
Satu jam.
Sudah satu jam lamanya Dinda mondar-mandir didalam kamar, memikirkan satu hal yang terus mengganggu pikirannya saat ini.
Anggia Aprilia Zahra.
Satu nama yang tentu masih melekat dalam ingatan, meski telah terlewati selama belasan tahun.
Mungkinkah gadis itu orang yang sama?
Mungkinkah itu adalah alasan ia hingga merasa sudah sangat mengenal lama gadis itu, padahal mereka baru beberapa kali bertemu.
Tak henti-hentinya Dinda bertanya pada dirinya sendiri mengenai sosok Anggia si pemilik mata bulat dengan sorot jernih yang menghanyutkan, setiap kali ia memandangnya.
"CK, kalau hanya diam dan tidak melakukan sesuatu seperti ini, mana bisa aku menemukan titik terangnya." gerutu Dinda pada dirinya sendiri.
"Ya, sepertinya besok aku harus kesana." lanjutnya saat mengingat sebuah tempat yang pernah menjadi tempat tinggalnya di masa lalu, tempat dimana ia meninggalkan kehidupan damainya demi sebuah kemewahan yang bahkan tidak membuatnya cukup bahagia.
Dinda memang bisa saja menanyakan banyak hal tentang Anggia pada mama Indri, namun ia juga harus mempertimbangkan banyak hal lainnya yang mungkin saja malah akan membuatnya jauh dari gadis tersebut.
*
"Sepertinya hari ini Nattan pulangnya agak malaman nak, atau bisa jadi nggak pulang katanya, jadi lebih baik kamu beristirahat dan tidak perlu menunggunya." ujar mama Indri saat melihat Anggia masih berada diruang TV menunggu kepulangan Nattan dengan kue tart yang ada dipangkuannya.
"Begitu ya ma." balas Anggia, ada raut kecewa yang terpancar dari wajahnya, namun ia berusaha untuk menutupinya dengan senyuman.
"Tidak apa-apa, masih banyak waktu kok, sudah! gih cepetan istirahat, masih harus sekolah kan besok?" ucap mama Indri seolah merasakan apa yang tengah dirasakan menantu kesayangan nya itu.
__ADS_1
"Iya ma." Anggia berpamitan pada mama Indri kemudian memasuki kamarnya dan meletakkan kue tart tersebut diatas nakas yang berada disamping tempat tidur.
Beberapa menit berlalu, namun Anggia urung memejamkan mata, sesekali melirik kearah jam dinding dengan jarumnya yang mulai bergerak kearah angka dua belas, yang menandakan bahwa di jam tersebut, umur Nattan sudah berpindah menjadi dua puluh delapan, sesuai dengan lilin yang menancap di atas kue tart yang ia buat.
Anggia bergerak gelisah memikirkan bagaimana dan dimana kini suaminya, tentu saat ini pikirannya tidak baik-baik saja, bagaimana tidak! sudah selarut ini suaminya belum juga pulang, terlebih Nattan memang jarang pulang hingga selarut ini.
Beberapa waktu lalu, Nattan memang pernah pulang malam, tapi tidak separah sekarang.
Anggia menarik napas dalam, bagaimana pun rasa khawatir itu semakin hari semakin menumpuk dalam dirinya.
Meski keduanya jarang berinteraksi dengan baik, namun beberapa waktu kebersamaan nya dengan sang suami, membuat ia merasa bahwa kini Nattan merupakan bagian dari dirinya, tak peduli dengan perasaan mereka yang mungkin sama-sama tak memiliki rasa satu sama lain.
Ia tak bisa menyangkal akan status mereka sebagai sepasang suami istri.
Anggia menyandarkan kepalanya di papan ranjang, lagi-lagi ia melirik kearah jam dinding yang kini mengarah ke angka pukul satu dini hari.
Hingga tatapannya teralihkan pada handle pintu kamar yang bergerak, dan menampilkan sosok tampan sang suami yang menyembul dibalik pintu.
"Belum tidur?" ujar Nattan seraya menutup kembali pintu kamar, dan berusaha berbicara dengan nada yang senormal mungkin.
"B-belum." jawab Anggia pelan, membuat dahi Nattan berkerut bingung.
"Kenapa?"
"Umm .." Anggia beranjak dari kasur, menyalakan lilin diatas tart kemudian membawanya kehadapan Nattan.
"Selamat ulang tahun mas." Anggia mengulum senyum malu, kemudian meminta agar Nattan segera meniup lilin tersebut.
__ADS_1
"Jangan lupa make a wish." lanjutnya saat pipi Nattan mulai menggembung bersiap hendak meniup lilin tersebut.
"CK."
Senyum Anggia semakin mengembang, saat melihat suaminya mulai menutup kedua mata dengan mulut bergerak pelan seperti seseorang yang tengah merapalkan doa, kemudian kedua mata itu terbuka kembali dan meniup kedua lilin dengan angka dua puluh delapan tahun itu hingga padam.
Melihat Anggia yang masih mengembangkan senyumnya, tanpa Nattan sadari ia pun ikut tersenyum, namun sedetik kemudian senyum itu hilang tergantikan dengan wajah ketusnya seperti biasa, dan berlalu memasuki kamar mandi, membuat Anggia mematung dan berdecak kesal.
"Dasar makhluk jelmaan tembok! benar-benar ya, nggak tahu apa ya aku susah payah membuat kue ini, bahkan sampai nggak tidur demi memastikan dia pulang dengan keadaan selamat! lalu apa balasannya, jangankan berterimakasih CK." gerutu Anggia dengan bibir mengerucut.
Anggia memandangi tart tersebut dengan tatapan nanar, ia merutuki pikiran bodohnya yang mengharapkan jika Nattan akan senang dengan kejutan sederhana yang ia buat, ia bahkan sudah membayangkan jika Nattan akan memberikan potongan kue pertama untuk dirinya.
Anggia merebahkan tubuhnya dengan senyuman getir, rasa lelah dan kantuk tiba-tiba menyerang, dan tanpa sadar ia pun tertidur.
Sementara itu Nattan sengaja berlama-lama berada didalam kamar mandi, untuk menghindari senyum manis Anggia, bagaimanapun ia mungkin saja akan luluh, dan kalah dengan egonya.
Setelah setengah jam berada dikamar mandi, Nattan pun memutuskan untuk keluar, selain karena kedinginan, ia pun merasa lelah dan mulai mengantuk.
Begitu ia keluar, hal pertama kali yang ia lihat adalah wajah Anggia yang tampak damai, dan sialnya ia tak mau berhenti menatapnya.
*
*
Mohon maaf readers tercinta, Author jarang sekali up, ingin rasanya up beberapa kali dalam sehari, tapi apalah daya kesibukan di RL menjadi penghambat nya.
Terimakasih yang selalu setia menunggu, big love buat kalian 😘❤️
__ADS_1
*
*