
"Habis dari mana, jam segini baru pulang?" ujar Nattan dengan raut wajah yang terlihat datar, seraya menenangkan Baby Zian yang sedang menangis dipangkuannya.
"T-tadi mampir sebentar keluar bareng teman-teman." jawab Anggia seraya meletakkan paperbag yang ia bawa keatas sofa.
Lalu mengambil alih Zian dari pangkuan suaminya dan membawanya kedalam kamar.
"Kamu bisa nggak sih kalau pergi-pergi itu kabarin aku, biar aku nggak panik nyariin, kamu nggak tahu dari tadi Zian nangis nggak berhenti-henti." sentak Nattan yang mengekor dibelakangnya.
"Mama cuci tangan dulu ya nak, abis itu Zian nen ya." Anggia meletakkan Zian diatas kasur kemudian beranjak memasuki kamar mandi, dan tak lama ia keluar dengan pakaian yang sudah ia ganti.
"Zian lapar ya nak, sabar ya." Anggia membuka kancing dressnya dan mulai memberikan ASI nya pada Zian, hingga bayi tersebut terdiam seketika, dan tak lama Zianpun tertidur dengan mudahnya.
Anggia dengan perlahan memindahkan Zian ke tempat tidur, dan merapikan kembali kancing bajunya, kemudian berjalan keluar melewati Nattan yang sejak tadi masih berdiri dihadapannya.
"Anggia tunggu, kamu belum menjawab pertanyaan saya." ucap Nattan seraya mencekal pergelangan tangan Anggia.
"Kita bisa obrolin ini di tempat lain kan, Nggak harus disini, kamu nggak lihat Zian baru aja tidur." Anggia menunjuk kearah bayinya, membuat cekalan dipergelangan tangan Anggia mengendur.
"Oke."
"Jadi kita mau bicara Dimana?" ujar Nattan setelah keduanya keluar dari kamar.
"Terserah." jawab Anggia datar, membuat Nattan merasa geram dan memancing kekesalan nya kembali.
"Ikut aku." Nattan menyeret Anggia menuju kamar tamu, dan menguncinya.
"Jadi seharian ini kamu dari mana Anggia, kamu mulai lupa sama tanggung jawab kamu sebagai istri dan juga seorang ibu?"
__ADS_1
Deg!
"Kamu bilang apa barusan mas?"
"Kamu sudah lalai menjadi istri dan juga ibu."
"Atas dasar apa kamu berbicara seperti itu sama aku mas, apa karena hari ini aku terlambat pulang, terus kamu dengan mudahnya menilai buruk aku, begitu?"
"Itu kenyataannya Anggia."
"Kamu nggak lupa kan hari ini aku kuliah."
"Ya."
"Kamu juga nggak lupa kan, hari ini hari peringatan seratus hari wafatnya nenek."
Deg!
Ya, dalam hati Nattan membenarkan perkataan istrinya, hampir dua tahun pernikahannya Anggia memang tidak pernah pulang terlambat, terutama semenjak mereka memutuskan untuk pindah rumah.
"Seharusnya yang marah kekamu itu aku mas, kamu nggak pernah ada waktu untuk kita berdua, karena kamu lebih sibuk dengan pekerjaan dan juga teman-teman kamu."
"Kamu nggak tahu apa saja kebutuhan rumah yang habis, dan aku rasa kamu memang nggak mau tahu."
"Bahkan hari ini pun kamu nggak datang kerumah nenek, padahal aku sudah memberitahumu sejak kemarin-kemarin."
"Bilang sekali lagi kalau aku ini istri dan ibu yang lalai, dan jangan lupa siapa yang memaksa aku agar kuliah."
__ADS_1
"Tapi setidaknya kamu bisa kan mengabariku, kamu tahu diri sedikit dong Anggia."
Deg!
Seketika air mata yang tertahan sejak tadi kini meluncur bebas membasahi kedua pipinya yang memerah menahan amarah.
Hari ini dia lelah, dan kini ia harus dihadapkan dengan masalah rumah tangganya.
"Maaf, sejak awal sepertinya aku memang nggak tahu diri, seharusnya sejak awal aku memberi tahu diriku sendiri bahwa seorang gadis rendahan sepertiku tidak pantas bersanding dengan seorang raja, maaf mas, aku yang salah." Ujar Anggia seraya menghapus kasar air matanya, kemudian berlari menuju kamarnya.
"Anggia_ bukan! bukan itu maksud_" Nattan menahan tangan Anggia yang hendak membuka pintu rumah utamanya.
"Kamu mau kemana Anggia?"
"Ini sudah saatnya aku tahu diri, dan keluar dari rumah ini."
"Anggia, saya nggak suka kamu yang begini, jangan kayak anak kecil dong." sentak Nattan dengan kesal.
"Ya, justru karena mas Nattan tidak suka saya makanya saya tahu diri."
"Anggia please, jangan begini." suara Nattan perlahan melemah.
"Aku titip Zian mas, aku tahu kehidupan Zian akan lebih terjamin saat bersama kamu." ujar Anggia seraya menghapus air matanya, dan berlari meninggalkan rumah tersebut tanpa membawa apapun.
Sementara itu Nattan mengacak rambutnya, ia ingin sekali mengejar Anggia, Namun ia tidak mungkin meninggalkan putranya yang berada didalam kamar seorang diri.
*
__ADS_1
*