Terpaksa Menikahi Perjaka Tua

Terpaksa Menikahi Perjaka Tua
Lift Macet


__ADS_3

Kenisha yang melihat ekspresi risih dari David merasa kecewa.


Harusnya dia menenangkan aku bukan malah bersikap angkuh, batin Kenisha.


Kenisha yang merasa sakit hati melepaskan pegangan tangannya lalu berdiri tegak meski ia ketakutan.


Bram!


“Akhh!!!” Kenisha tanpa sengaja memeluk David karena lift tiba-tiba berdentum lalu berhenti sebelum mencapai lantai 6.


“Tenang sedikit, ini hanya macet biasa,” ucap David.


“Ta-tapi tuan, bagaimana kalau tali lift ini putus dan kita jatuh ke bawah?” perkataan Kenisha membuat David tertawa.


“Itu tidak mungkin terjadi, karena ini adalah mall terbaik, kau pikir membangun gedung ini sembarangan apa?” kemudian David melepas kedua tangan Kensiha yang memeluknya erat.


Brum!


“Akhhh!” Kenisha semakin histeris karena lift itu bergerak ke bawah lalu berhenti lagi.


Lututnya yang kecil pun bergetar, tangannya makin kuat memeluk calon suami.


“Aku takut tuan.” David yang merasa ada yang tak beres langsung menelpon manager mall yang kebetulan adalah sahabatnya sendiri.


Halo, Erwin, 📲 David.


Halo, ada apa Vid? 📲 Erwin.


Kirimkan tim mu ke lift yang ada di sisi barat mall, kami terjebak sebelum sampai ke lantai 6, 📲 David.


Baik, hati-hati kami akan segera kesana, 📲 Erwin.


Cepatlah atau wanita yang ada di hadapan ku akan pingsan disini, 📲 David.


Siap! 📲 Erwin.


Setelah panggilan telepon terputus Erwin menghubungi kepala satpam dan juga teknisi mall itu ke lift yang di katakan oleh David.


Sementara David yang masih di peluk oleh Kenisha tak tahu harus berbuat apa.


Sebab ia yang mencoba membebaskan diri harus terkendala oleh tenaga ketakutan calon istrinya.


“Kenisha, kita akan selamat jadi tolong lepaskan aku.” pinta David yang tak merasa nyaman.


“Enggak mau, aku takut tuan.” Kenisha tetap tak mengindahkan apa yang David katakan.


Kasihan juga dia, seharusnya aku menenangkannya, batin David.


Kemudian David membalas membalas pelukan Kenisha.


Klontang klontang...

__ADS_1


Suara berisik terdengar dari luar pintu lift yang mereka gunakan.


Tak!


Tal lama pintu lift pun terbuka secara manual oleh tenaga profesional yang di bawa Erwin.


Melihat itu Kenisha menghela nafas panjang, ia pikir dirinya akan terjebak selamanya disana.


lalu ia pun melepas pelukannya dari calon suaminya.


Erwin yang melihat pemandangan itu tak tahu harus berkomentar apa.


Sebab David yang selama ini ia kenal dingin dan menyandang status jomblo setelah putus dari Ruby tiba-tiba saja memeluk seorang wanita yang sedang berderai air mata.


Setelah pintu lift terbuka lebar dan bisa di lewati oleh orang dewasa, Kenisha dan David pun keluar dari dari sana.


“Terima kasih banyak.” ucap David kepada semua orang yang telah membantu mereka bebas dari lift macet itu.


“Maaf atas insiden yang telah kalian alami, kedepannya kami akan berusaha untuk lebih baik lagi.” Erwin selaku manajer mall itu merasa bersalah atas apa yang menimpa sahabatnya.


“Tidak apa-apa, santai saja, kalau begitu kami permisi dulu ya, karena si kecil ini sudah sangat lapar.” David menggenggam tangan Kenisha di hadapan Erwin.


David sengaja melakukan itu karena ia ingin Erwin menceritakannya pada Ruby sang mantan kekasih.


Ruby dan Erwin adalah sahabat dekat jadi David sudah dapat menebak apapun yang ia lakukan akan di laporkan Erwin pada gadis cantik yang telah meninggalkannya.


“Oh ya, baiklah.” Erwin tersenyum seraya menyimpan tanda tanya dalam hatinya.


Kemudian David melangkahkan kakinya seraya tetap menggenggam tangan calon istrinya.


Kasar sekali tangannya, batin David.


David tak mengerti apa saja yang telah di lalui Kenisha sehingga telapak tangan calon istrinya begitu tidak enak untuk di sentuh.


Kenisha yang berjalan di belakang David menatap tubuh pria dingin itu.


Sekarang kami akan lewat mana? batin Kenisha.


Ternyata David membawa istrinya untuk menaiki eskalator.


Kenisha yang belum pernah menginjakkan kakinya di tangga otomatis itu merasa sedikit takut pasalnya ia cemas jika dirinya akan jatuh.


“Lihat caraku menapakkan kaki, tolong perhatikan dengan benar jangan membuat aku malu.” ternyata David tahu jika calon istrinya tak bisa menaiki tangga berjalan itu.


“I-iya tuan.” Kenisha mengganggukan kepalanya.


Kemudian David meletakkan kakinya yang baru muncul, seiring dengan itu Kenisha juga melakukan hal yang sama.


Beruntungnya Kenisha mendarat dengan mulus. Ia pun tersenyum karena kali itu dia tak membuat suaminya kesal.


David yang melihat keberhasilan Kenisha merasa lega karena ia tak perlu mengajari calon istrinya lagi.

__ADS_1


Kemudian tangga itu pun mengantar mereka sampai ke lantai 6, Kenisha melihat banyak restoran berderet lurus di sana.


Di antaranya ada restoran Jepang, Chinese Amerika, Korea, local dan ragam lainnya.


“Kau mau makan apa?” tanya David.


“Pecel ayam tuan.” Kenisha memesan itu karena ia sudah lama menginginkannya.


“Baiklah.” meski David tak menyukai ayam namun ia yang ingin mengobati air mata calon istrinya terpaksa mengalah.


Ia pun membawa Kenisha ke restoran yang bernama saung Nusantara.


Di mana restoran itu menyajikan berbagai masakan tradisional yang ada di Indonesia.


Kenisha yang baru masuk ke restoran tersebut merasa senang sebab tempat itu sangat bersih, kursi dan meja tertata rapi, di dinding banyak di pajang foto sepasang muda mudi memakai baju adat setiap daerah yang ada di Indonesia.


“Kita duduk di sana saja.” mata David menunjuk ke arah kursi yang di sebelahnya adalah jendela.


“Iya tuan.” Kenisha yang di traktir hanya mengikuti apa yang dikatakan calon suami.


Mereka pulang menuju tempat duduk yang telah di pilih oleh David.


Sesampainya di sana Kenisha pun dapat melihat pemandangan jalan tol yang dapat di lihat dari jendela.


Perlahan Kenisha mendaratkan bokongnya di kursi.


Saat David akan duduk di hadapan Kenisha tanpa sengaja ia melihat sang mantan kekasih masuk ke restoran itu.


“Ruby.” gumam David tanpa sadar.


Kenisha yang mendengar pun menoleh ke belakangnya karena penasaran.


Lalu ia pun melihat seorang gadis cantik bertubuh semampai, kulit putih, hidung mancung rambut blonde lurus sepinggang, datang ke arah mereka.


Ternyata Ruby melihat David juga, gadis cantik itu pun melempar senyum kepada mantan kekasih yang sempat berjanji untuk menikah dengannya.


David yang menerima perlakuan itu mengalihkan pandangannya lalu ia pun duduk di kursinya


“Kau ada di sini juga?” sapa Ruby dengan lembut.


“Iya.” sahut David dengan singkat.


“Siapa gadis cantik ini? Apa dia keponakan mu?” tanya Ruby tanpa memiliki maksud lain.


“Aku calon istrinya.” jawab Kenisha sebelum David angkat bicara.


“A-apa?” Ruby tersentak sebab ia tak menyangka kalau mantan kekasihnya akhirnya mendapat penggantinya.


“Itu benar, lusa kami akan segera menikah, datang ya.” David yang tak punya topik pembicaraan terpaksa mengambil mantan kekasihnya ke pernikahannya.


“Tentu saja, aku pasti datang walau tak ada kertas undangan yang diberikan kepada ku.” merasa sedikit sesak karena akhirnya sang mantan kekasih akan melepas masa lajangnya.

__ADS_1


__ADS_2