Terpaksa Menikahi Gadis SMA

Terpaksa Menikahi Gadis SMA
Extra part 2


__ADS_3

Nattan memasuki rumah, dan duduk di sofa yang berada diruang tengah seraya memijat keningnya yang terasa berdenyut.


Ini untuk pertama kalinya mereka bertengkar hebat seperti sekarang, karena biasanya Anggia lebih banyak diam dan mengalah.


Crakkkk...


Salah satu paperbag yang sempat Anggia letakan tadi terjatuh, membuat separuh dari isinya berserakan mengenai lantai.


Nattan berjongkok memungut sesuatu yang tidak lagi asing baginya, sebuah parfum yang biasa ia pakai, dengan merek dan juga warna yg sama, ia baru ingat, jika stok parfum dikamarnya memang sudah habis.


Tiba-tiba ia tertarik untuk mencoba membuka satu persatu paperbag yang lainnya, yang ternyata isinya adalah 70% kebutuhannya, dan sisanya kebutuhan Zian, sama sekali tak ada milik Anggia.


Tubuh Nattan luruh mengenai lantai, seraya menghela napas yang mendadak nyeri, ia menggeleng dan kembali mengacak rambutnya dengan kasar.


Menyesal, tentu saja.


Selama ini ia belum bisa menghilangkan sepenuhnya kebiasaannya yang mudah meledak-ledak dan tak bertanya lebih jauh.


Ia terlalu emosi, saat pulang bekerja Anggia tak berada dirumah, sedangkan pengasuh sementara Zian saat Anggia kuliah telah mengantar Zian pulang kerumahnya.


Sejak Menikahi Anggia Nattan memang lebih giat bekerja, tak jarang ia bekerja hingga larut, karena ia ingin selalu memenuhi sang istri agar tidak merasa kekurangan apapun, mengingat ibu kandung Anggia pernah meninggalkan suaminya demi sebuah kemewahan.


Namun ternyata kini Nattan menyadari, Anggia berbeda dari sang ibu, yang lebih ingin kebersamaan dibandingkan kemewahan yang sepertinya tidak ada artinya bagi Anggia.


Nattan mondar-mandir didalam kamar, sesekali ia melirik Zian yang masih tertidur pulas, bayi tampannya memang lebih dekat dengan Anggia, untuk itu ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika seandainya Anggia benar-benar meninggalkan nya.


*


''Apa kamu bilang, Anggia pergi,? kamu gimana sih Nat, seharusnya kamu bisa mengimbangi Istri kamu, jangan lupa umur kamu itu sepuluh tahun lebih tua dari Anggia, mama tidak mau tahu secepatnya kamu harus membawa Anggia kembali.'' sentak mama Indri melalui sambungan telpon, saat Nattan mengabari jika semalam Anggia pergi dari rumahnya.


Seharian ini Nattan merasa sangat frustasi, ia tidak tahu lagi kemana harus mencari Anggia, terlebih saat Zian menangis, karena stok Asi yang biasa Anggia siapkan didalam freezer pun kini telah habis.


"Cup cup.. sayang, jangan menangis lagi ya nak, secepatnya kita akan menemukan mama." ujar Nattan seraya menciumi putranya yang terus menangis, kemudian menelpon bi Asri, seorang wanita paruh baya yang biasa menjaga Zian saat Anggia kuliah.

__ADS_1


"Kemana aku harus mencarimu sayang, pulanglah! aku minta maaf, aku benar-benar tidak bermaksud menyakitimu, Anggia." ujar Nattan seraya mengemudikan mobilnya menyusuri setiap tempat yang biasa dikunjungi istrinya saat dulu.


Hari semakin sore, bahkan matahari pun hampir tenggelam, namun Nattan tak kunjung menemukannya.


Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pulang terlebih dahulu.


*


Ketika berada dalam perjalanan, Nattan menepikan mobilnya saat melihat ada sebuah kerumunan warga tepatnya didepan sebuah toko matrial besar yang menjual berbagai macam bahan bangunan.


"Ada apa ya pak, rame-rame?" ujar Nattan, bertanya kepada salah satu bapak-bapak yang berada dibelakang yang lainnya.


"Ini mas, ada gadis keserempet motor."


"Seorang gadis pak."


"Ya, sepertinya begitu, masih muda kok, cantik lagi." ujar si bapak yang kembali ikut berkerumun, membuat Nattan merasa penasaran, dan ikut menyeruak kerumunan tersebut.


Deg!


"Anggia." ucap Nattan dengan napas tercekat, dan berjongkok disampingnya.


Wanita yang sejak tadi menunduk itu sontak mendongak, hingga netra keduanya bertemu saling tatap dalam beberapa detik.


"M-mas Nattan."


"Anggia apa yang terjadi, kenapa bisa begini?" tanyanya dengan nada yang penuh kekhawatiran, membuat Anggia melengos memalingkan wajahnya kearah lain.


''Masnya kenal sama gadis ini?" ujar seorang pemuda yang posisinya berada didekat Anggia.


"Iya, lebih dari mengenalnya, dia istri saya."


"Welehh, mas nya ini gimana sih, punya mobil istrinya malah dibiarkan jalan sendirian, mbok ya jadi suami itu punya perasaan sedikit to mas, mas!" celetuk salah satu ibu-ibu berbadan gemuk yang menenteng dua keresek sayuran ditangannya.

__ADS_1


"Iya, saya minta maaf Bu, saya memang salah." balas Nattan.


"Tidak perlu meminta maaf kepada saya, tapi minta maaf sama mbaknya, wong istrinya cantik begitu kok ya dibiarkan sendiri, saya jamin 1000% diluaran sana pasti banyak sekali yang menginginkan mbaknya jadi istri mereka.'' lanjut ibu-ibu tersebut seraya memasang tampang judesnya.


"Sudah-sudah, lebih baik mbaknya cepat dibawa pulang saja mas, atau sekalian diperiksakan supaya kakinya cepat diobati, kasihan kakinya lecet begitu." ujar pemuda tadi mencoba menengahi.


Dengan sigap Nattan pun meraih tubuh Anggia, menggendongnya dan membawanya kedalam mobilnya, tak lupa ia mengucapkan terimakasih kepada warga yang sudah menolong istrinya.


"Kita kerumah sakit ya."


"Nggak perlu." jawab Anggia ketus.


"Tapi luka kamu_"


"Ini hanya luka kecil, dan tidak perlu obat."


"Anggia_"


"Aku bilang tidak, ya tidak.''


Nattan men desah pelan, ia berusaha meredam emosinya, jika ia berkata kasar lagi maka sudah bisa dipastikan Anggia akan pergi meninggalkannya lagi.


"Turunkan aku disini saja."


"Nggak, kita akan pulang sama-sama."


"Turunkan disini, saya bilang." ucap Anggia dengan nada setengah berteriak, membuat Nattan Terpaksa menepikan kembali mobilnya.


"Anggia please, pulang ya! aku minta maaf soal kemarin, aku benar-benar nggak bermaksud seperti itu Anggia."


Anggia menulikan pendengarannya, dan bergegas membuka pintu mobil, hingga ucapan Nattan yang terakhir membuat tubuhnya mematung.


"Zian kehausan, dia butuh kamu."

__ADS_1


*


*


__ADS_2