
"Ini beneran?" tanpa ragu Nattan mengambil alih ketiga benda tersebut dari tangan Anggia, kemudian memeluk Anggia dengan tawa yang bercampur tangis.
Berulang kali Nattan mengucap syukur dalam hati karena merasa Tuhan telah begitu baik kepadanya.
Ia diberikan istri yang begitu cantik, dan sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah, ya! menjadi seorang ayah dari anak yang Anggia kandung adalah cita-cita terbesarnya akhir-akhir ini, yang kini menjadi sebuah kenyataan.
"Terimakasih sayang." Nattan menghujaninya dengan banyak ciuman.
"Sejak kapan?" tanya Nattan yang merasa bahwa dirinya seolah telah melewati waktu yang begitu penting yang tidak ia ketahui.
"Aku baru tes tadi sore mas, Karena_ karena semenjak kita melakukan untuk yang pertama kali, aku nggak pernah mendapatkan tamu bulanan ku." ujar Anggia pelan, tentu ia merasa sangat malu jika membahas hal yang berbau ranjang.
"Oke! besok mas libur! kita periksakan dia sama-sama ya." ujar Nattan seraya menyentuh perut rata Anggia.
*
Keesokan paginya Nattan benar-benar menepati janjinya untuk mengantar Anggia memeriksa kandungannya ke sebuah rumah sakit khusus Ibu dan Anak.
Sepanjang pemeriksaan, Nattan selalu berada disamping Anggia, untuk memastikan sendiri bahwa istri dan calon buah hatinya selalu dalam keadaan baik-baik saja.
Bahkan Nattan tak sungkan untuk bertanya kepada sang Dokter mengenai apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan ketika sang istri tengah mengandung.
"Mas kenapa sih senyum-senyum sendiri dari tadi?" ujar Anggia yang merasa gemas dengan tingkah suaminya yang tak biasa.
"Emang nggak boleh yang."
"Aneh aja." gumam Anggia, sembari mengetuk pintu rumah yang pintunya tertutup rapat.
"Lho pada dari mana ini, pergi nggak pamit, udah nggak nganggap mama lagi sekarang?" ujar mama Indri dengan raut wajah kesal yang terlihat dibuat-buat.
__ADS_1
"Nattan sama Anggia baru pulang meriksain cucu mama." Nattan menjawab dengan senyum tertahan.
"Hah?" mama Indri melebarkan kedua matanya menatap Nattan dan Anggia secara bergantian.
"M-maksudnya ini_ cucu, cucu mama yang mana?"
"Coba tebak yang mana?"
"Anggia_ Anggia hamil?" tebak mama Indri yang kemudian memekik girang.
"Iya, percaya kan, kalau Nattan itu orang yang selalu menepati janji, mama bilang mama mau cucu dari Nattan secepatnya kan?"
"Yaampun sayang, jadi beneran?" mama Indri memegangi kedua sisi wajah Anggia dengan senyum haru.
"Iya ma, Anggia positif, dan usia kehamilan Anggia sudah lima Minggu." Jawab Anggia.
"Lho! Nattan nggak keluyuran ma."
"Ketemu teman-teman kamu sampai larut malam, apa namanya kalau bukan keluyuran."
"Itu kan dulu ma."
"Kamu kalau dibilangin ada aja jawabannya ya."
"CK, mama gimana sih! mama nanya ya pasti aku jawab.''
"Nattan hih kamu ini, aduh Anggia pokoknya harus sering-sering bilang amit-amit lho, biar cucu Oma nggak kayak bapaknya, karena bunda jamin kamu bakalan pusing nantinya."
"Yaampun ma, anak sendiri dijelek-jelekkin." protes Nattan dan merangkul sang istri untuk dibawanya kekamar agar ia dapat beristirahat.
__ADS_1
"Bukan menjelekkan, tapi mama berbicara berdasarkan fakta.''
"Udah ah, Nattan sama Anggia kekamar dulu."
"Iya, iya."
"Mas apaan sih ngelihatin mulu?" ujar Anggia dengan wajah merona, bagaimana tidak! sejak keduanya berada didalam kamar, Nattan terus menggenggam tangannya seraya memandangi wajah Anggia tanpa henti.
"Kamu cantik."
Deg!
"Anggia, apakah kamu tahu bahwa aku sangat menyesal karena baru menyadarinya akhir-akhir ini."
"Aku berjanji aku akan berusaha untuk selalu ada disamping kamu, membahagiakan kamu apapun yang terjadi.''
"Mas_"
"Jangan katakan kau tak mencintaiku Anggia, karena aku tak peduli."
"Kamu hanya perlu tetap disampingku bersama-sama membesarkan anak kita."
"Mas yakin tidak perlu cinta?" tanya Anggia, membuat Nattan terdiam seketika, dia hanya manusia biasa pada umumnya, yang juga ingin dicintai oleh orang yang dicintainya.
Dalam hati kecilnya ia pun berharap Anggia memiliki perasaan yang sama seperti dirinya.
*
*
__ADS_1