Terpaksa Menikahi Gadis SMA

Terpaksa Menikahi Gadis SMA
Tangis Anggia


__ADS_3

Setelah menyelesaikan seluruh pekerjaannya Nattan menghampiri Anggia yang berada disebuah ruangan yang dulu sering ia gunakan untuk menginap ketika malas pulang.


Ditatapnya wajah Anggia yang tengah terlelap, kedua pipinya nampak di penuhi air mata yang sudah mengering.


mungkin saja gadis itu kelelahan menangis, pikir Nattan.


Tak tega untuk membangunkan, akhirnya Nattan memilih untuk ikut membaringkan tubuhnya disamping Anggia, dan memejamkan kedua matanya.


Pukul 17:13, Anggia terbangun, dan ia tertegun mendapati wajah lelap Nattan yang begitu dekat dengan wajahnya.


"Sudah bangun?" tiba-tiba kedua mata Nattan terbuka, membuat keduanya saling tatap hingga beberapa detik.


''U-udah, maaf mas tadi aku ketiduran."


"Tidak masalah! jadi apa sekarang kamu sudah siap bercerita dengan saya, tapi jika kamu menganggap saya bukan orang yang dapat kamu percaya, kamu tidak perlu bercerita, saya tidak akan memaksa." Nattan hendak beranjak dari ranjang yang semula ia tiduri, namun urung saat Anggia menahan tangannya meminta Nattan agar tetap berada disampingnya.


"Apakah mas Nattan tahu, dulu orang yang paling saya harapkan selalu berada disamping saya adalah dia, seorang ibu."


"Yang akan selalu menemani saya bermain, membacakan saya dongeng setiap malam, mengajari saya banyak hal, lalu menyisir dan menata rambut saya setiap kali saya akan pergi ke sekolah."


"Tapi dia tidak pernah bisa mewujudkan itu semua mas!" lanjut Anggia yang mulai kembali menangis.


"Dia tidak pernah mengharapkan kehadiran saya, dia tidak pernah sekalipun mencari dan menanyakan bagaimana kabar saya, apakah sebegitu tidak berharganya saya dimata dia."


"Lalu sekarang, dia kembali sebagai sahabat Mama, katakan apa yang harus saya lakukan mas,?"


Nattan tak mengatakan apapun, pria itu hanya diam mendengarkan seluruh keluh kesah yang dirasakan oleh Anggia selama ini, sesekali ia mengusap air mata Anggia kemudian memeluknya dengan sangat erat.


Ada rasa nyeri yang tiba-tiba menjalar keseluruh tubuhnya, saat ia mendengar tangis pilu Anggia, yang menggema memenuhi ruangan tersebut.


Hatinya pun kini dipenuhi perasaan sesal yang begitu besar, saat mengingat betapa buruk perlakuannya selama ini terhadap Anggia.

__ADS_1


"Anggia, jangan menangis lagi, ada saya! mulai saat ini saya akan selalu berada disamping kamu, kamu tahu? kamu sangat berharga bagi saya Anggia, dan saya sangat berterima kasih kepada ibu kamu yang telah melahirkan putrinya yang cantik, yang akhirnya menjadi istri saya." ujar Nattan, yang membuat tangis Anggia seketika terhenti, mendongak menatap wajah Nattan yang begitu serius menatapnya.


"Mas_"


"Saya tidak sedang bercanda Anggia, saya sadar selama ini saya sudah banyak salah sama kamu, saya minta maaf Anggia."


"Mas, jangan karena keadaan saya yang begitu menyedihkan, mas Nattan jadi merasa kasihan terhadap saya, mas Nattan tidak perlu seperti itu, saya tidak butuh dikasihani."


"Anggia, saya_"


"Maaf mas, sepertinya malam ini saya tidak bisa ikut mas Nattan pulang, saya mau menginap dirumah nenek saja."


"Anggia please jangan begini, Anggia! kita pulang sama-sama ya."


"Tolong mas, saya ingin menenangkan diri."


Nattan menghela napas, dan berpikir sejenak.


*


"Eh ada cucu-cucu nenek rupanya, kenapa mendadak sekali, nggak bilang-bilang dulu kalau mau datang." ujar nenek Widuri yang menyambut keduanya dengan mata berbinar.


"Aku kangen banget sama nenek, boleh kan kalau malam ini Anggia menginap disini?"


"Boleh-boleh saja, tapi apakah nak Nattan_"


"Saya mengijinkannya nek." sela Nattan.


"Yasudah, kalau begitu ayok masuk, nenek baru saja selesai memasak."


"Nenek masak apa hari ini?" tanya Anggia yang tidak berhenti menggandeng tangan sang nenek hingga tiba di meja makan.

__ADS_1


"Coba lihat, nenek masak apa?" nenek Widuri menunjuk meja makan yang sudah tersedia beberapa menu makanan yang baru selesai ia masak.


"Wah, banyak sekali nek?"


"Nenek tiba-tiba punya firasat kalau cucu nenek bakalan datang, eh ternyata benar! oh iya, nak Nattan ayok ikut makan bareng, belum pernah kan nyobain masakan nenek."


"Memangnya boleh nek?"


"Ya, boleh dong!"


Ketiganya pun mulai makan dengan tenang, sesekali mereka mengobrol hal-hal ringan untuk mencairkan suasana.


"Nak Nattan hujan lho diluar, masih mau pulang juga?" ujar nenek Widuri yang melihat Nattan hendak bersiap untuk pulang.


"Iya nek, saya titip Anggia ya." jawab Nattan seraya tersenyum.


"Nggak menginap disini saja nak, Anggia takut sekali lho sama petir, dia trauma."


"Begitukah nek?"


"Iya."


*


"Lho m-mas, kok ada disini?" tanya Anggia gugup, ketika melihat Nattan tiba-tiba memasuki kamarnya, dalam keadaan dirinya yang hanya mengenakan handuk yang menutupi dada hingga setengah pahanya, Anggia baru saja selesai mandi dan belum sempat mengenakan pakaian nya.


"Saya disuruh nenek menginap disini," tak hanya Anggia, kini Nattan pun menjadi salah tingkah setelah melihat pemandangan dihadapannya.


Sebagian tubuh Anggia terekpos bebas, yang mengingatkannya pada malam dimana tubuh mereka pernah menyatu untuk pertama kalinya.


*

__ADS_1


*


__ADS_2