
"M-mas Nattan mau menginap disini juga, euhmz itu_ tapi disini hanya ada dua kamar mas!" pernyataan bodoh itu keluar begitu saja dari mulut Anggia.
"CK, memangnya harus ada berapa kamar Anggia, kamu lupa kita ini suami istri, bukankah sepasang suami istri itu memang harus berada didalam kamar yang sama."
Deg!
"Euhmz itu_"
"Kamu keberatan jika saya ikut menginap disini."
"Ng-nggak." Anggia menggeleng cepat, ia tentu tidak keberatan, hanya saja ia tiba-tiba mendadak canggung, setelah beberapa jam menangis dalam pelukan pria tersebut yang entah bagaimana pendapat pria itu tentang dirinya kini.
"Jika kamu keberatan saya bisa pulang sekarang Anggia."
"Eh jangan_ kalau mas mau mas boleh menginap disini saja bersama saya." ia tentu tidak tega membiarkan suaminya pulang dalam keadaan hujan deras seperti saat ini.
"M-mas Nattan tunggu disini, saya ganti baju dulu." Anggia mengambil sembarang bajunya yang tersisa didalam lemari lamanya kemudian bergegas memasuki kamar mandi kembali.
"Mas mau mandi juga?" tanyanya begitu ia keluar dari kamar mandi.
"Iya, meski diluar hujan tapi sepertinya badan saya cukup lengket." Nattan mulai membuka satu persatu kancing kemejanya, membuat Anggia buru-buru menghindar dan berlari menuju kamar sang nenek.
"Lho, ada apa?" tanya sang nenek.
"Itu, euhmz_ dulu kalau nggak salah nenek punya kaos laki-laki yang masih baru kan nek?"
"Ada, buat apa?"
"Mas Nattan, dia nggak punya baju ganti."
"Sebentar, nenek ambilkan."
Anggiapun menganggukkan kepalanya.
"Ini, ada tinggal ukuran XL, nenek rasa muat ditubuh suamimu yang besar itu."
__ADS_1
"Terimakasih nek." Anggia mengambil kaos berwarna coklat tua tersebut dari tangan sang nenek dan membawanya kekamar.
"Apa ini?" tanya Nattan saat Anggia mengulurkan kaos tersebut kehadapannya.
"Baju ganti, buat mas Nattan, nggak mungkin kan malam-malam begini mas Nattan pakai kemeja bekas kerja tadi siang."
"Saya rasa malam ini saya tidak memerlukan baju Anggia." ujar Nattan, yang saat ini memang tidak mengenakan baju sama sekali, kecuali handuk biru yang melilit dipinggangnya yang menutupi hingga lutut.
Kening Anggia berkerut, "kenapa?"
Tiba-tiba Nattan menampilkan sebuah senyuman.
Sebuah senyuman yang membuat Anggia bergidik.
"Tanpa bajupun saya tidak akan merasa kedinginan Anggia."
"Ada kamu yang akan menghangatkan tubuh saya malam ini."
Deg!
"Saya tidak akan menjelaskan dengan kata-kata, tapi saya akan memperaktekannya secara langsung."
Duarr..!
Suara petir yang menggelegar membuat Anggia refleks memeluk tubuh kekar Nattan, sementara pria tersebut terkekeh geli dan memanfaatkan kesempatan untuk memeluk tubuh Anggia yang terasa begitu hangat menempel ditubuhnya.
Tersadar dengan apa yang sudah dilakukannya, Anggiapun menarik diri, namun rupanya tidak berhasil, karena Nattan menahannya lebih kuat.
"Mas?" gadis itu mendongak, hingga membuat dua pasang netra mereka bertemu satu sama lain, saling menatap, semakin dalam, dan lebih dalam lagi, hingga tanpa mereka sadari kini bibir mereka telah menempel.
"Mas?"
"Jangan bergerak Anggia." bisik Nattan dan kembali memagut bibir Anggia lebih posesif, dalam, dan menuntut.
Bahkan suara derasnya hujan diluar mampu terkalahkan oleh suara cecapan bibir mereka yang beradu bertukar saliva.
__ADS_1
"Anggia." Nattan menggeram tertahan, saat berhasil mengeluarkan dua buah benda kembar dari tempat persembunyiannya, dan menyesapnya dengan rakus.
Setelah merasa puas, ia menjelajahi yang lainnya, hingga ia bertemu disebuah titik yang membuat ia tak mampu lagi untuk menahannya.
Diatas ranjang yang kecil ia meletakkan tubuh Anggia secara perlahan, dan menarik satu-satunya kain yang tersisa menutupi bagian tubuh bawahnya.
"Mas?"
"Saya akan memperaktekan apa yang saya katakan tadi." bisik Nattan, dan mulai mengarahkan benda pusaka miliknya kearah inti Anggia dengan satu kali hentakan.
Nattan terdiam sebentar, melihat reaksi wajah Anggia untuk memastikan agar gadis itu tak kesakitan seperti saat pertama kali mereka melakukannya.
"Apakah sakit?"
Anggia terdiam, namun sejurus kemudian gadis itu menganggukan kepalanya.
"Lama-lama pasti akan terbiasa, kita hanya perlu melakukan nya lebih sering lagi." ujar Nattan dengan kekehan kecil, dan mulai bergerak pelan, dan kembali mem bungkam mulut Anggia yang mulai mengeluarkan de sahan kecil, karena ia berpikir suara de sahan Anggia akan tembus keluar karena kamar tersebut tidak memiliki kedap suara sama sekali.
Malam itu mereka berdua lalui hingga semalaman penuh, Nattan hanya memberikan Anggia waktu istirahat sebentar dan kembali melanjutkan pergulatan mereka, hingga keduanya sama-sama kelelahan.
Anggia terbangun dengan mata yang terasa perih, karena ia hanya tidur selama satu jam.
"Sudah bangun?'' ujar Nattan dengan kedua mata yang masih terpejam, sedangkan kedua tangan dan kakinya melingkar memeluk tubuh Anggia posesif.
"Anggia?"
"Hmmm."
"Mari kita pacaran?"
"Hah?"
*
*
__ADS_1