Terpaksa Menikahi Gadis SMA

Terpaksa Menikahi Gadis SMA
Menangislah


__ADS_3

"Nanti malam Anggia nggak ada acara kan, nak?" ujar mama Indri sembari memakan sarapan miliknya pagi ini.


"Nggak ada ma, kenapa memangnya?"


"Euhmz, jadi begini, papanya si Nattan kan belum pulang dari luar kota, gimana kalau nanti malam Anggia tidur sama mama, mau ya?"


"Boleh ma."


"Nggak bisa!" Nattan menyela.


"Lho, memangnya kenapa? Anggia nggak keberatan kok."


"Tapi aku yang keberatan ma, lagian biasanya juga mama tidur sendiri kan?"


"Apa salahnya sih Nat, kalau sesekali mama mau tidur sama anak perempuan mama, kamu ini_"


"Pokoknya nggak bisa."


"CK, kenapa coba nggak boleh? lagian selama ini kan kamu jarang perhatian sama Anggia, terkesan nggak peduli malah."


"Siapa bilang?"


"Barusan sih, Mama yang bilang."


"Ma,?"


"Asal kamu tahu ya, selama ini mama itu diam-diam memperhatikan kamu, bagaimana sikap kamu keAnggia, dan mama juga yakin kalau sampai saat ini kamu sama sekali belum menyentuh Anggia, iya kan?"


"Mama sok tahu." jawab Nattan, seraya melirik kearah Anggia yang menundukkan wajahnya dengan rona merah.


"Jadi, kalian_"


"Aku pastikan sebentar lagi mama akan mendapat kabar kehadiran cucu mama yang ke 7."


"Hah? kamu_ kamu serius Nat?"


''Kapan aku suka bercanda." ucapnya tanpa rasa malu.


"Anggia, benar yang dikatakan Nattan?" mama Indri beralih menatap Anggia yang terlihat kaget dengan raut wajah yang semakin merona.


"Baiklah, tidak usah dijawab! mama mengerti." mama Indri tampak terkekeh, hatinya begitu bahagia sekarang, karena keinginannya mendapatkan cucu dari Nattan akan segera terwujud.

__ADS_1


"Yasudah mama tidak jadi mengambil Anggia kalau begitu."


*


"Kamu nggak turun?" ujar Nattan melihat kearah istrinya, yang terlihat melamun.


"Sebentar lagi mas, saya mau bicara."


"Soal?" Nattan mengerutkan keningnya.


"M-mas_ mas Nattan kenapa bicara seperti itu sama mama, saya kan malu mas!"


"Seperti itu bagaimana?" Nattan berpura-pura tidak mengerti, padahal jauh dilubuk hatinya ia ingin tertawa melihat kegugupan Anggia saat ini.


"Yang tadi mas bilang ke mama."


"Yang mana, jelasin dong ke saya, soalnya saya rasa pembicaraan saya tadi sama mama cukup banyak lho Anggia."


"CK masa mas lupa sih."


"Saya nggak lupa, tapi saya nggak ngerti kamu sedang berbicara dibagian mana."


Anggia tampak menarik napasnya, kemudian ia menatap kearah Nattan dengan tatapan kesal dan meraih tangan pria tersebut untuk ia salami, suatu kebiasaan yang akhir-akhir ini Anggia lakukan.


"Tunggu Anggia." Nattan menahan tangan Anggia yang hendak membuka pintu mobil.


"Kenapa?" tanya Anggia malas.


"Marah sama saya hmm?" Nattan mengusap lembut pipi Anggia menggunakan punggung tangannya yang besar.


"Jawab saya Anggia."


"Nggak, awas! saya mau keluar." entah suatu keberanian dari mana Anggia menepis tangan Nattan, membuat pria tersebut terkekeh geli.


"Ternyata kamu bisa ngambek juga Anggia, kamu sadar nggak sih kamu terlihat menggemaskan kalau sedang begini."


"Dan mas Nattan terlihat menyebalkan kalau sedang begitu." sahut Anggia dengan wajah datarnya, sementara Nattan semakin tergelak, membuat Anggia mengerutkan keningnya, pasalnya selama menikah dengan Nattan baru kali ini ia melihat suaminya yang lebih banyak senyum dan tertawa.


"Kemarilah!" Nattan menghentikan tawanya, dan merentangkan kedua tangan meminta agar Anggia masuk kedalam pelukannya.


"Jangan membuat saya kesal Anggia, atau saya melarang kamu sekolah hari ini dan menghukum kamu dikamar seharian."

__ADS_1


Deg!


Dengan terpaksa Anggia beringsut mendekat, dan memeluk tubuh suaminya.


"Saya suka kamu yang penurut." Nattan memeluk erat tubuh Anggia, dan mencium bibirnya cukup lama.


"Keluarlah! dan jangan macam-macam dengan laki-laki lain, atau saya patahkan kaki mereka."


Anggia keluar dari mobil Nattan dengan bergidik ngeri, ia merasa saat ini mulai harus berhati-hati dengan suaminya yang terkadang terlihat baik namun juga menyeramkan.


*


"Kenapa tidak kamu katakan saja pada Anggia, dia berhak tahu siapa ibu kandungnya."


"Saya takut mbak, saya takut Anggia membenci saya, setelah apa yang saya lakukan dimasa lalu, saya tidak pantas mengaku sebagai ibu kandungnya."


"Tapi walau bagaimanapun kamu tetap ibunya Din."


"Ada Nattan mbak, saya yakin tanpa sayapun Anggia akan selalu hidup bahagia."


"Din, menurut saya kamu lebih baik jujur dari sekarang, daripada nanti Anggia tahu dari orang lain, bukankah akan lebih menambah kemarahan Anggia."


"Akan saya pikirkan mbak."


*


"Kenapa?" tanya Nattan, membuat Anggia terlonjak kaget, dan menghapus kasar air matanya.


"Mas, saya boleh ikut kekantor mas siang ini?"


Nattan mengangguk setelah ia tak sengaja melihat kearah ruang utama dimana ada Dinda dan sang mama tengah berbicara berdua dengan sangat serius.


Nattan berpikir mungkinkah Anggia mendengar pembicaraan mereka yang mungkin saja membahas tentang hubungan dirinya dengan Dinda yang sebenarnya.


*


Setelah melajukan mobilnya beberapa meter dari rumah, Nattan pun menepikan nya kembali untuk menenangkan Anggia yang kini semakin terisak kuat.


"Menangislah jika itu membuat mu merasa lebih tenang." ucap Nattan seraya menarik tubuh Anggia kedalam pelukannya.


Nattan mengerti, Anggia mungkin saja syok mendengar kabar tersebut.

__ADS_1


Ia tahu selama ini Anggia bukanlah gadis yang suka mengeluh, dan mudah menangis dengan hal biasa.


__ADS_2