedangkan Anggia sendiri menghampiri Nattan yang berada disebrang jalan.
"Kenapa nungguin diluar mas?"
''Pengen aja."
"Tapi biasanya kan nungguin didalam mobil."
"Itu kan dulu, ayok masuk!" Nattan membukakan pintu mobil untuk Anggia.
"Terimakasih mas."
"Gimana sekolahnya, lancar?" tanya Nattan sembari memasangkan seatbelt untuk Anggia.
"Lancar-lancar aja kok."
"Mas sendiri gimana, kerjanya lancar?"
Nattan tak langsung menjawab, pria tersebut menyenderkan kepalanya di senderan jok mobil, menghela napas pelan, kemudian kembali menatap kearah Anggia.
"Nggak."
"Kenapa? mas Nattan lagi ada masalah?"
__ADS_1
"Iya."
"Apa masalahnya cukup berat, sampai_"
"Ya, masalah ini terlalu berat Anggia, maka dari itu siang ini aku memutuskan untuk tidak kembali kekantor."
"Semoga masalah mas Nattan cepat selesai ya mas." ujar Anggia menyemangati.
"Ini tidak akan selesai dengan mudah Anggia." jawab Nattan seraya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya di rumah, Nattan menyeret Anggia menuju kamar mereka dengan sedikit terburu-buru.
"Kenapa mas?" ucap Anggia saat melihat Nattan mengunci kamar mereka dan melemparnya keatas tempat tidur.
"Apakah kamu tahu masalah terberat ku hari ini?" ujar Nattan seraya menekan bahu Anggia.
Anggia menggeleng, "Nggak."
"Kamu! kamu adalah masalah terberat ku hari ini."
Deg!
"Aku merindukanmu Anggia." bisik Nattan dan menarik tubuh Anggia kedalam pelukannya.
"Aku ingin selalu berada didekatmu." lanjut Nattan, tanpa berniat melepaskan Anggia dari dekapannya.
Hari ini ia memang tidak fokus bekerja, katakanlah Anggia telah mengalihkan dunianya, Nattan yang semula tak mengenal kata tidak profesional kini ia pun harus mengalaminya.
Ia meninggalkan kantor, meninggalkan setumpuk pekerjannya dan membiarkannya terbengkalai begitu saja, hanya agar demi bisa bertemu dengan Anggia dan menjemputnya disekolah.
"Mas?"
"Iya sayang."
Deg!
Anggia mematung, mencerna apa yang baru saja ia dengar, hingga tanpa ia sadari Nattan sudah memagut bibirnya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
__ADS_1
"Anggia, kamu nggak ada niatan buat menemui Tante Dinda?" ujar Nattan begitu pagutan mereka terlepas.
"Nggak."
"Kenapa?"
"Kenapa?" Anggia balik bertanya membuat Nattan menatapnya dengan bingung.
"Kenapa mas Nattan bertanya kalau aku berniat menemui tante Dinda atau Nggak, apakah selama ini mas Nattan tahu sesuatu tentang dia?"
Nattan terlihat gelagapan.
"Euhmz_ gini lho Anggia, kemarin kan kamu bilang kalau ibu kamu tiba-tiba kembali dan kamu baru tahu ternyata dia sahabat mama, itu berarti dia Tante Dinda kan?"
"I-iya_" Anggia menunduk sedih.
"Oh iya mas, menurut mas Nattan aku harus bersikap bagaimana, jujur aku kecewa banget sama dia mas." ucap Anggia jujur.
"Kamu tidak perlu terburu-buru untuk menemuinya akhir-akhir ini, aku tahu kamu butuh waktu." Nattan kembali mendekap Anggia kedalam pelukannya, dan sedikit menarik napasnya dengan penuh kelegaan Karena Anggia tidak bertanya lebih lanjut mengenai dirinya yang sudah mengetahui siapa Dinda.
*
"Mas mau ngapain?" ucap Anggia hampir memekik, saat Nattan merebahkan kepalanya dipangkuan Anggia yang sedang duduk berselonjor diatas kasur.
"Kenapa, memangnya nggak boleh tiduran di pangkuan istri sendiri."
"B-bukan begitu."
"Terus?" dengan santai Nattan menarik tangan Anggia kemudian memainkan dan menciuminya berulang kali.
"Tangan kamu wangi anggia.''
"Perasaan mas aja kali, saya nggak pakai lotion sama sekali lho tadi."
"Masa sih? tapi ini beneran wangi lho yang." Nattan kembali menciuminya beberapa kali, membuat Anggia semakin gugup dibuatnya.
Bukan perlakuan Nattan yang membuatnya gugup, namun karena panggilan sayang yang Nattan ucapkan kepadanya.
__ADS_1
*
*