Terpaksa Menikahi Gadis SMA

Terpaksa Menikahi Gadis SMA
Pertemuan kedua


__ADS_3

"Emang aku harus ikut juga ma?" protes Nattan dengan raut wajah yang terlihat malas saat sang mama memintanya untuk menemani dirinya dan Anggia untuk datang ke sebuah Restoran lesehan yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggal mereka.


"Harus dong, oh iya kamu masih ingat sama tante Dinda kan Nat?"


"Yang dulu sering main kerumah kita yang di Bandung?"


"Nah itu dia, Tante Dinda yang mengajak kita ketemuan sore ini, tapi dia meminta mama supaya mengajak Anggia lagi."


"Kenapa Anggia?" tanyanya dengan kening berkerut, sembari melirik Anggia yang memasang wajah juteknya seperti biasa.


"Kemarin kan mama memang mengajak Anggia, terus semalam tante Dinda telpon katanya dia pengen ketemu lagi sama Anggia, tapi sekalian kamu disuruh ikut juga."


"Yaudah."


"Iya, yuk berangkat sekarang?"


*


"Din, maaf ya telat! macet tadi." ujar mama Indri begitu tiba ditempat yang mereka tuju.


"Eh nggak kok, baru beberapa menit, santai saja! ayok-ayok silahkan duduk." Dinda mempersilahkan mereka bertiga untuk duduk.


"Apa kabar tante?" Nattan menyalami Dinda dengan sopan.


"Baik Nat, aduh sekarang kamu kelihatan banget udah dewasanya ya."


"Iyalah Din, dua hari lagi umurnya udah pindah angka lho." mama Indri yang menyahut.


"Berapa?"

__ADS_1


"28 tahun."


"28, eh serius mbak?"


"Iya, tua banget kan dia."


"Yaampun nggak kerasa ya."


"Iya, makanya saya itu kesel banget sama ini anak yang nggak sadar sama umur, masa udah segede gitu nggak mau nikah-nikah."


"Yasudah sih mbak, kan sekarang Nattan sudah menikah."


"Tahu tuh mama, lagian aku yang belum nikah mama yang repot."


"CK, ibu mana yang tidak khawatir coba, punya anak sudah mapan, tampan, tapi pacar aja nggak punya, ya jelas jadi pertanyaan besar dong buat mama, mama pikir kamu itu punya kelainan lho Nat__"


"Tuh Din, kamu lihat sendiri kan dia itu kalau dibilangin suka begitu, ngeselin banget kan?"


Dinda terkekeh dengan gelengan kecil, kemudian ia diam-diam memperhatikan wajah Anggia yang entah mengapa seperti seseorang yang tidak asing lagi bagi dirinya, padahal mereka baru dua kali bertemu.


"Anggia, boleh tante minta nomor telepon nya?" ujar Dinda yang seketika membuat suasana berubah menjadi hening, karena ketiganya menatap Dinda dengan raut wajah bingung.


"Euhmz, buat apa Tante?"


"Oh itu buat_ euhm begini Anggia, tante sama mamanya Nattan kan sudah lama berteman, tapi kami sempat hilang kontek selama beberapa tahun ini_ atau begini saja deh diambil lurusnya saja ya, Tante minta nomor ponsel Anggia supaya nanti saat Tante tidak bisa menghubungi mbak Indri, ada Anggia yang bisa Tante hubungi, begitu." ujar Dinda dengan napas tercekat.


"Yasudah, tidak apa-apa sayang, Tante Dinda benar, kalau tante Dinda memiliki nomor Anggia itu sangat membantu mama nantinya." ujar mama Indri, membuat Dinda menghela napas lega.


"Baik ma."

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang Anggiapun menyebutkan nomor ponselnya kepada Dinda.


"Terimakasih Anggia." ucap Dinda tersenyum senang.


"Sama-sama tante."


*


"Ngapain?" seru Nattan, saat menyadari ada Anggia yang ikut berdiri disampingnya memegangi besi yang menjadi pembatas balkon kamar.


"M-mas Nattan mau ulang tahun ya?" tanya Anggia lirih.


"Ya, mungkin!"


"Kok mungkin,?"


"Kata mama sih gitu." Nattan mengangkat bahunya acuh, dan kembali menatap kedepan, memperhatikan kelap-kelip keindahan kota Jakarta saat malam hari, tak mempedulikan wajah cemberut Anggia yang tak suka dengan jawabannya.


"Tanggapan macam apa itu?" gumam Anggia.


Suasana menjadi hening beberapa saat, keduanya tenggelam dengan pikirannya masing-masing, hingga pada akhirnya Anggia tersadar dari lamunannya dan memutuskan untuk kembali masuk kedalam kamar, karena percuma saja ia berdiri disamping Nattan yang hanya diam dengan wajah dinginnya seperti biasa.


"Percuma memang kalau ngomong sama batu, mana nyambung."


"Kamu bilang apa?"


*


*

__ADS_1


__ADS_2