Terpaksa Menikahi Gadis SMA

Terpaksa Menikahi Gadis SMA
Kesiangan


__ADS_3

Nattan terbangun saat merasakan hangatnya sinar mentari yang menelusup masuk melewati celah jendela kaca kamarnya yang sedikit terbuka.


Ia terkesiap, saat matanya tak sengaja menangkap bayangan jarum jam yang mengarah ke angka jam delapan pagi.


"Sial, gue kesiangan!"


Ia menyibak selimut menurunkan kedua kakinya, kemudian memasuki kamar mandi.


Usai mengganti pakaian ia menuruni anak tangga dengan cepat, menghampiri meja makan dimana sudah ada empat lembar roti yang sudah diberi selai strawberry kesukaannya, serta segelas susu yang sudah dingin.


Nattan yakini Anggialah yang sudah menyiapkannya, namun ia bertanya-tanya kapan gadis itu mendapatkan makanan tersebut, karena seingatnya tadi malam bahan persediaan sudah hampir habis tak bersisa.


Cukup lama ia berperang dengan pikirannya sendiri, hingga jam dipergelangan tangannya mengingatkan nya kembali pada kenyataan, pagi ini ia ada meeting penting dengan beberapa kliennya dari luar negeri.


Tak ingin lagi memikirkan hal lain Nattan pun segera menghabiskan sarapannya, dan bergegas berangkat ke kantornya, tanpa memikirkan keberadaan Anggia saat ini.


*


Tiba dikantor, Nattan menghela napas lega, setidaknya meski ia bangun kesiangan, kliennya baru saja tiba disana, dengan begitu nama baiknya tetap dapat ia pertahankan.


Nattan tak mampu membayangkan jika seandainya ia terlambat kali ini.


Citranya sebagai pengusaha yang konsisten dengan segala hal mungkin saja akan bernilai buruk Dimata mereka.


Setelah selesai meeting yang berjalan lancar seperti biasa, Nattan memasuki ruangannya, kemudian mendudukkan diri diatas kursi kebesarannya.


"Mel, apa jadwal saya siang ini?" ujar Nattan kepada Melissa yang merupakan sekertaris pribadinya dikantor.

__ADS_1


"Tidak ada pak, tetapi nanti malam bapak diharuskan menghadiri acara pernikahan dari putrinya pak Bima yang bertempat di gedung Merpati pak." jelas Melissa.


"Putri pak Bima? ah iya, saya hampir saja melupakannya." Nattan memijat keningnya yang terasa berdenyut, semalam ia memang kurang tidur, karena mengerjakan seluruh pekerjaannya hingga selesai, karena rencananya malam ini ia akan mengajak ketiga sahabatnya untuk berkumpul seperti biasa.


Nyatanya hal tersebut tidak akan terjadi malam ini, karena malam ini ternyata ia sudah memiliki jadwal untuk menghadiri acara resepsi pernikahan putri dari pak Bima yang merupakan salah satu rekan bisnisnya yang terkenal sangat kaya raya, dan tentu bekerja sama dengan baik dengan perusahaannya.


"Ada lagi yang ingin bapak tanyakan?" lanjut Melissa yang sejak tadi masih berdiri menunggu dihadapannya.


"Saya rasa tidak ada, kamu boleh kembali."


"Baik pak, kalau begitu saya permisi."


"Hmmm."


Setelah kepergian Melissa dari ruangannya, Nattan men desah pelan, memikirkan dengan siapa ia harus pergi kepesta itu, ini bukan yang pertama kalinya Nattan menghadiri beberapa pesta rekan bisnisnya datang seorang diri.


Namun, hari ini untuk pertama kalinya ia harus benar-benar memikirkan hal tersebut, mengingat ia pernah dijodohkan dengan Jessy yang merupakan putri pak Bima yang langsung ia tolak mentah-mentah dengan alasan sudah memiliki pasangan yang ia harapkan.


Cukup lama ia berpikir, hingga satu nama muncul dalam benaknya.


"Anggia!"


"Ya, Anggia." ia mengulas senyum tipis, kemudian bergegas mengambil ponselnya yang kemudian ia lemparkan keatas meja.


"CK, gue lupa belum punya nomornya." Nattan bergumam sendiri, merutuki kebodohannya.


*******

__ADS_1


Siang ini suasana hati Anggia sedang tidak baik-baik saja, selain karena ia kepikiran dengan banyaknya kata-kata Nattan yang menyakitkan, ia juga merasa kesepian karena hari ini Dita tidak masuk sekolah dengan alasan menemani neneknya yang sedang dirawat.


Selain itu ia juga dibuat kesal setengah mati oleh Rafka yang terus berusaha membujuknya agar mereka kembali berpacaran.


"Nggi, aku antar pulang ya,?"


Anggia berdecak lirih, bagaimana bisa Rafka yang selama ini ia kenal cool dan menyenangkan itu kini berubah menjadi seorang Rafka yang sangat menyebalkan dimatanya.


Rafka yang semula lembut dan penyabar, kini berubah menjadi Rafka yang pemaksa dan semaunya.


"Maaf Raf, aku bisa pulang sendiri."


"Nggi ayolah, biar aku antar ya."


"Please deh Raf, aku mau pulang sendiri, aku juga nggak mau jika pacar kamu yang sekarang menganggap aku cewek yang nggak tahu malu."


"Aku sama dia udah putus Nggi, aku sadar ternyata aku cuma sayang dan cinta sama kamu."


"Tap_"


"Please Nggi, ikut aku ya."


"Anggia akan pulang bersama saya."


Baik Anggia maupun Rafka seketika menoleh kearah dari mana suara baritone itu berasal.


*

__ADS_1


*


__ADS_2