
Dinda tak henti-hentinya menatap kesekeliling, dimana tampak beberapa bangunan sudah banyak berubah jauh berbeda dari saat terakhir ia tinggal disana beberapa belas tahun silam.
Bukan semakin indah yang ia lihat, justru sebaliknya, beberapa bangunan yang dulu sempat menjadi bangunan paling tinggi kini sudah mulai roboh di beberapa bagian, bahkan jalanan yang ia lewati tidak lagi mirip seperti jalan pada umumnya.
Beberapa bangunan serta rumah lainnya sudah mirip seperti layaknya bangunan kosong yang sudah lama tak ditempati.
Dinda bahkan kesusahan untuk sekedar melangkahkan kakinya karena tingginya rumput yang tingginya mencapai lututnya.
Tak puas dengan hanya melihatnya dari arah samping saja Dinda pun melanjutkan langkahnya menuju tempat utama yang ingin ia datangi.
Didepan sana, rumah dengan ukuran paling kecil diantara yang lain, yang juga tidak bisa dikatakan bagus, karena rumah tersebut sudah terlihat sangat tidak layak ditempati, beberapa genteng nya mulai berjatuhan, begitupun dengan warna cat yang mulai memudar dan terkelupas dibeberapa bagian.
Sejenak ia mematung, saat kepingan-kepingan masa lalu berseliweran dalam benaknya.
Flashback on..
*
"Din, bisakah kamu memberikan aku kesempatan, sekali lagi saja, demi anak kita." ujar pria berpakaian lusuh dengan keringat yang membasahi sebagian bajunya, bahkan ia tidak sempat untuk mencuci kedua tangan dan kakinya yang dipenuhi lumpur sehabis membajak sawah milik tetangganya.
"Tidak bisa! lihat dirimu mas! kamu bahkan tidak lebih baik dari seorang gembel yang sedang mengemis kepadaku, apakah kamu sadar kamu itu kotor dan menjijikkan, aku malu mas! aku malu memiliki suami seperti kamu." ucap Dinda dengan suara terisak, sungguh ia tak kuat lagi menjalani hidup seperti yang ia rasakan saat ini.
"Tapi Din, bagaimana dengan anak kita, dia masih kecil? meskipun kamu tidak lagi bersamaku setidaknya jangan jauhi Anggi Din, dia masih terlalu kecil untuk hidup tanpa kasih sayang seorang ibu, kumohon Din bertahanlah sebentar lagi saja, setidaknya sampai dia benar-benar sedikit lebih besar Din."
"Sekali aku bilang tidak ya tidak! kamu urus saja dia, bukankah selama ini kamulah yang paling menginginkannya mas, jadi jangan bawa-bawa aku soal dia, dan satu lagi ceraikan aku segera, dan jangan pernah temui aku lagi." lanjut Dinda, membuat wajah lelah pria dihadapannya menunduk pasrah.
"Baik, tanpa kamu minta pun aku rasa kita memang tidak akan bertemu lagi."
"Bagus kalau begitu, urusi surat perceraian kita secepatnya, aku tunggu!" ucapnya sembari menarik koper besar dan berlalu dari tempat tersebut, tak menghiraukan tangisan sikecil yang meronta-ronta dari gendongan sang nenek yang sejak tadi mendengarkan obrolan keduanya dibalik pintu.
Flashback of
__ADS_1
*
Dengan tangan gemetar Dinda mulai mengetuk pintu.
Kedatangannya sekarang mungkin lebih dari kata terlambat, akan tetapi salahkah jika ia ingin menemui putrinya yang sudah lama ia tinggalkan.?
Satu
Dua
Hingga ketiga kalinya ia mengetuk pintu dan mengucapkan salam, tak ada sahutan dari dalam, dan memutuskan untuk bertanya kepada seseorang yang tidak jauh dari rumah tersebut.
"Pak Ishak, benar kan pak Ishak?" ucap Dinda tersenyum ramah kepada pria berumur yang tengah membersihkan angkot dihadapannya.
Pria berumur lima puluh lima tahun tersebut tampak berpikir keras seolah sedang mengingat-ingat wajah asing Dinda.
"Maaf, siapa ya?"
"Dinda yang_"
"Mantan Istri mas Rahman pak." jelas Dinda, sementara pria paruh baya yang biasa di sapa pak Ishak tersebut hanya ber oh saja tanpa berniat untuk balik bertanya, dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Pak, maaf sebelumnya, apakah mas Rahman masih tinggal disini?"
Hening..
"Pak?" ulangnya, saat enggan mendapatkan jawaban dari pria yang bernama Ishak tersebut.
Sejenak pak Ishak terdiam, melemparkan sembarang busa yang digunakan untuk mencuci angkotnya, dan kembali berdiri menghadap Dinda.
"Kamu mau tahu dimana Rahman?" nada suaranya terdengar sedikit ketus.
__ADS_1
"I-iya pak."
"Datanglah ke TPU Keji Beling, maka disana mbak Dinda akan menemukan nya."
Deg!
Untuk sesaat, tubuhnya membeku.
"Apa pak,? TPU Keji Beling? b-bukan kah itu_"
"Ya, Rahman meninggal satu tahun setelah mbak Dinda meninggalkannya."
Deg!
"Nggak mungkin pak_" Dinda menggeleng lemah.
"Rahman terkena kangker paru-paru, karena beberapa tahun sebelumnya dia lebih banyak bekerja di pertambangan emas." jelas pak Ishak, membuat Dinda tertunduk, ia merasa tertampar dengan kenyataan yang begitu menyakitkan.
Dulu, disaat Rahman belum menikahinya Rahman adalah pemuda yang tampan dan terawat, karena dia bekerja sebagai guru yang mengajar di salah satu Sekolah Dasar berkat beasiswa yang ia dapatkan karena kecerdasan dan kegigihannya dalam belajar.
Hingga pada akhirnya Rahman terpaksa keluar, untuk mencari pekerjaan yang lebih menghasilkan banyak uang demi memenuhi tuntutan yang diajukan Dinda kepadanya.
Rahman menawarkan diri kepada beberapa pekerja yang sudah senior dalam pekerjaan sebagai penggali tanah dihutan-hutan yang akan menghasilkan banyak kepingan emas, yang kabarnya sangat memuaskan.
Dan saat itulah, Rahman mulai terjun didunia pertambangan emas, dan berhasil mengumpulkan pundi-pundi rupiah yang membuat Dinda tersenyum bahagia.
Namun, hal tersebut ternyata terjadi hanya sesaat, dan beberapa waktu saja, karena kini penghasilannya semakin menurun, membuat Rahman terpaksa mencari pekerjaan tambahan lain agar tetap memenuhi keinginan dan kebutuhan istrinya.
Rahman bukan pria yang mudah menyerah dengan hal apapun, ia akan melakukan segalanya demi orang terkasih, terlebih saat mengetahui Dinda melahirkan putrinya yang selalu ia harapkan kehadirannya.
*
__ADS_1
"