Terpaksa Menikahi Gadis SMA

Terpaksa Menikahi Gadis SMA
Bodoh


__ADS_3

Malam ini Anggia berusaha untuk menahan kantuknya menunggu Nattan pulang, karena ia merasa harus meluruskan sesuatu yang membuat pria tersebut salah paham.


Tepat pukul sebelas malam, Anggia mendengar pintu kamarnya terbuka, dan ia dapat menangkap raut wajah Nattan yang terlihat kaget mendapati dirinya yang belum tidur seperti biasa.


Ia beranjak menghampiri Nattan, dan entah memiliki keberanian dari mana hingga ia memutuskan untuk membantu membukakan jas yang saat ini masih melekat rapi ditubuh suaminya.


"Apa yang kamu lakukan Anggia." sentaknya dengan nada tak suka.


"Belajar menyambut kepulangan suami." jawabnya sambil tersenyum, walau dalam hati ia merasakan ketakutan yang luar biasa, dan bersiap-siap jika sewaktu-waktu Nattan akan menendangnya keluar kamar, karena telah melakukan hal bodoh seperti sekarang ini.


"Tidak perlu."


"Apakah Dimata mas Nattan saya terlihat seperti istri yang sangat buruk mas, sepertinya mas Nattan sangat membenci saya."


"Minggir! kamu urusi saja pacar kamu yang ingusan itu."


"Rafka namanya mas."


"Terserah."


"Mas Nattan cemburu?" ucapnya yang lolos begitu saja dari mulutnya, membuat gerakan tangan Nattan yang hendak memasuki kamar mandi terhenti seketika.


"Kamu bilang apa?"


"Mas Nattan cemburu?" ulangnya, masih dengan memasang senyum manisnya yang dibuat-buat, sementara tubuhnya semakin gemetar tak karuan.


"Cemburu kamu bilang,?"

__ADS_1


"Ya." Anggia mengangguk bodoh, membuat Nattan tersenyum miring.


"Dengar Anggia Aprilia Zahra! Saya bisa saja mendapatkan gadis manapun yang saya inginkan, jadi apa kamu pikir saya akan merasa cemburu dengan jenis gadis seperti kamu?" Nattan menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki Anggia seolah menegaskan bahwa gadis tersebut tidak lebih dari kata baik untuk ia gambarkan.


Blaammmm...


Suara debaman pintu yang cukup nyaring dihadapannya beriringan dengan air mata Anggia yang meluncur terjun bebas mengenai kedua pipinya yang putih.


Dengan isakan lirih gadis itu mundur perlahan, hingga tubuhnya mengenai sisi ranjang.


Ia begitu menyesal dengan tingkah bodohnya tadi, tanpa memikirkan resiko yang akan ia dapat, seharusnya ia lebih dari kata sadar diri bahwa pria setampan dan semapan Nattan tidak akan mudah jatuh cinta pada sosok yang lebih pantas disebut gembel seperti dirinya.


*


Keesokan harinya Anggia yang terlihat ceria kini mendadak murung, dan hal tersebut tidak luput dari perhatian mama Indri.


Anggia menggeleng, ia memperlihatkan senyumnya yang mengisyaratkan bahwa dia baik-baik saja.


"Tapi wajah kamu pucat lho, apa sebaiknya hari ini kamu libur aja ya, sekalian di periksain ke Dokter, nanti biar mama suruh Dokternya kesini, gimana?"


"Nggak usah ma, Anggia cuma kurang tidur aja."


"Makanya Nat, kamu itu ya kalau kerja jangan sampai lupa waktu, ingat lho sekarang kamu itu udah punya tanggung jawab, ada istri kamu dirumah yang harus lebih kamu perhatikan." ujar mama Indri membuat pria tersebut menoleh sekilas kearah istrinya.


"Dia udah bisa jaga diri sendiri ma."


"Nattan, kamu ini."

__ADS_1


"Nattan berangkat kerja dulu." Nattan memutuskan untuk lebih dulu menghindar sebelum sang mama lebih banyak lagi menceramahinya seperti biasa.


"Anterin istri kamu sekalian."


"CK dia udah ada sopir sendiri ma."


"Apa salahnya sih berangkat bareng, kamu lupa kemarin aja mobilnya mogok, gimana kalau sekarang hal sama terulang lagi."


"Itu kan kemarin ma."


"Nggak, nggak bisa pokoknya hari ini Anggia berangkat sama kamu."


"Ma_"


"Kamu itu sama istri sendiri aja kok perhitungan sih Nat."


Nattan menghela napas berat, jika berdebat dengan sang mama memang tidak akan ada ujungnya selain ia yang harus mengalah.


"Oke."


Sepanjang perjalanan menuju sekolahnya Anggia lebih banyak diam, lebih tepatnya ia tak berbicara sepatah katapun, dan memilih menyandarkan kepalanya ke jok belakang, kepalanya memang sedikit pusing, selain itu tubuhnya juga merasa lemas sehingga ia tak berminat untuk berbicara terlebih dengan Nattan suami dinginnya.


"Nanti siang kamu akan dijemput sopir." ujar Nattan, yang hanya dibalas anggukan kecil oleh Anggia.


Dan tanpa mengatakan apapun gadis itu beranjak meninggalkan Nattan yang menatapnya dengan tatapan tak terbaca.


*

__ADS_1


*


__ADS_2