
"Nggi, itu bukannya mobil yang nganterin Lo tadi pagi ya,?" Dita menyenggol lengan Anggia seraya menunjuk kearah sebrang dimana ada sebuah mobil yang tentu masih sangat diingatnya itu terparkir cantik disana.
"Gue mau nanya deh Nggi, itu tadi orang yang ngajak Lo berangkat bareng, bapak-bapak, atau ibu-ibu sih?"
"Belum bapak-bapak kali Dit." jawab Anggia santai, namun detik berikutnya ia merapatkan bibir seraya memukulnya beberapa kali.
"Berarti cowok, masih muda?" tebak Dita.
Anggia mengangkat bahu, acuh! dan terlihat seolah tak peduli.
"Nggi, bisa jadi dia jodoh Lo tuh, samperin gih."
"CK ogah males ah."
"Lho, kok gitu sih?"
"Apaan sih Dit, udah ah! gue mau nyari angkot."
"CK ni bocah paling susah emang kalau dikasih tahu." gerutu Dita, bersamaan dengan seorang pria bersetelan jas keluar dari mobil mewahnya yang refleks membuat Dita menarik tangan Anggia hingga gadis itu menoleh dengan tatapan kesal.
"Aduh Dit, kenapa sih?"
"Itu, itu Nggi, yaampun!" Dita menepuk-nepuk tangan Anggia dengan tatapan lurus kedepan.
"Apaan sih, muka Lo kayak lagi ngelihat se*tan aja."
"Sumpah Nggi, itu_ itu cowok cakep banget, keren parah!" ucap Dita, yang membuat Anggia sontak mengikuti arah pandang sahabatnya.
Deg!
Seketika ia mematung, karena untuk pertama kalinya ia bersitatap dengan manik tajam Nattan seperti saat sekarang ini, karena sebelumnya untuk sekedar melirikpun ia tak memiliki keberanian.
"Nggi, dia ngelihatin kita berdua bukan sih?" Dita tampak tersenyum malu-malu dan merapikan anak rambutnya yang sedikit berantakan.
"Gue_ gue kesana dulu bentar ya Dit."
"Maksud Lo nemuin dia, si tampan itu? ikut dong Nggi." pintanya dengan rengekan manja yang terdengar dibuat-buat.
"Sorry Dit, kayaknya nggak bisa deh, gue ada sedikit masalah soalnya sama dia.''
"Masalah?"
__ADS_1
"Iya."
"Gue cabut duluan ya." Anggia sedikit berlari menyebrangi jalan dan menghampiri Nattan yang berdiri didepan pintu mobil dengan kedua tangan bersidakep.
"M-mas?"
"Kamu bisa lebih cepat kan kalau keluar, supaya saya nggak perlu menunggu kamu sampai lima belas menit seperti sekarang, saya sangat sibuk kalau kamu mau tahu." ucap Nattan, membuat Anggia terperangah, sementara Nattan kembali memasuki mobilnya dengan gelengan kecil.
"Sampai kapan kamu mau berdiri disana?" sentaknya, yang membuat Anggia refleks membuka pintu mobil.
"Kamu pikir saya sopir kamu, sampai harus duduk dibelakang.?"
Deg!
Lagi lagi salah.
"I-iya mas maaf!" Anggia pun kembali menutup pintu mobil belakang dan beralih membuka pintu mobil bagian depan, kemudian memilih duduk disamping Nattan.
Selama diperjalanan keduanya saling diam, tidak ada yang mau memulai obrolan sama sekali, Anggia sibuk dengan pikirannya sendiri, begitupun dengan Nattan yang fokus mengendalikan kemudi.
"M-mas Nattan kenapa jemput saya kesekolah segala?" ucap Anggia pada akhirnya, setelah berhasil mengumpulkan keberaniannya.
Nattan tampak memicingkan mata, "menurut kamu?"
"CK, seharusnya kalau kamu sudah tahu jawabannya, nggak perlu harus bertanya lagi sama saya kan?"
"Maaf mas!"
"Mulai sekarang, saya disuruh mengantar dan menjemput kamu kesekolah."
"I-iya mas."
"Kamu pasti senang kan, karena sudah berhasil merebut hati mama saya."
"Ng-nggak, sama sekali nggak mas, saya_"
"Kamu sengaja kan, nggak menolak tawaran mama saya, karena keluarga saya kaya."
Deg!
Anggia mengeratkan tangannya memegangi sisi rok sekolahnya menahan kekesalan atas ucapan Nattan yang membuat hatinya terluka.
__ADS_1
"Kenapa diam, jadi yang saya ucapkan barusan itu benar kan, kalau kamu_"
"Maaf mas! tapi apa yang mas Nattan bilang itu salah, saya sama sekali tidak berniat menikah dengan mas Nattan karena kekayaan yang keluarga mas miliki, seperti yang mas tahu, saya juga terpaksa menerima pernikahan ini."
"Halahhh.. lagu lama."
"Mas_"
"Kita sudah sampai." potong Nattan, benar saja pria tersebut kini menepikan mobilnya disebuah parkiran Restoran besar yang selama ini Anggia kenal hanya namanya saja.
Sebagai gadis yang berasal dari keluarga yang tidak punya, tempat seperti ini bukanlah tempatnya, karena selain tidak memiliki uang yang cukup, ia juga merasa tidak pantas berada ditempat tersebut.
"Mama sudah menunggu didalam." ucapnya singkat, dan berjalan terlebih dahulu, membuat Anggia mau tidak mau terpaksa mengikutinya.
"Nah itu dia Nattan udah datang, Anggia sini sayang." mama Indri menyambutnya hangat, dengan diiringi senyum penuh kebahagiaan.
"Ini lho jeng, menantu saya, gimana cantik kan?" mama Indri memperkenalkan Anggia pada wanita tua seumuran dengannya yang kini tengah duduk anggun diatas kursi yang berada disebelahnya.
"Wah iya jeng cantik! cantik sekali, eh tapi ini beneran istrinya Nattan, masih SMA?" wanita yang biasa di sapa jeng Mella tersebut menatap Anggia dari ujung rambut hingga ujung kakinya.
"Ah iya dia masih SMA, tapi soal itu bisa diatur dikitlah, lagian tinggal beberapa bulan lagi menantu saya lulus kok, iya kan Anggia sayang?"
"I-iya ma."
"Dulu si Rizal anak pertama saya menikahi perempuan yang seumuran dengannya, dan yang pasti dia sudah memiliki pekerjaan tetap, katanya supaya tidak terlalu membebani suami nantinya." ujar jeng Mella yang terdengar angkuh, membuat mama Indri langsung memasang senyum terbaiknya.
"Menurut saya pribadi begini ya jeng, istri yang mau bekerja itu boleh-boleh saja, benar seperti yang jeng bilang barusan, kalau istri bekerja dapat meringankan beban suami."
"Tetapi sebaliknya kalau suaminya tidak mengizinkan bekerja, bagaimana? lalu, saat suaminya berpikir bahwa pekerjaan nya belum menghasilkan uang yang cukup untuk menghidupi dan membahagiakan istrinya, bagaimana? apa menurut jeng Mella si suami tersebut tidak merasa malu karena terkesan tidak mampu mencukupi seluruh kebutuhan istrinya, sampai istrinya harus ikut bekerja segala."
"Ya jelas beda dong, mereka bekerja karena sama-sama sukses!"
"Tapi bagi saya seorang Istri itu lebih pantas berada dirumah dan diratukan oleh suaminya, ya kecuali jika suaminya berpaling kepada wanita lain." lanjut mama Indri seolah menceritakan kisah masalalunya sendiri.
Sementara Jeng Mella terlihat tak suka dengan pembahasan kali ini, ia pun berpamitan untuk pulang dengan alasan ingin menjenguk saudaranya yang tengah sakit.
"Eh kok pada diem sih, ayo pada pesan makanan temenin mama." mama Indri memecah keheningan diantara sepasang insan yang tengah bergelut dengan pikirannya masing-masing.
"Iya ma." jawab keduanya bersamaan.
Membuat mama Indri diam-diam mengulum senyum, berbeda dengan Nattan yang berdecak lirih, sementara Anggia memilih untuk menundukkan kepalanya.
__ADS_1
*
*