
Disebuah ruangan dengan lampu temaram, seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik diusianya yang memasuki kepala empat, tengah menatap sebuah foto dihadapannya dengan tatapan kosong, pikirannya menerawang jauh mengingat kembali masa-masa yang telah berlalu selama belasan tahun silam.
Pertemuan dengan gadis yang berstatus sebagai menantu dari sahabatnya tadi pagi membuat ia dipenuhi rasa penasaran sekaligus gelisah diwaktu yang bersamaan.
Terlebih saat mengingat mata bulat jernih milik gadis tersebut, yang mengingatkannya pada seseorang yang telah hadir dari bagian hidupnya di masa lalu.
Gerakan tangan wanita yang memiliki nama lengkap Yeni Adinda Sasmita itu terhenti saat terdengar sebuah ketukan dan suara seseorang memanggilnya di depan pintu kamar.
Dengan langkah pelan ia beranjak menghampiri wanita muda yang berstatus sebagai asisten rumah tangganya yang sudah menemani Dinda dari sejak tiga tahun terakhir ini.
"Kenapa Ran,?" tanyanya, begitu melihat Rani sudah menyembulkan kepalanya disana.
"Ini Bu, barusan pak Wahid mengantar ini buat ibu, tapi bukan pak Wahid sih yang mengantarkan, tapi anaknya." wanita berumur dua puluh dua tahun tersebut menyengir, seraya menggaruk tengkuknya.
"Kamu ini, yasudah! terimakasih ya Ran." ujar Dinda setelah menerima amplop coklat besar yang diberikan Rani.
"Sama-sama Bu."
"Oh iya Ran, malam ini kamu tidak perlu memasakan saya makanan, soalnya saya ada acara diluar."
"Baik Bu."
Dinda kembali duduk ditempatnya semula, yaitu di kursi kecil yang berada didepan meja riasnya, sebelum kemudian membuka amplop coklat yang berisi beberapa lembar dokumen yang bertuliskan pemindahan kepemilikan beberapa aset dan saham yang berubah menjadi atas nama dirinya.
Tidak ada raut senang, ataupun bahagia yang terpancar dari wajah Dinda, wanita itu justru malah melemparnya keatas nakas tanpa minat.
__ADS_1
Karena ia menganggap hal tersebut bukanlah hal yang berarti.
Dulu, dulu sekali ia pernah hampir gila karena memikirkan kehidupan nya yang susah dan jauh dari kata cukup, hingga membuat ia memutuskan untuk meninggalkan suami dan anaknya, merantau mencari pria kaya untuk dijadikan suami barunya.
Namun setelah ia mendapatkan semuanya, rupanya semua itu tak menjamin bahwa ia akan merasa bahagia karena pada kenyataannya ia merasa kehidupannya begitu hampa, terlebih saat ia gagal melahirkan kembali seorang anak.
Dinda tiga kali hamil dan ketiga janinnya mengalami keguguran, yang disebabkan kondisi kandungannya yang sangat lemah, meski ia sudah berusaha menjaganya sebaik mungkin.
Untuk itu, pernikahan keduanya dengan Andreas Aditama yang berjalan selama tiga belas tahun ini tidak memiliki keturunan sama sekali, karena sampai pria itu meninggal pun Dinda tak kunjung hamil kembali.
*
"Dari mana kamu?" ucap Nattan ketus, begitu melihat istrinya yang berpakaian rapih melewatinya begitu saja.
Anggia sempat menghentikan langkahnya, melirik sang suami yang menyender di tembok dengan kedua tangan yang dilipat didepan dada.
Anggia terlihat menarik napas dalam, dan membuangnya melalui mulut, malam ini ia baru saja pulang dari rumah sang nenek untuk mengantar obatnya yang telah habis dari beberapa hari yang lalu.
Dan malam ini ia sangat malas jika harus berdebat dengan suaminya, terlebih seharian ini Nattan juga berada diluar dan dirinya tidak mempermasalahkan hal itu.
"Rumah nenek." jawab Anggia singkat, kemudian gadis itu menyimpan tas selempang miliknya dan meraih handuk.
"Anggia tunggu, dengarkan saya bicara dulu, bisa kan kamu menghargai saya sedikit saja sebagai suami kamu."
Deg!
__ADS_1
"Sepertinya selama ini sikap saya sama kamu itu terlalu lembek, jadi mulai hari ini saya akan membuat peraturan baru yang harus kamu patuhi."
"Terserah mas Nattan saja." jawabnya seraya memutar bola mata malas.
"Ok, kalau begitu dengarkan saya, dan peraturan ini akan berlaku mulai besok, camkan itu."
"Pertama, mulai besok saya yang akan kembali mengantar jemput kamu sekolah."
"Kedua, saat kamu mau keluar, kamu harus meminta izin terlebih dulu sama saya."
"Ketiga, saya melarang kamu berteman dengan laki-laki manapun."
"Hah?" Anggia melebarkan kedua matanya, mungkin peraturan pertama dan kedua ia bisa saja memaklumi, tapi untuk yang ketiga itu ia merasa peraturan tersebut tak masuk akal sama sekali.
"Anggia kamu masih dapat mendengar ucapan saya kan?"
"Hmmm."
"Patuhi semuanya dengan baik, kalau tidak_"
"Kalau tidak?"
"Saya akan berikan kamu hukuman yang tidak akan pernah bisa kamu lupakan."
"Oh iya,?" ujar Anggia terlihat menantang walau dengan hati berdebar, terlebih saat melihat Nattan tersenyum menyeringai.
__ADS_1
*
*