
"Mas?"
"Kita pulang sekarang!"
"Pulang Anggia!" sentaknya yang terdengar tak ingin dibantah.
Ya, pria yang berdiri dihadapannya tersebut adalah Nattan yang tak lain dan tak bukan adalah suaminya.
Sementara Rafka yang sudah beberapa kali memergoki Nattan yang sering mengantar jemput Anggia ke Sekolah tanpa gadis itu sadari semakin dibuat penasaran dengan sosok Nattan yang kini berdiri berhadapan dengan Anggia yang masih ia anggap sebagai gadisnya.
Dengan segera Rafka beranjak dan tak ragu untuk mendekati Nattan.
"Maaf bang, sebenarnya anda siapanya Anggia, kenapa anda selalu tiba-tiba datang dan mengganggu kebersamaan kami?" ucap Rafka terlihat tenang, namun dengan nada yang penuh penekanan didalamnya.
"Kamu boleh tanyakan siapa saya terhadap Anggia sendiri." Nattan melihat kearah Anggia, yang membuat gadis itu sedikit merinding dibawah tatapannya yang terlihat mengintimidasi.
"Maaf Raf, aku harus segera pulang." pamitnya pada Rafka, tanpa berniat untuk mengenalkan siapa sebenarnya pria dewasa yang berada dihadapannya.
Hal tersebut terpaksa Anggia lakukan, bukan karena ia tak ingin mengenalkan siapa Nattan dan kenyataan bahwa dia adalah suaminya.
Ia akan mengatakannya didepan Rafka, ralat! bukan hanya didepan Rafka, tetapi didepan semua orang bahwa Nattan adalah suaminya.
Tapi jelas itu bukan sekarang waktunya.
Ia tentu memiliki banyak alasan, selain karena statusnya masih seorang pelajar, ia pun masih berusaha dengan menerima kehadirannya yang tiba-tiba.
Sungguh seseorang asing yang tiba-tiba menjadi bagian hidupnya tanpa diduga itu merupakan sesuatu yang membuat Anggia syok, rerlebih ikatan mereka bukan lagi ikatan yang bisa dikatakan hal main-main, mereka kini sepasang suami istri yang sah baik secara agama maupun negara.
Dan ia sudah memikirkan hal tersebut di hari pertama saat ia dinyatakan resmi menjadi istri dari seorang Qhinattan.
__ADS_1
"Ayo mas, kita pulang!" ucapnya pada Nattan tanpa berani menatap kedua matanya yang menyiratkan perasaan kecewa, tanpa gadis itu sadari.
****
Sepulang dari pesta, keduanya tak ada yang memulai pembicaraan, keduanya kembali seperti dua orang asing yang sama-sama tidak mengenali diri mereka masing-masing.
Sikap Nattan yang semula memang dingin, kini semakin dingin membuat Anggia tak berani untuk sekedar bertanya walau hanya satu patah katapun.
Bahkan hari-hari berikutnya lebih parah dari yang Anggia bayangkan, dimana Nattan benar-benar seperti membatasi diri, pria tersebut tak lagi mengantar jemputnya kesekolah, melainkan menyewa jasa sopir untuk Anggia.
Tak hanya itu, bahkan seminggu terakhir ini ia tak pernah melihat Nattan di pagi ataupun malam hari, dimana Nattan memang pulang setelah dirinya tertidur, dan akan bangun disaat dirinya masih berperang dalam mimpinya.
Entah apa yang terjadi, Anggia mulai berpikir apakah dirinya memiliki kesalahan yang tidak termaafkan, atau Nattan marah padanya.
Tapi apa yang membuat Nattan marah, sepertinya ia tidak melakukan sesuatu yang berlebihan bukan? pikirnya dalam hati.
Dan Anggia yakini karena hal tersebut lah yang membuat Nattan jarang berada dirumah, dan seharusnya bukankah Anggia senang? tetapi jawabannya adalah tidak, karena dalam hati kecilnya ada sesuatu yang terasa mengganjal entah apa?
Anggia tersenyum senang menyambut kepulangan mama Indri dan papa Rendra sore ini yang membuat perasaan gundah gulananya sedikit berkurang.
Seperti biasa mama Indri akan banyak berbicara menceritakan banyak hal, kemudian mengajaknya memasak yang juga tak kalah menyenangkan.
"Bagaimana sikap Nattan saat mama tinggal, apakah dia masih seperti tiang listrik yang berdiri kaku, atau masih seperti es batu yang dingin dan tak tersentuh?" ujar mama Indri yang sontak membuat gadis itu menoleh cepat kearahnya.
Memandangi wajah sang mama mertua dari samping, dengan tatapan tak percaya.
Mamanya yang melahirkannya saja bisa berbicara seperti itu untuk menjabarkan bagaimana sikap putranya, lantas bagaimana dengan dirinya yang baru saja mengenal sosok pria tersebut.
Anggia berdeham pelan, tentu ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya tentang sikap Nattan, ia tak ingin membuat Nattan menganggap dirinya seorang gadis yang pengadu dan pandai mencari muka.
__ADS_1
"Mas Nattan baik kok ma."
"Mama rasa akan sulit mama percayai." mama Indri menyisihkan talenan berisi irisan bawang merah yang baru saja diirisnya.
Ia menghela napas, menoleh menatap menantu kesayangannya yang juga tengah menyisihkan sebaskom sayuran yang telah ia cuci bersih.
"Mama ingin bicara." mama Indri berjalan menuju meja makan menggeser kursi kosong untuk ia dan Anggia duduki.
Gadis itu menurut saja, duduk disamping mertuanya tanpa ragu.
"Nak, mama tahu akan sedikit sulit untuk mendapatkan hati yang keras seperti Nattan, tapi percayalah kalau kamu sudah lebih dekat dan mengenalnya, Nattan orangnya baik."
Anggia diam mendengarkan, tanpa berniat untuk menyela ucapan wanita tua yang masih terlihat cantik itu.
"Benar, jika kamu berpikir bahwa semua orang tua akan mengatakan jika anaknya yang paling baik." mama Indri sedikit mengeluarkan kekehan kecil.
"Tapi apa yang mama katakan benar sayang, mama bukan sekedar membela anak mama yang menurut mama punya sisi lain yang lebih baik, kamu akan lebih dari sekedar istimewa bagi dia, jika kamu berhasil merebut hatinya."
"Nattan memang pelit bicara saat bersama orang yang baru dia kenal, tapi percayalah dia akan mendadak seperti ibu pemilik kost yang tengah menagih uang sewa pada para penghuni kostnya." lanjut mama Indri yang membuat Anggia hampir menyemburkan tawanya.
"Jadi mama minta tolong, mama tidak akan bosan untuk meminta tolong pada Anggia agar bersabar dan mencoba mengambil hati Nattan, mama mohon sayang." mama Indri menggenggam sebelah tangan Anggia yang dibalas Anggia dengan balik menggenggamnya.
Anggia tertunduk sebentar, ia sudah pasrah dengan kehidupan barunya kini, tidak ada salahnya mungkin jika ia mencoba untuk mulai membuka hati, meski ia yakin tidak akan mudah.
Namun ia sependapat dengan Nattan, yang hanya ingin mengalami pernikahan hanya satu kali seumur hidupnya.
*
*
__ADS_1