Terpaksa Menikahi Gadis SMA

Terpaksa Menikahi Gadis SMA
Twins S


__ADS_3

Anggia mengelus perutnya yang masih terlihat rata, di usia kehamilannya yang sudah memasuki bulan ketiga ini ia masih terlihat baik-baik saja, tanpa ada gejala-gejala yang seringkali dialami para ibu hamil pada umumnya.


Anggia tak pernah mengalami mual ataupun mengidam, namun hal itu justru dirasakan oleh Nattan yang akhir-akhir ini lebih banyak berdiam dirumah, karena seringkali pria tersebut merasakan mual-mual dan beberapa kali pingsan karena kekurangan cairan.


Seperti halnya hari ini ia bahkan tak mampu mengantar Anggia kesekolah karena harus bolak-balik masuk kamar mandi.


"Gimana Natt, masih pusing?" tanya mama Indri yang sejak pagi menemani Nattan dan membantunya untuk makan, karena keadaan Nattan benar-benar lemas dan tak berdaya.


"Masih ma."


"Mama suapin ya, kamu harus tetap makan lho Natt, nanti kamu kekurangan cairan, pingsan lagi mau?"


Belum sempat mama Indri menyuapinya makan, Nattan benar-benar sudah lebih dulu pingsan, membuat mama Indri panik bukan kepalang, dan terpaksa menelpon Satria dan Satya karena hanya mereka yang dapat ia hubungi.


*


"Lo sakit apa sih om?" ujar Satria yang kini tengah duduk disisi ranjang pasien yang ditempati Nattan.


Sementara itu Nattan kini terlihat lebih segar, setelah menghabiskan satu botol cairan infus yang masuk kedalam tubuhnya.


"Oma bilang Lo terkena Couvade syndrome_"


"Iya benar! om kalian itu terlalu bucin sama istrinya, makanya jadi begitu, dulu aja nolak sampai ngambek berhari-hari, eh sekarang dia yang tergila-gila lucu kan?" sela mama Indri yang baru saja kembali dari kantin rumah sakit.


"Lho, jadi benar Oma, om Nattan udah nikah?" kini gantian Satya yang bertanya.


"Udah, empat bulan yang lalu."


"Kok kita nggak diundang sih Oma, Oma curang nih."


"Waktu itu mendadak, tapi kalian tenang saja, setelah Istri om kalian lulus, Oma akan langsung mengadakan resepsi, sabar ya, tinggal satu bulan lagi kok."

__ADS_1


"Jadi istri om Nattan masih SMA, wah gila si om, lama menjomblo tahu-tahu malah dapatnya daun muda, salut gue om." Satria menepuk bahu Nattan, membuat pria tersebut mendengus dengan senyum kecil.


"Bagaimana keadaan cicit-cicit Oma, pada sehat kan mereka, Gala, Azzam-Azzura, Zahran-zayyan, Levine-Yasmine, sama Nafisha, Ersya juga?"


"Sehat semua Oma, tapi nambah kali Oma, ada Sakha sekarang." jawab Satya.


"S-sakha?"


"Iya, anak keduaku Oma, baru lahir tiga bulan yang lalu."


"Lho, kok Oma nggak tahu sih Mutia hamil lagi dan tiba-tiba punya anak aja."


"Oma nggak pernah main sih, jadi nggak tahu kan?"


"Kalian berdua tuh, yang nggak pernah datang dan main kerumah Oma, padahal dekat lho sekarang."


"Iya sih, tapi serius Satya sibuk terus Oma."


"Oma bisa aja."


"Ngomong-ngomong nggak nyangka ya, om Nattan ternyata laku juga."


"Ponakan sialan." sahut Nattan yang membuat ketiganya terkekeh, sementara Nattan mendengus, memasang wajah kesalnya.


"Iya benar memang, coba waktu itu Oma nggak bergerak cepat, nggak bakalan nikah-nikah dia sampai sekarang."


"Ma, udah deh."


"Ngambek dia." bisik Oma Indri membuat kedua cucu kembarnya tersebut kembali tertawa.


"Ketawa aja terus, sampai gigi kalian rontok sekalian."

__ADS_1


"Ha..ha.."


"Sialan!" umpat Nattan lagi.


"Jangan dong om, lagi lucu-lucunya begini masa nggak punya gigi, kabur lah bini kita nanti."


"Nggak ada gigi nggak seru om, nggak bisa gigit-gigitan." Satria tergelak, yang kemudian diikuti Satya, sedangkan mama Indri memilih keluar untuk mengabari Anggia yang bisa dipastikan sudah pulang dari sekolah.


"CK, gue juga heran sama bini Lo berdua, mau aja punya suami model kalian berdua."


"Maksudnya modelan gimana nih Om,?"


"Badan krempeng, muka pas-pasan, CK gue yakin sih senjata Lo berdua juga kecil."


"CK, anak gue udah banyak kali om, dan itu udah cukup membuktikan kalau gue itu cukup Perkasa."


"Gue rasa itu nggak cukup."


"Wah, nih orang kayaknya meragukan kegagahan kita berdua deh Sat." Satya menoleh kearah Satria yang bersiap membuka bajunya.


"Eh, Lo_ Lo berdua mau ngapain, buka-buka baju segala?" Nattan tampak panik.


"Lo mau bukti kan Om."


"Gimana, masih mau bilang badan gue krempeng?" Satya membusungkan dadanya yang terlihat bidang tanpa pakaian, kemudian keduanya menantang Nattan agar ikut serta membuka bajunya.


"Sama kan, porsi tubuh kita sama."


"Mau sekalian lihat keperkasaan gue juga?" Satria hendak membuka celananya, namun urung saat Nattan lebih dulu berteriak, bersamaan pintu ruangan tersebut yang terbuka menampilkan sosok sang istri yang membulatkan kedua matanya dengan tubuh membeku.


*

__ADS_1


*


__ADS_2